Fano keluar kelas meninggalkan sekolah, dengan memakai helm full facenya dia melaju kencang melewati jalanan yang terbilang cukup ramai tersebut. Dia membawa motornya dengan perasaan membara. Tak lama dia sampai dirumah besar bergaya modern tersebut. " Bisa nggak si jangan pernah ikut campur urusan gua lagi!" bentak Fano ketika baru saja sampai di ruangan lelaki tersebut. lelaki tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Fano. "Santai dulu, kamu harus duduk dulu. Tenangkan diri kamu, atau kamu mau minum dulu? biar saya pesankan kepada bibi?" tawarnya. "Gak perlu basa basi deh, cepat selesain masalah kita. Aku muak lihat wajahmu!" "Oke-oke. Yang pertama saya ingin kamu mendengarkan ini Fano. Papa kamu tidak pernah sama sekali lupa ke kamu, tapi kamu sendiri yang n

