Setiap hari pula pasangan John dan Mary tidak ingin mengganggu. Mereka terus saja memperhatikan, tanpa bisa melakukan apapun. Mary pun hanya membantu mengantarkan makanan, dia tidak mungkin paham dengan segala hal tentang sihir. Sebagai seorang penyihir tanpa sihir, dia hidup sangat normal sebelum bertemu sang suami.
“Bagaimana?” tanya John begitu melihat istrinya berjalan mendekatinya di sofa ruang tengah. Seperti biasa, rutinitas harian setiap sore adalah menghangatkan diri di depan perapian.
“Dia masih sibuk, aku tidak ingin menganggunya. Tapi, aku khawatir kalau dia jadi sakit karena terobsesi membuat obat untukmu.” Mary duduk di sebelah suaminya, kemudian bersikap manja dengan menyandarkan kepala di d**a pria itu. “Menurutmu apa dia akan berhasil?”
“Aku sudah mendapatkan stok obat untuk bulan purnama nanti. Sejujurnya aku tidak terlalu berharap untuk obat yang dikatakan oleh Addy. Dia bilang kalau ada ramuan sihir yang akan membuatku bisa mengendalikan diri selamanya, rasanya itu mustahil. Maksudku bukan ingin meremehkan, tapi mungkin itu sangat sulit. Aku tidak pernah tahu ada manusia serigala keturunan campuran yang bisa mengendalikan dirinya. Kami sangat berbeda dengan ras asli. Ini menyebalkan memang, kalau saja waktu bisa diputar ulang, aku takkan mau menjadi seperti ini.”
“Hei, kalau kau tidak seperti ini, kita mungkin tidak akan bersama, Tuan John yang tercinta, kau tidak lupa bukan kalau usiamu ini sudah sangat tua.” Mary mengingatkan akan jati diri John yang seorang manusia serigala.
Sebagai seorang manusia serigala, sudah sewajarnya John memiliki fisik yang sangat kuat serta regenerasi yang bagus. Meskipun dia seorang Lone Ranger atau istilah baginya yang tidak berkelompok dengan manusia serigala lain, tapi untuk John, dia tetaplah tangguh. Dia tangguh setelah bertemu dengan pasangan hidupnya yaitu Mary.
“Kau benar, mungkin aku sudah mati sewaktu menjadi manusia.” Dia mendadak sendu. “Aku tidak tahu kenapa takdirku buruk sekali, Mary. Aku hanya ingin menjadi orang normal, aku ingin menjadi manusia normal sepertimu, kita pasti bisa tinggal di kota besar kalau saja aku tidak begini. Kita juga takkan seperti orang yang mengasingkan begini. Bahkan pekerjaanku juga tidak pernah cemerlang, karena aku tidak bisa tinggal di kota besar.”
“Aku tidak keberatan sekalipun kita tinggal di hutan dan makan seadanya. Aku juga tidak keberatan melakukan pekerjaan yang berat untuk membantumu. Kita ini sudah berkecukupan, aku tidak menuntut apapun. Lagipula, jangan berkecil hati begitu, siapa bilang aku ingin hidup di kota besar? Berada di kota kecil begini jauh lebih menyenangkan, disini asri, nyaman dan sangat tenang. Aku takkan merasakan ini di kota besar.”
“Kau memang baik, aku tidak bisa mengatakan apapun untuk berdebat denganmu. Kau memang wanita terbaik di dunia ini.”
“Dan, jangan lupa, John, aku sendiri adalah seorang yang tidak normal juga. Iya, sekalipun aku memang terlihat sangat manusia biasa, tapi tetap saja, aku memiliki darah penyihir, walaupun iya ... Tidak ada gunanya. Tetap saja, bukan? Aku bukan manusia biasa. Aku sama sepertimu, kita punya kekurangan, dan kita sudah berhasil untuk saling memahami.”
“Kau benar.”
”Cinta itu adalah hal yang besar, John, aku mencintaimu, kau memberikanku kehidupan disini. Aku tidak merasa kekurangan, kau juga bekerja keras, kau tidak ada bedanya dengan suami yang lain. Malahan ... Mungkin aku yang bukan istri yang patut dibanggakan.“
”Apa maksudmu berkata demikian?“ John agak menjauh dari Mary agar bisa melihat wajah cantik istrinya ini. ”Apa maksudmu? Ada masalah?“
”Tidak ada,, aku hanya mengatakan kalau aku bukan istri yang patut dibanggakan karena aku memang belum menjadi yang terbaik untukmu. Aku ... Belum bisa hamil.“ Mary merasa sedih kembali.
Dia meraba perutnya, menantikan seorang anak, tapi tak kunjung didapatkan juga. Padahal mereka sudah bertahun-tahun dalam penantian. Segala macam sudah dilakukan, namun hasilnya selalu mengecewakan.
”Astaga, jangan berkata begitu, kita ini pasangan baru, akan ada waktunya kita memiliki anak.“ John mengecup kening Mary.
”Kita sudah mencoba berbagai cara, mungkin aku memang tidak layak menjadi ibu ...“
”Hei, jangan berkata begitu, sudah kubilang, biar waktu yang memutuskan. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu. Kita pasti memiliki anak nanti, kau harus tetap bahagia.“ John menyentuh dagu Mary, lalu dinaikkan sedikit sehingga dia kembali dapat melihatnya. ”Kau percaya padaku?“
”Tentu saja aku percaya padamu.“ Mary tersenyum pedih. ”Tetapi ...“
”Kau percaya padaku, jadi tidak ada tapi-tapian.“
”Bukan, John, hanya saja ini rumit. Semua pria menginginkan seorang keturunan, dan aku takut tak bisa memberikannya untukmu.“
”Sekali lagi kukatakan, apapun yang terjadi, kau adalah istriku yang kucintai. Kau jangan berkata begitu, kita pasti punya anak. Percayalah padaku.“
”Bagaimana kalau tidak?“
”Jangan berkata begitu ....“
”Jawab saja, John, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika aku tidak bisa memberikanmu keturunan, mungkin karena memang aku adalah keturunan penyihir yang aneh, jadi aku dikutuk atau semacamnya ...“
”Jangan begitu. Bisa jadi malah aku yang tidak bisa membuahi mu. Aku adalah manusia serigala campuran, mungkin saja aku menjadi mandul karena diubah menjadi makhluk begini. Jadi, jangan salahkan dirimu begitu.“
”Kau tidak menjawab ku.“
”Iya, iya, aku jawab, jika memang kau tidak bisa memberikanku keturunan, maka aku akan menciumimu dan mengatakan, aku akan selalu mencintaimu, Mary Sayang.“
Mary terharu mendengarnya. ”Aku juga mencintaimu.“
”Jangan sedih lagi, ya? Daripada memikirkan hal begitu, lebih baik kita pikirkan saja tentang bulan madu kita yang selalu kita lakukan setiap hari “
Mary tersenyum lagi. ”Aku mendengarkan.“
”Besok adalah hari Minggu, aku tidak ada kerjaan, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman kota sekitar? Aku kemarin tidak sengaja melihat ada bunga langka yang sedang berbunga di sana, pasti ramai sekali.“
”Boleh, boleh, aku juga penasaran, dari kemarin banyak sekali orang yang ingin ke taman kota. Kukira ada apa, ternyata ada bunga langka?“
”Iya, aku masih belum tahu detailnya, tapi yang pasti itu memang tumbuh di sana secara kebetulan, jelas saja mengundang perhatian. sekalian saja aku memotretnya, itu akan sangat indah untuk koleksi potret kita. Bagaimana?“
”Tentu saja,“
”Dan, aku juga sudah memesan tempat yang cukup romantis untuk makan siang besok.“
”Benarkah? Kau sangat tak terduga, John.“
”Aki memang romantis. Kau tidak akan kecewa nanti, Sayang.“
Mary tertawa mendengar itu.
***