BAB 08. One Night One Kiss

2070 Kata
Setuju untuk tidur sekamar—meski hanya untuk satu minggu masa percobaan dulu—membuat Fania panas dingin. Semakin dekat dengan apartemen, semakin terasa ketegangan yang mencekik. Ia merasa tak cukup siap untuk ‘tidur’ dengan Dito. Fania yang tadinya terlalu blak-blakan saat membahas soal ‘having s*x’ yang wajar dilakukan, sekarang mulai menyesal. Fania bicara seolah-olah ia adalah seseorang yang sexually active, nyatanya tidak. Skinship terjauh yang ia lakukan dengan mantan pacarnya hanyalah ciuman dan grepe-grepe, tak sampai buka baju, apalagi sampai melepas celana dalam hingga melakukan hubungan badan. Bisa dibilang, Fania paham betul akan teori reproduksi. Ia sudah belajar banyak dari pengalaman temannya, Puspa. Tetapi soal praktiknya sendiri, sesungguhnya ia tidak begitu yakin. Kalau hanya sampai ciuman, Fania cukup percaya diri. Lebih dari itu, Fania meragu. Ia bukannya ragu karena belum siap melepas keperawanan, tetapi takut performanya jelek lalu ditertawakan Dito. Fania merutuki dirinya sendiri dalam hati. Entah bagaimana kerja otaknya hingga yang terpikir hanya perkara ranjang yang belum tentu akan mereka lakukan malam nanti. “Fan, udah sampai. Kamu kebanyakan bengong dari tadi. Kenapa?” tegur Dito. Fania menyunggingkan senyum yang kentara sekali dipaksakan. “Nggak kok. Cuma “Kita tunda sampe besok aja deh tidur barengnya,” ucap Dito. “Kenapa, Dit?” Fania menjawab terlalu cepat. Semakin menegaskan kecemasannya. “Kamu tegang banget, Fania. Don’t push yourself too hard.” Dito melepas sabuk pengaman sebelum kembali menatap Fania. “Aku nanti tidur di sofa nggak papa. Kamu tidur di kamar.” Entah mengapa, ucapan Dito membuat Fania kecewa. Fania kesal sendiri. Kenapa ia harus kecewa? Dito begitu perhatian terhadap dirinya, tetapi kenapa ia malah tidak menyukai situasi ini? “Dit, I’m okay. Really.” Dito memandangi Fania cukup lama. Sebelum kemudian tiba-tiba memajukan badan hingga wajahnya sejajar dengan wajah Fania dalam jarak yang begitu dekat. “Kamu mau ngapain?” pekik Fania. Kedua tangannya refleks mendorong bahu Dito dengan sentakan yang cukup kuat. Dito memundurkan badan dan tertawa. “Astaga, Fania. Kamu udah lupa ya di restoran tadi kamu pede banget ngomong soal having s*x and blablabla, sekarang baru mau aku cium aja langsung histeris.” “Ngapain kamu mau cium-cium aku, ha?” sergah Fania. Laki-laki di hadapan Fania itu tak tampak tersinggung karena ditolak. Ia susah payah menghentikan tawa sebelum menjawab, “Like you said before, kita berdua sama-sama udah dewasa. Kamu punya kebutuhan. Aku juga. Dan sekarang aku pengen cium kamu.” Fania refleks mengangkat kedua tangannya untuk menutupi bibir. Dito kini terbahak. Sampai harus memegangi perutnya. “God, damn it. You’re so cute.” Fania memicingkan mata. Kemudian perlahan menurunkan tangan yang menutupi bibir. Masih dengan tatapan penuh antisipasi. “Relax, Fania. Aku nggak akan apa-apain kamu kalau kamu nggak mau.” Dito beranjak turun dan menggumam, “Ternyata kamu polos banget, ya.” Fania cepat-cepat menyusul turun dari mobil dan mengejar Dito yang sudah lebih dulu berjalan beberapa langkah. “Aku nggak polos. Kamu jangan sok tahu!” Dito menghentikan langkah, menoleh ke samping kiri di mana Fania sudah berhasil menyusulnya, dan tersenyum miring. “Kalau gitu, ayo kita taruhan.” “Taruhan buat apa?” “Seberapa berani kamu cium aku duluan.” “Nggak usah ngaco deh, Dit.” Dito mengabaikan protes Fania. “Kalau kamu cium aku—di bibir, of course—malam ini, kita nggak perlu seminggu buat coba tidur sekamar. Cukup buat malam ini aja. Tapi kalau kamu bisa tahan nggak berusaha cium aku dalam semalam, kita coba tidur sekamar selama sebulan. Gimana?” Fania mendesah keras. Ia memandang Dito dengan tatapan menantang. “Kamu kira aku nggak berani cium kamu duluan?” Dito mengendikkan bahu dan kembali melangkah setelah mengucapkan, “Aku nggak tahu sebelum ada buktinya langsung.” “I can kiss you right here right now!” seru Fania. Untung saja parkiran apartemen sepi, sehingga tak ada orang lain yang mendengar kecuali Dito. Dito lagi-lagi menyemburkan tawa. “Ternyata kamu liar juga ya.” Mereka berdua sampai di depan lift yang langsung terbuka. Tidak ada siapa-siapa di dalam lift, yang membuat Dito tahu-tahu berkata, “Let’s see, how brave you are.” Fania mengernyitkan kening. Tak paham maksud Dito. “Excuse me?” “No one’s here,” jawab Dito. Fania bersedekap dan menghadap Dito dengan punggung tegak. “So what?” Dito berdecak. “Padahal belum ada dua menit kamu teriak ‘I can kiss you right here right now’, udah lupa?” Fania langsung mendengkus dan bergerak menyamping hingga mepet ke pojokan lift, menyingkir sejauh mungkin dari Dito di kotak besi sempit itu. Dito terkekeh geli. “Fania, Fania. Lucu banget sih kamu.” Laki-laki itu tampak begitu terhibur dengan tingkah Fania yang sebentar-sebentar berubah. Fania bisa menjadi sangat percaya diri dan blak-blakan pada satu waktu. Seperti ingin sekali menunjukkan kepada Dito kalau dirinya adalah wanita dewasa yang ‘berpengalaman’. Kemudian di detik berikutnya Fania bisa tiba-tiba menunjukkan sisi pemalu dan canggung yang menurut Dito sangat manis dan lucu, seperti sekarang ini Fania tunjukkan. Saat keduanya sampai di lantai unit apartemen mereka, Dito kembali buka suara, “Fan, biat jaga-jaga aja, aku mau bilang kalau kamu harus membiasakan diri.” “Nggak usah kamu ingetin. I’m trying now.” “Aku serius, Fania.” “Aku juga serius, Dit. Aku harus terbiasa hidup sama suami aku. Iya, kan?” Fania menekankan suara pada kata ‘suami’ kemudian melenggang masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Dito yang terlebih dulu menata sepatu miliknya dan milik Fania ke atas rak yang berada di sisi pintu. *** Fania meneguk ludah. Yang dimaksud Dito agar Fania membiasakan diri ternyata bukan sekadar harus terbiasa dengan status baru mereka, melainkan ada cobaan yang cukup berat yang sebenarnya sudah Fania prediksikan. Sayangnya, apa yang ada dalam bayangannya berbeda dengan realita. Kalau seperti ini, akan sulit bagi Fania untuk terbiasa. Bagaimana tidak? Dito yang tadi pamit mau mandi duluan, tiba-tiba keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi pinggang ke hingga lutut. Laki-laki itu mondar-mandir di kamar yang mana ada Fania duduk kaku di atas tempat tidur, bingung harus menatap ke mana. Karena saat ini mata Fania seperti tidak mau meninggalkan punggung Dito yang seperti melambai-lambai minta disentuh. Dito kurang ajar! geram Fania dalam hati. Bola mata wanita itu masih setia menyusuri lekukan otot punggung Dito yang saat ini sedang mencari-cari sesuatu di laci meja yang berada tepat di depan tempat tidur. Ada sekitar dua menit Dito berkutat dengan entah-apa-yang-sedang-ia-cari-itu. Kemudian beralih membuka lemari pakaian, berpaku di depan pintu lemari yang terbuka itu selama beberapa saat sebelum menutupnya kembali tanpa mengambil apa-apa. “Dit, kamu tuh lagi ngapain sih?” Fania akhirnya menyuarakan pikirannya. Mulai gemas karena laki-laki itu seperti sengaja melakukannya untuk menguji dirinya! Dan Dito berbalik dengan luwes. Tanpa berkata apa-apa, ia bertolak pinggang. Membuat Fania menelan ludah susah payah karena otot lengan Dito yang kecokelatan karena terbakar sinar matahari itu semakin terlihat. Berada di satu kamar dengan seorang laki-laki dewasa memang benar-benar menyusahkan. Belum ada satu jam, Fania sudah ketar-ketir karena hormonnya mulai tak terkendali. Salahkan otaknya yang mulai memikirkan hal-hal liar seperti bagaimana rasanya jika ia melarikan jari-jarinya di perut Dito yang tampak liat itu? Fania tiba-tiba terpikir ingin menyiram Dito dengan lelehan cokelat, kemudian ia akan menjilati tubuh Dito hingga lelehan cokelat itu habis. Fania nyaris gila. Dulu, saat mereka masih bertetangga, Fania pernah sekali dua kali melihat Dito bertelanjang d**a. Tapi itu saat Dito masih SMP. Badannya cungkring kayak sapu lidi. Tidak ada menarik-menariknya. Berbeda dengan sekarang. Dito sudah dewasa. Bentuk badannya terawat. Warna kulitnya cokelat terbakar matahari. Berotot di tempat-tempat yang tepat. Fania adalah wanita dewasa normal yang sulit untuk menutup mata saat melihat pemandangan seindah ini. Terlebih lagi ia tidak perlu merasa berdosa karena yang ia pandangi adalah suaminya sendiri. “Mending kamu pakai baju dulu biar nggak masuk angin,” kata Fania lagi yang lebih terdengar seperti cicitan tikus terjepit pintu. Ia berusaha fokus pada wajah Dito, tetapi sulit karena otot perut laki-laki itu tampak begitu menggoda. “I know that look,” cetus Dito yang akhirnya mengeluarkan suara. Laki-laki itu mengikuti arah pandang Fania dan keningnya berkerut-kerut.  “What?” Fania menjawab dengan tatapan mata lapar yang masih tertuju pada otot perut Dito. “Kamu ngeliatin perut aku kayak lagi ngeliatin makanan yang pengen banget kamu makan,” ujar Dito. Fania sedikit tersentak dan langsung menaikkan pandangan. Dengan gelagapan ia menjawab, “Aku nggak pengen makan perut kamu, Dit. Gila kamu.” Dito menahan senyum. “Sebenernya aku nggak mau bahas sih. Tapi kayaknya kamu nggak sadar tadi. Waktu aku nyamperin kamu ke parkiran gedung tempat futsal aku tadi, kamu juga ngeliatin aku persis kayak barusan. Kamu kayak nggak pernah lihat cowok keringetan abis olahraga. Dan sekarang, kamu kayak orang kelaparan.” Wajah Fania sudah sangat merah karena malu. “Udah deh, mending kamu buruan pake baju.” “Aku kan belum mandi, Fan,” balas Dito. “Ya terus kamu ngapain udah telanjang dan malah mondar-mandir nggak jelas, sih?” “Aku nggak telanjang, Fania. Cuma nggak pakai atasan aja. Mau bukti? Aku lepas handuk—” “Stop it, Dito! Astaga, kamu m***m banget, sih!” sela Fania dengan suara meninggi. Wajahnya semakin memerah. Perpaduan antara malu dan kesal. “m***m dari mananya? Aku cuma mau kasih bukti kalau aku nggak telanjang. Aku masih pakai celana,” kata Dito. Ia memegang handuknya. Seperti bersiap-siap akan melepasnya. Fania mengerang. Membungkukkan badan hingfa wajahnya terbenam ke bantal yang ada di pangkuannya. “Udah deh sana masuk kamar mandi aja. Ngapain malah mondar-mandir nggak jelas, sih? Jangan bilang kamu sengaja?!” “Sengaja kenapa?” Dito sok-sokan tak paham. “Sengaja pamer badan di depan aku,” decak Fania. “Wow, Fania. Aku nggak ngapa-ngapain aja kamu udah mupeng. Astaghfirullah.” Ekspresi terkejut di wajah Dito yang terlalu dibuat-buat itu tak bertahan lama karena detik selanjutnya laki-laki itu terbahak-bahak hingga tubuhnya terbungkuk ke depan. Fania makin kesal karena terus-terusan jadi bahan tertawaan Dito. “Dit, I’m an adult. So do you. Kita cuma berdua di sini dan kamu dengan santainya mondar-mandir di depan aku nggak pakai baju. Menurut kamu aku salah kalau kepikiran ke mana-mana?” Dito masih berusaha untuk menghentikan tawa saat menimpali dengan canda, “Emangnya kamu lagi mikir ke mana?” “I hate you!” Fania kembali mengerang yang kemudian melemparkan bantal dengan sekuat tenaga ke arah Dito. Namun, laki-laki itu menangkapnya dengan mudah. “Masuk kamar mandi sekarang atau nggak cuma bantal yang aku lempar ke kamu! Kamu mau aku lempar lampu tidur?!” ancam Fania dengan kesal. Namun, bukannya masuk ke kamar mandi, Dito malah mendekat ke tempat tidur. Mendudukkan diri di tepi tempat tidur dengan posisi tubuh miring menghadap Fania. Fania refleks menarik diri dan menjauhkan tubuh. Ia memberikan tatapan penuh peringatan. “What are you doing?” pekik Fania. Dito tak terpengaruh. Ia malah semakin memajukan tubuh dan berbisik, “Biar aku tebak dari tatapan kamu. You want to touch me so bad, huh? Kamu penasaran gimana rasanya waktu tangan kamu bersentuhan dengan kulitku. Kamu—” “Shut up, Dit!” Fania menggeram seraya melotot hingga bola matanya nyaris menggeliinding keluar. Yang sekali lagi menjadi hiburan tersendiri bagi Dito. Fania bermaksud mendorong bahu Dito. Namun, saat telapak tangannya bersentuhan dengan kulit Dito yang terasa hangat, Fania seperti tersengat listrik. Fania menahan getaran yang menjalar hingga ke perut itu dan bukannya mendorong Dito atau melepaskannya, Fania justru malah merangsek ke depan dan secepatnya kilat melabuhkan satu kecupan di ujung bibir Dito. Satu kecupan yang berbuah ciuman manis dan perlahan naik tingkatan. Karena Dito tak membiarkan ciuman itu berakhir hanya dengan bibir saling menempel. “Ternyata kamu lebih berani dari yang aku bayangkan, Fan,” bisik Dito di tengah ciuman yang selanjutnya tidak hanya melibatkan bibir, namun gigi dan lidah ikut beradu. Sepasang manusia itu berusaha menunjukkan kehebatan masing-masing dalam berciuman hingga Fania perlahan menjejak bumi. Teringat kalau Dito seharusnya sekarang mandi, bukannya malah bertukar air liur dengannya! “Mandi, Dit. Kalau kemalaman nanti masuk angin,” ucap Fania sambil menetralkan napasnya yang berkejaran. Dito melarikan ibu jarinya di bibir Fania yang merah dan sedikit bengkak. “You’re a great kisser,” katanya kemudian bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menoleh lagi. “Lo udah gila, Fania!” Fania menjatuhkan badan. Telentang di atas tempat tidur, membekap wajahnya yang terasa panas efek dari ciumannya dengan Dito, dan memekik tertahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN