Makan malam dengan Dito ternyata tidak buruk-buruk amat. Fania kira ia akan merasa canggung setelah pertengkaran mereka semalam. Namun, ia justru cukup senang dan terhibur karena Dito adalah teman ngobrol yang asyik. Terlebih lagi Dito sudah benar-benar tak menunjukkan kemarahannya semalam.
Dan Fania mendapati dirinya tenggelam dalam kenyamanan yang tahu-tahu timbul di hati. Menghantarkan dirinya kembali ke masa lalu, saat mengganggu Dito yang sedang bermain dengan kawan-kawannya adalah kegiatan favorit Fania setiap hari.
“Kamu masih inget nggak sih, Fan, kalau kamu waktu masih SD ngeselin banget?” tanya Dito.
Fania tahu maksud Dito, tetapi ia pura-pura tak paham dengan balik bertanya, “Ngeselin gimana?”
“Kamu kan hobi banget isengin aku. Kamu pernah umpetin bola yang dibeliin ayahku cuma gara-gara kamu nggak suka lihat aku hampir tiap hari main bola sama temen-temenku.”
Fania tertawa. Kejadian itu sudah lewat belasan tahun berlalu. Masa-masa itu, Fania masih SD, tidak punya banyak teman bermain di sekitar kompleks. Sedangkan Dito sudah duduk di bangku SMP, temannya banyak, hampir setiap hari ada saja teman yang datang bermain ke rumahnya.
“Aku udah lupa tepatnya kenapa. Tapi aku kayaknya emang cuma caper aja ke kamu biar kamu kesel terus notice aku. Kamu punya temen banyak, sedangkan aku yang dulu gendut, item, sering diejekin, nggak punya temen. Aku jadi sebel ngelihat kamu punya temen banyak. I was jealous,” cerita Fania dengan tatapan menerawang. Mengingat masa lalu menghantarkan perasaan hangat sekaligus menyengat.
“Kamu masih marah karena aku sekeluarga tiba-tiba pindah ya?”
Fania mengernyit. “Aku nggak pernah marah.”
“You did. Kamu nangis-nangis, nahan aku biar nggak pindah. Remember? Setelah aku pindah, aku beberapa kali nelepon ke rumah kamu, tapi selalu mama kamu yang jawab. Katanya kamu nggak mau bicara sama aku lagi.” Dito terkekeh melihat Fania yang mukanya memerah karena malu. Bisa Dito lihat dengan jelas kalau wanita itu masih mengingat hari kepindahan Dito dan keluarganya. “Aku kadang masih nggak habis pikir juga, ngapain waktu itu aku repot nelponin bocah SD, khawatir kalau dia masih nangisin tetangga sebelah rumahnya. Padahal waktu itu banyak cewek yang suka aku.”
“Narsis.”
“Aku nggak bohong, Fan. Aku lumayan populer waktu SMA,” balas Dito dengan senyum jemawa.
“Bukan urusanku. Aku nggak peduli.”
“Well, you should. Biar kamu nggak kaget kalau pas kita lagi jalan tiba-tiba ketemu mantanku.”
Fania mendengkus. Mulai malas dengan kenarsisan Dito yang berlebihan dan memilih untuk mengabaikannya. “Sejujurnya waktu kamu pergi, aku ngerasa kehilangan kamu,” ungkapnya tanpa memandang Dito.
“Kehilangan objek yang bisa kamu usilin?”
Fania tersenyum tipis. Biarlah Dito menganggapnya begitu. Walau nyatanya tidak sesederhana itu. Meski dulu Fania hobi mengusili Dito dan membuat laki-laki itu kesal, sejujurnya ia hanya ingin menjadi dekat. Karena Dito selalu dikelilingi banyak teman. Fania ingin merasakan berada di dekat laki-laki itu, berharap ia juga bisa mendapatkan banyak teman.
Ia merasa kehilangan. Dulu. Tidak ada Dito, itu artinya Fania juga tidak lagi punya teman. Walau nyatanya mereka tidak benar-benar bisa disebut berteman. Dulu Dito pernah bekata kalau ia tidak berteman dengan anak SD. Namun, saat Fania butuh teman mengerjakan PR, Dito selalu datang ke rumahnya. Tidak jarang membantu Fania belajar matematika.
Fania memandangi Dito yang fokus menghabiskan makanan di piringnya. Dulu mereka dekat sekali rasanya. Sampai akhirnya Fania masuk SMP dan mulai beranjak menjadi remaja puber. Mulai paham cara berteman. Mulai mengerti cinta monyet. Perlahan, sosok Dito terlupakan.
“So, soal kamar kita, kamu maunya gimana sekarang? Kamu tetap mau tidur di gudang? Nggak mau tidur sekamar sama aku?” tanya Dito menyudahi sesi nostalgia mereka berdua.
Fania memberengut. Entah kenapa Dito senang sekali menyebut kamar tamu sebagai gudang—walau memang nyatanya tempat itu sekarang lebih oantas disebut gudang.
“Aku ngalah aja, deh. Capek debat sama kamu,” ujar Fania dengan tidak ikhlas.
Dito membalas tatapan Fania dengan raut bingung di wajah. “Ngalah gimana maksudnya? Aku nggak ada ngajak kamu kompetisi. Nggak perlu ada yang menang atau kalah. We called it a compromise.”
“Kompromi itu kalau kedua belah pihak setuju tanpa merasa terbebani,” terang Fania. Akhirnya ia bisa mengatakannya dengan lantang.
Dito manggut-manggut. “Dan kamu terbebani karena harus tidur satu kamar sama suami kamu.”
“I am. Kamu nggak lagi ngajak aku kompromi, Dit. Tapi kamu membuat ngerasa jadi pihak yang paling buruk cuma gara-gara aku mengemukakan pendapatku yang nggak mau sekamar sama kamu.” Fania menjaga suaranya agar tidak didengar oleh pengunjung restoran lainnya. Ia tidak mau menambah beban pikiran karena mendengar nyinyiran orang lain tentang dirinya. Entah karena dituduh tak patuh kepada suami atau karena menjadi istri durhaka yang hobi melawan perkataan suami. Dan sebagainya.
Cukup lama Dito terdiam sambil bertopang dagu dan hanya memandangi Fania hingga wanita itu jengah.
“Say something, Dit. Stop staring at me that way!” cicit Fania.
Setelah beberapa saat bergeming, Dito menurunkan tangan dan melipat kedua tangannya di atas meja. Ia berdeham sebelum berkata, “Aku minta maaf karena nggak mempertimbangkan pendapat kamu. Harusnya aku lebih peka. Mau gimana pun juga kita nggak kayak pasangan normal lainnya yang nikah karena cinta dan dengan persiapan-persiapan lain. You are right. Aku nggak mau memaksakan apa yang nggak bisa kita lakukan dengan berat hati. So, it's clear now. Kita nggak akan tidur sekamar, like what you want.”
Dan lagi-lagi apa yang dikatakan Dito membuat Fania merasa buruk. Mereka memang menikah tanpa dasar cinta. Pernikahan dadakan mereka tak sepenuhnya terjadi karena mereka suka rela dinikahkan. Kesepakatan untuk menikah terbentuk karena situasi mendesak yang mendorong keduanya hingga berada di posisi sekarang. Namun, seperti yang Dito katakan semalam, tidak ada yang benar-benar 'memaksa' mereka berdua untuk harus menikah. Kesempatan untuk menolak itu ada. Dan Fania memilih untuk membuang kesempatan itu dengan menerima Dito menjadi suaminya.
Dito kembali bersuara sebelum Fania sempat berkomentar. “Besok pagi ada yang datang ke apartemen buat bantu-bantu kamu bersihin kamar tamu. Setelah pulang dari sini, aku keluarin barang-barangku biar besok lebih enak bersihinnya−”
Fania menggeleng cepat. Menghentikan ucapan Dito. “Let's give us a try.”
Dito tak langsung paham. “Try what?”
“Kita coba dulu tidur sekamar selama satu minggu.”
“And then, what?”Dito mengernyit. Bukannya sejak awal Fania ingin pisah kamar, kenapa sekarang berubah pikiran?
“Buat adaptasi dulu, Dito,” jawab Fania dengan gemas. “Please, masa kamu nggak ngerasa aneh sih tiba-tiba punya teman tidur yang belum benar-benar kamu kenal? Kita gandengan tangan aja belum pernah, ciuman belum pernah, terus kamu bisa biasa-biasa aja gitu langsung tidur bareng? It feels so weird.”
“Tapi aku udah kenal kamu dari kamu masih ngedot dan pake pampers lho, Fan. Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya mama kamu.” Dito tak bisa menahan tawa. Membuat Fania terlihat kesal. Dan setelah tawanya terhenti ia pun lanjut berujar, “Jadi kamu maunya kita gandengan tangan sama ciuman dulu, baru kamu mau tidur sekamar sama aku gitu?”
Fania hampir kelepasan melemparkan garpu ke wajah Dito karena laki-laki itu sempat-sempatnya merusak atmosfer serius di antara mereka berdua dengan hal memalukan seperti itu.
“Dit, ini nggak lucu ya. Kamu mungkin emang kenal aku waktu aku masih kecil, tapi kamu nggak ada waktu aku tumbuh dewasa, Dit.”
Dito menaikkan alis. “Aku nggak tahu kalau ternyata kamu sekecewa itu karena aku nggak ada di samping kamu waktu kamu tumbuh dewasa.”
Fania tanpa segan memutar bola mata di depan Dito. Tak peduli kalau tindakannya tak sopan. “Aku nggak kecewa. Aku cuma mengungkapkan fakta,” ujarnya.
“Really? Kelihatannya nggak gitu.” Dito menahan tawa.
“Terserahlah kamu mau mikir gimana. Capek banget ngomong sama kamu.”
Dito memandangi Fania dengan kegelian. “Aku paham, Fania. So the point is ....”
“Ayo kita lakukan apa yang normalnya pasangan lakukan.”
“Apa yang pasangan normal biasanya lakukan?” beo Dito.
Fania menggeram. Gemas dengan tingkah Dito. “Ya masa harus aku jelasin?”
Laki-laki itu menepuk punggung tangan Fania yang berada di atas meja dan berkata, “Fan, aku kasih tahu ya... Orang yang udah nikah nggak setiap hari harus ciuman, gandengan tangan, apalagi having s*x. And I won't do that if you don't want to. Let's make it simple, okay?”
“Aku juga paham, Dit. Tapi—”
“Kenapa awalnya aku nggak mau nurutin kamu pisah kamar? Karena aku mau kamu terbiasa dan nyaman dengan kehadiran aku di samping kamu. Baru setelah itu kita bisa pikirin yang lain. Tapi kamu kan punya pandangan lain, kamu maunya kita pisah kamar dan aku nggak akan menghalangi kamu.”
“Kamu bilang gitu tapi kamu kelihatannya nggak ikhlas,” cetus Fania.
“Emang enggak,” balas Dito. “Aku punya istri tapi nggak bisa tidur sekamar. That hurts my pride.”
Fania kembali memberengut. “Ya makanya tadi aku bilang kita coba dulu tidur sekamar selama seminggu.”
Dito terdiam lagi. Tampak berpikir keras untuk menimbang-nimbang sebelum membuat keputusan. “Oke. Let’s try that. Dan karena kamu mau begitu, sekarang kita sepakati dulu. Kita cuma akan tidur di satu ranjang yang literally cuma tidur aja atau tidur dalam konteks lain juga? Just to make sure. We have to make boundaries, right?”
Fania sudah sangat malas karena sejak tadi mereka hanya berputar-putar di masalah yang sebenarnya jelas. “Both! Like I said before, kita berdua udah sama-sama dewasa. Sama-sama punya kebutuhan. Kita mungkin bisa sehari dua hari tidur berdua tanpa ngapa-ngapain. Tapi kita nggak cuma tidur bareng sehari dua hari, kan? Kamu yakin bisa kuat tiap malam lihat aku tidur di samping kamu doang, tapi kamu nggak bisa ngapa-ngapain? Karena aku nggak yakin bisa.”
Dito terperangah selama beberapa saat. “Kamu yakin mau ngomongin masalah ranjang di sini?”
“Kamu yang nanya tadi.” Fania mendesah. “Tapi satu hal yang pasti, kamu harus pakai kondom. Aku nggak mau ujug-ujug hamil anak kamu tanpa persiapan.”
Fania tidak pernah bicara blak-blakan masalah ranjang karena memang ia belum pernah sampai sejauh itu dengan mantan-mantan pacarnya dulu. Tetapi dengan Dito ia seperti dipaksa untuk terbuka. Karena ia tak ingin memendam duri yang akan menghambat kehidupan sehari-harinya ke depannya. Hidup dengan Dito sudah tak bisa dihindari lagi, jadi sebisa mungkin ia harus menekan risiko-risiko dan hal-hal yanh tak diinginkan yang bisa menghalangi hidup normalnya. Sebelum menikah dengan Dito, hidup Fania sudah tertata dengan baik. Dan ia tidak akan membiarkan pernikahannya dengan Dito menjadi penghalang. Ia ingin tetap hidup 'normal' seperti sebelum menikah.
Sementara itu, Dito mengulum senyum. Awalnya ia cukup terkejut saat mendengar perkataan Fania. Tentu saja ia terkejut. Fania yang dulu ia kenal adalah sosok gadis kecil yang lucu dan menyebalkan. Sekarang Fania sudah menjelma menjadi wanita dewasa. Wanita yang telah ia ikat dengan janji suci di depan Tuhan.
“Are you really okay with that?” tanya Dito memastikan. Dito benar-benar tak ingin memaksa Fania melakukan apa yang tak diinginkannya. Dito tidak ingin menyakiti Fania dengan atau tanpa sengaja.
“Kenapa? Aku wanita dewasa. I want s*x and I'm not shame of it. Because it's my need. Dan sekarang karena udah punya suami, aku bisa manfaatin suami aku buat memenuhi kebutuhan seksualku. Dan sebaliknya. Vice versa.”
Jawaban tegas dan percaya diri Fania sekali lagi mengagetkan Dito.
“Really? Kamu yakin nggak masalah having s*x sama laki-laki yang ... nggak kamu cintai?”
Sejak mereka duduk berhadapan di salah satu meja di restoran itu untuk makan malam, Fania tidak pernah mengendurkan pertahanan. Fania duduk dengan punggung tegak. Selalu memastikan kalau dirinya tidak akan terintimidasi oleh apa pun. Termasuk Dito.
“Kenapa enggak?” Fania menjawab. “Having s*x beda dari make love. Aku bisa have s*x sama kamu, tapi nggak yakin bisa make love. Get the point?”
Dito terkekeh-kekeh. “Aku kira kamu nggak nafsu sama aku.”
Kali ini Fania ingin menyiram wajah Dito dengan sisa air minumnya. Meski ia kesal, ia tetap berkata, “Aku nggak mau munafik, Dit.”
“Jangan bilang kamu punya fantasi aneh soal aku.”
“Kalaupun aku punya, aku nggak akan bilang.”
“Aku juga nggak mau dengar kali, Fan.”
“Ya udah, yuk pulang.”
Dito mengernyit hingga alisnya hampir menyatu. Kata ‘pulang’ terdengar asing di telinganya. “Say it again,” pinta laki-laki itu kepada Fania.
Dan sekarang berbalik Fania yang kebingungan. “Say what?”
“Yang barusan kamu bilang.”
“Yang mana?”
Dito mengibaskan tangan. “Udah deh, lupain aja.”
“Apa sih, Dit?” desak Fania.
“Nothing!” Dito buru-buru berdiri. “Let's go.”
Fania menyusul berdiri. Kemudian mereka berjalan beriringan ke bagian kasir yang berada di dekat pintu keluar restoran.
Kali ini Fania tidak protes saat Dito sudsh lebih dulu mengeluarkan dompet—dompet buluk yang entah sudah berusia berapa tahun yang membuat Fania meringis antara malu dan prihatin—untuk membayar makan malam mereka.
Dito tadi berkata, “The bill is on me. Aku udah maafin kamu, jadi makan malam ini sebagai reward buat kamu karena kamu udah usaha ngajak aku baikan.”
Saat mereka meninggalkan restoran, Fania menyuarakan isi pikirannya, “Dit, kalau minggu ini kamu ada waktu luang, kita ke mall yuk.”
“Kamu ngajak aku nge-date ke mall?” Dito yang sedang menyetir melirik Fania yang duduk di kursi penumpang di sampingnya.
Fania mengabaikan nada jail dalam suara Dito dan menyahut, “Aku mau beliin kamu dompet baru. Dompet kamu udah jelek banget. Anggap aja sebagai hadiah pernikahan.”
“Fan, jangan terlalu perhatian sama aku. Kamu bakal susah sendiri kalau aku jatuh cinta sama kamu.”
“It's your problem then. Not mine,” jawab Fania congkak.
Dito geleng-geleng kepala. Senyum tipis terukir menghiasi wajah lelahnya.
***