Fania membuang muka. Dengan keras kepala ia berkata, “Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berangkat ke Paris.” “Kita nggak akan ke mana-mana,” tegas Dito. “Aku akan tetap ke Paris,” ulang Fania sama tegasnya. “Dengan atau tanpa kamu.” Jawaban itu membuat Dito terperangah hingga hanya bisa terdiam selama hampir satu menit penuh. “Kamu nggak akan ke mana-mana tanpa seizin dokter dan tanpa seizin aku,” ujar Dito dengan menekankan suaranya pada setiap kata. “Dit, kamu nggak bisa nahan aku cuma karena aku hamil. You can’t take my dream away!” Fania lagi-lagi tak sadar sudah menaikkan suara. Dito meraih pundak Fania. Sedikit memaksanya untuk menatap matanya. “Aku nggak pernah berniat menjauhkan kamu apalagi menggagalkan kamu meraih mimpi. Tapi sekarang kondisinya berbeda. Rencana kita mau

