“Sayang!” seru seorang wanita paruh baya sedikit meloncat, hinggap dipelukan Nathan. Nathan terkejut, saking terkejutnya dia hanya diam. Qeyla—ibunya tiba-tiba datang ke apartemen tanpa mengabarinya terlebih dahulu, itu pun di malam hari seperti ini. Pelukan Qeyla begitu erat, wanita karir ini sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuknya. Dari kecil dia diajarkan untuk mandiri, dengan atau tanpa kehadiran mereka di sisinya, dia pasti bisa hidup. Bukan berarti Nathan tidak membutuhkan mereka, tapi karena Nathan sudah terbiasa hidup tanpa mereka. Tinggi badan ibunya hanya mencapai d**a Nathan. Sangat mudah untuk dipeluk, dan digendong. Tubuhnya langsing bak gitar spanyol. Rambutnya berwarna cokelat dicepol tipis. Wajah wanita itu tampak bersinar, tidak ada kerutan sedikit pun. Ibunya adal

