Setelah pulang dari pemakaman mereka melanjutkan perjalanan ke taman kota. Sekedar untuk sejenak istirahat dari hati yang patah, mengingat Clara. Mereka duduk di salah satu restoran di dekat itu. Setelah beberapa menit makanan mereka sampai. Mereka tampak asyik menikmati makanan. Sesekali canda-an keluar dari mulut Bagas. “Aku malu banget karena kan biasa si Adjie yang pakai baju kek gitu. Ini gak nyangka kalau kakaknya dong. Masalahnya aku manggilnya bukan nama dia tapi ‘oii...’ malu banget kayaknya aku udah mau hilang dari dunia ini. Sumpah jadi kesannya aku gak sopan banget!” Bagas menutup wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu. Mereka yang mendengarkan tampak tertawa. Walaupun Fano sedikit memaksakan tawanya. “Terus bagaimana ekspresi kakaknya Adjie?” tanya Dinda sekarang t

