“Lelaki itu adalah aku, Mita. Aku bisa mencintaimu dengan tulus. Aku sanggup menerimamu apa adanya, dan akan aku pastikan kita pasti bisa merawat anak yang kamu kandung saat ini bersama-sama. Jadi, maukah kamu menikah denganku?” Aji terlihat bersungguh-sungguh mengungkapkan isi hatinya. Apa Mita tidak salah dengar? Atau mungkin lelaki itu hanya ingin mengerjainya saja. Tak habis pikir, sejak kapan Aji menyukainya? Kala Mita larut dan tenggelam dalam pikirannya. Jefry pun segera menarik lengan Mita, lalu menyembunyikan perempuan itu di balik punggungnya. “Kalau kamu ingin merebut Mita dariku, langkahi dulu mayatku.” Balas Jefry tegas, jelas, dan penuh penekanan. Lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya barusan. Sorot matanya berkilat-kilat penuh amarah. Telah siap jika memang harus t

