Langkahku berlari di lorong gedung yang sepi karena mata pelajaran tiap kelas sudah dimulai seharusnya. Karena terlalu tergopoh tanpa melihat-lihat, aku hampir menabrak Pak Hamiz yang baru saja keluar dari ruang guru. Aku mengenalnya sebagai guru Matematika Fadli yang sering mengantar Fadli pulang jika anakku kenapa-napa saat berada di sekolah. “Bu Aini? Kenapa Anda di sini?” Tanyanya dengan wajah gelisah sambil menyentuh kedua bahuku. Tadi dia menyanggahnya, karena aku hampir jatuh. “Kelas Fadli dimana, Pak?” Aku bertanya dengan tatapan memelas. Sebelumnya aku sudah memastikan mobil Mas Eli ada di parkiran, yang berarti lelaki itu benar-benar datang ke sini untuk menemui Fadli. “D-di sana, memangnya kenapa?” Pak Hamiz mengarahkan tangannya ke sebuah lorong. Aku mengangguk berterimaka

