Seminggu setelah kejadian di hutan, kini kondisi dari Addy sudah mulai membaik. Dia tidak lagi takut pada lingkungan sekitar, sekarang pun dari mendapatkan sebuah keluarga baru. Dalam pemahamannya sekarang, pasangan suami istri itu adalah keluarga.
Sebagai anggota keluarga, maka dia akan berjuang keras untuk membuat ramuan yang bisa membuat John secara permanen bisa mengendalikan sisi buas serigala dalam dirinya.
Sementara dia sibuk di dalam kamarnya untuk membaca bahan-bahan, John dan Mary menikmati waktu berdua di ruang tengah. Ini adalah hari mendekati musim dingin sehingga John lebih banyak di rumah ketimbang bekerja.
Sebagai seorang pimpinan di sebuah kantor berita kota, dia sebenarnya punya peran penting dalam mengendalikan massa. Karena itulah dia bisa menghapus pemberitaan yang cukup mengundang masalah seperti pencarian wanita muda yang dicurigai sebagai penyihir Alias Addy.
Dia tidak ingin jati diri Addy tersebar luas.
“Mary, apa Addy baik-baik saja, dia kelihatannya tidak keluar juga dari kamar,” kata John yang duduk di sebelah sang istri di atas sofa yang dipenuhi bantal penghangat.
Perapian depan mereka juga sudah menyala. Suasana ruang tengah yang hangat benar-benar sangat menenangkan.
Mary terlihat menghangatkan diri di bawah ketiak John. Menurutnya, tubuh John jauh lebih hangat ketimbang perapian manapun.
“Entahlah, aku juga tidak mau mengganggu, aku sudah berusaha membujuk, tapi dia kelihatannya terlalu serius. Aku memang keturunan penyihir, tapi aku tidak tahu apapun tentang sihir, jadi aku tidak paham apa yang sedang dia lakukan,” terangnya.
“Iya, kalau dia sampai melewatkan makan malamnya, kurasa aku harus mendobraknya saja nanti.”
“Jangan begitu, dia adalah wanita yang baik, berusaha untuk membuatkan ramuan untukmu. Aku langsung akrab saat dengannya. Aku pun sebenarnya juga ingin membantunya, aku juga ingin kau bisa mengendalikan dirimu, aku tidak mau melihatmu tersiksa setiap bulan purnama.”
“Bukan masalah, Mary, asalkan aku masih bisa menjaga diriku agar tidak melukaimu”
“Tetap saja aku khawatir.”
“sudahlah, jangan dibahas.. kau ini seperti baru saja melihatku begitu Saja. Kita sudah menjalin hubungan selama sepuluh tahun ,dan menikah selama lima tahun. Kau sudah sering melihatku tersiksa dengan sisi buas dalam diriku, tapi sampai sekarang tidak masalah bukan?”
Mary meraba kulit pipi suaminya tersebut. Dia mendambakan kehidupan dimana mereka bisa menjadi pasangan normal biasa tanpa ketakutan dengan bulan purnama. “Aku mencintaimu, sekalipun kau berkata tidak apa-apa, aku tidak bisa melihatmu terluka.”
John merasakan kehangatan cinta dari Mary jauh melebihi hangatnya perapian. Dia selalu dibuat kagum oleh kecantikan hati wanita itu. “Kau selalu berhasil membuatku jatuh cinta padamu berulang kali.”
“Benarkah?”
John kini yang menyentuh kulit pipi wanita itu, lalu berbisik, “aku tidak pernah berbohong padamu 'kan? Aku sungguh mencintaimu, sangat cinta, dan sampai kapanpun, kalaupun saat kita mati nanti, jika memang kehidupan selanjutnya memang ada, aku akan berdoa semoga kita berdua akan terus menjadi pasangan, karena aku tahu, tidak ada wanita di dunia ini yang cantiknya sepertimu.”
Mary tersipu, bahagia sekali dipuji seperti itu. Rasanya seperti kembali ketika saat mereka masih remaja dan menjalin asmara. “Aku juga berharap demikian, semoga kita akan selalu bersama di kehidupan manapun. Aku akan selalu mencintaimu, sekalipun banyak hal yang menghalangiku, aku akan selalu mencari cara agar bisa kembali padamu.”
“Itu baru istriku.” John mencubit hidung Mary dengan gemas. “Aku senang menghabiskan jatah liburku denganmu.”
“Oh iya, John, aku baru ingat akan sesuatu. Boleh aku membahasnya, agak tidak masuk akal, tapi entah mengapa aku merasa sangat memikirkan ini sejak bangun tidur tadi.”
“Ada apa?”
“Aku bermimpi tentang kita berdua ... Agak aneh, aku bertemu denganmu saat kau sedang memasak di meja dapur. Ketika aku memanggilmu, kau malah tidak mengenaliku dan menatapku dengan tatapan yang agak ... Jahat, seolah kau meremehkanku. Kau juga sangat sombong.”
“Wah, mimpimu aneh sekali sayang.” John tidak menanggapinya dengan serius. Dia tertawa sedikit, kemudian melanjutkan ucapannya, “mungkin karena kau sedang jengkel padaku.”
“Mungkin saja, kau memang menyebalkan.”
John tertawa lagi. “Setidaknya di mimpiku, aku pasti seksi sekali 'kan?”
“Kau selalu seksi.” Mary ikut tertawa. “Dasar, selalu saja percaya diri."
"Kau menyukainya, bukan?"
"Aku menyukai apapun yang ada dalam dirimu, Sayang. kau adalah suami terbaik di dunia ini. aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu."
"Aku pun demikian, Mary, kau adalah cahaya dalam hidupku. Di saat aku terpuruk, hanya dirimu yang datang menemaniku. aku benar-benar tidak akan bisa seperti ini tanpa dirimu. Tanpamu, aku hanyalah binatang liar."
"Hei, kita sudah sepakat untuk masalah itu. Aku paling benci saat kau menganggap dirimu hewan, John. Kau sangat jahat pada dirimu sendiri."
"Aku minta maaf, aku selalu teringat apa saja yang dikatakan pemburu liar saat mengetahui kalau aku adalah manusia serigala. sebelum aku tak sengaja mereka, mereka selalu berusaha membunuhku sambil mengataiku binatang. dahulu, aku memang menganggap mereka itu benar, aku memang binatang. semua orang takut denganku ..."
"Kecuali aku. aku tidak pernah takut padamu."
"Aku selalu ingat pertemuan kita, Sayang. kau memang istri terbaik di hidupku. aku tidak akan pernah berpaling darimu."
"Aku suka sekali kalau suamiku menggombal, kau memang manis. orang yang menganggapmu binatang adalah binatang itu sendiri. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang pernah melukaimu."
Mereka saling menyentuh pipi, kemudian berciuman mesra, yang semakin panas nan panas. Mereka memainkan lidah di dalam mulut masing-masing, berusaha menikmati kebersamaan mereka. Hingga pada akhirnya, ciuman John mulai merambah ke sekitar leher Mary.
“Kau mau ke kamar, Sayang?” bisik John, “sudah kita lupakan saja konsep waktu, kita harus menikmati waktu berdua.”
“Tentu saja aku mau.” Mary tersenyum.
Mendapat persetujuan, John menggendong Mary, lalu dia bawa menuju ke kamar mereka.
Sesuai apa yang dikatakan olehnya, mereka berniat melupakan konsep waktu karena libur bekerja. Bagi mereka, sepanjang hari kini adalah kenikmatan bersama.
Setiap hari, kegiatan dari penyihir Addy adalah berada di dalam kamar dan bereksperimen. Setiap kali dia ingin menyerah, dia teringat akan bantuan dari John. Kalau saja dia tidak tertolong, mungkin nyawanya sudah tidak ada, dan dia mati di tiang pembakaran. Membayangkan hal itu saja, dia sudah tidak sanggup.
***