“Fan, bisa agak lebih cepat, please? Kasihan Ibu nggak ada yang nemenin,” cecar Dito untuk yang ke sekian kalinya dalam sepuluh menit terakhir. Bahkan tidak sekali dua kali laki-laki itu meminta−lebih tepatnya agak memaksa−Fania untuk menepi agar ia bisa menggantikan Fania menyetir. Yang tentu saja tak diizinkan Fania yang menganggap bahwa Dito sedang dalam kondisi tak cukup baik untuk dibolehkan menyetir. “Ini udah cepet. Aku nggak bisa lebih ngebut dari ini dan membuat kita berada dalam masalah,” sahut Fania dengan sabar. Dito bergerak gelisah di kursi penumpang. “Fania, please. Kalau gitu kita lewat jalan pintas aja biar cepat sampai rumah sakit. C’mon.” Mobil yang mereka kendarai tidak bisa melaju cepat karena kepadatan lalu lintas siang menjelang sore itu menghambat kecepatan mob

