Melamar Pekerjaan

1071 Kata
Hari ini Meilani sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum dia menginjak di gedung 17 lantai Lee Luxury Corparation. Setelah mengirimkan lamarannya dari sebulan yang lalu, dua hari yang lalu dia mendapatkan email kalau dia lolos tahap awal lamaran kerjanya. Dia berhak mengikuti tes selanjutnya, yaitu tes wawancara. Dan hari ini adalah hari di mana para lamaran yang lolos seleksi awal akan di wawancara. Kuartal kedua di tahun ini, LLC membuka banyak lowongan untuk berbagai divisi. Yaitu divisi penjualan, pemasaran, produksi, distribusi dan bagian kantor dewan direksi. Meilani yang kebetulan adalah lulusan manajemen bisnis dan perkantoran melamar untuk posisi sekretaris para direktur. Untuk kesekian kalinya Meilani mematut dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya sedap dipandang mata. Wajahnya ia rias minimalis tanpa terkesan menor. Dia tidak suka dandanannya yang mencolok. Wajahnya sudah cantik natural tanpa make up sebenarnya. Hanya saja kali ini demi sebuah tes wawancaranya penampilannya harus menunjang. Jadi dia sedikit memoles wajahnya dengan bedak dan perona pipi yang merah muda tak berlebihan serta memakai lipstik yang berwarna peach. Meilani merapihkan blus putih dengan rok hitam selutut yang dia pakai sebelum dia memakai blazer berwarna hitam ke tubuhnya. Setelah selesai berdandan, Meilani kemudian meraih sling bag nya dan menenteng sepatu high heels warna hitammya keluar dari rumah kontrakannya yang berukuran 5x10 meter persegi itu. "Wah Mbak Meilani sudah cantik dan rapi sekali, mau kemana Mbak?" tanya Evie tetangga kontrakan. Kala itu dia sedang mengepel lantai teras depan rumah kontrakannya. "Melamar pekerjaan Mbak, hari ini ada tes wawancara," jawab Meilani sambil meletakkan sepatunya dan memasukkan kedua kaki kecilnya. "Wah semoga sukses ya Mbak untuk kali ini!" imbuh Evie memberi semangat. "Aamiin. Terimakasih Mbak. Mudah-mudahan kali ini aku lolos dan keterima," ucap Meilani dengan wajah yang penuh optimis. "Semangat Mbak, kalau lolos dan keterima nanti. Jangan lupa nanti traktir saya ya!" ujar Evie UUT (Ujung-Ujung Traktir). "Tenang saja, kalau aku nanti keterima aku bakal traktir makan di mekdi," sahut Meilani. "Siip deh kalau begitu!" ujar Evie mengacungkan jempolnya. Meilani kemudian segera berjalan menyusuri gang rumah kontrakannya yang sempit. Dia harus hati-hati berjalan dengan sepatu high heels-nya jangan sampai dia menginjak kubangan atau jalan yang berlubang. Untuk sampai di depan jalan yang besar tentu saja membutuhkan waktu lima menit lebih. Dan begitu Meilani berhasil sampai di depan jalan besar dia menghentikan sebuah angkot. Untuk sampai di depan gedung LLC, Meilani harus dua kali turun naik angkutan umum. Pertama, dia harus naik angkot menuju sebuah halte bus kota. Dari halte sana akan ada jurusan bus kota yang mengarah ke kawasan perkantoran. Salah satunya adalah gedung LLC. Meilani hanya bisa menggunakan jasa transportasi umum seperti angkot dan bus. Dia tidak bisa membayar lebih untuk ongkos taksi. Sampai di depan gedung itu, Meilani membaca pengumuman di layar LED yang disediakan khusus untuk para pelamar yang akan tes wawancara hari ini. Meilani membaca kalau tes wawancara untuk posisi sekretaris dan bagian marketing berada di lantai 17. Lantai atas tempat di mana kantor para direktur dan Presdir berada. Begitu ramai di lobi gedung LLC karena banyaknya para pelamar yang datang untuk tes kedua itu. Semua pelamar yang datang mempunyai kesempatan yang sama menjadi karyawan LLC. Untuk musim penerimaan karyawan kali ini, LLC tidak membutuhkan kriteria pegawai dengan standar yang tinggi. Semua jurusan dan kampus mana pun bisa melamar dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi karyawan tetap LLC. Ini adalah kelima kalinya dalan tahun ini Meilani melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan. Tetapi dia selalu gagal di lolos tes wawancaranya. Dan kali ini dia harus berhasil lolos. Kalau dari nama kampus, Meilani masih bisa percaya diri, untuk nilai IPK nya pun Meilani hampir menyentuh angka sempurna. Penampilannya juga terlihat meyakinkan. Hanya saja yang kurang darinya adalah dia belum sama sekali mendapatkan pengalaman kerja karena baru lulus kuliah. Begitu sampai di lantai 17, Meilani melihat sudah ada beberapa pelamar yang datang dan menunggu waktu tes wawancara. Ia duduk di sebuah kursi tunggu yang jauh dari para pelamar lainnya. Dia tidak mau bergabung dengan lainnya karena dia merasa paling rendah dan tidak percaya diri. Dari jauh Meilani bisa melihat Gisel berada di antara pelamar yang lain. Satu hal yang membuatnya sedikit gentar. Gisel adalah teman satu sekolahnya dulu. Selain cantik dia juga sangat cerdas. Beberapa kali Meilani sering berpapasan dengan Gisel di berbagai tes perekrutan pegawai di berbagai perusahaan. Dan itu sedikitnya membuat nya tidak percaya diri. Meilani sontak melihat mereka semua seperti sedang mengujinya. Ia sangat tidak nyaman dengan cara mereka memandang rendah dirinya. Karenanya Meilani pergi ke kamar mandi di lantai itu. Setelah dari kamar mandi, dia tidak melihat para pelamar lainnya. Apakah mereka pindah lantai gedung? Saat Meilani hendak mencari tahu dia melihat seorang laki-laki berteriak mengaduh karena kesakitan. Segera Meilani mendekat. "Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Meilani pada seorang laki-laki yang dia yakini adalah pemimpin perusahaan ini. Meilani tidak begitu memperhatikan dan mendengar apa yang dikatakan olehnya. Dia hanya terpaku melihat kaki telanjang laki-laki itu yang terluka karena menginjak pecahan beling. Segera jiwa penolongnya datang. Dia membungkukkan tubuhnya dan menyentuh kakinya untuk mengobatinya. Namun, keputusannya saat itu menyentuh laki-laki itu menjadi garis takdir Meilani lainnya. Merasa dirinya mempunyai kesempatan untuk bisa diterima bekerja di sana, dengan tidak menaruh curiga dia ikut ke ruangan bos itu. Meilani menatap heran tubuh laki-laki itu. Hampir seluruh kulit tubuhnya berwarna merah. Meilani sempat kaget melihatnya, bahkan dia mengira laki-laki itu ialah seorang alien yang bermutasi. Tak disangkanya lagi, Meilani menemukan kenyataan lainnya. Laki-laki itu sengaja menggodanya dan menyentuhnya. Itulah yang membuatnya benci dengan laki-laki. Kenapa laki-laki sering melecehkannya. Meilani terakhir mendapat perlakuan tidak enak ketika saat melamar pekerjaan dan dites wawancara juga. Meilani mendapatkan pelecehan secara verbal oleh para direktur yang mewawancarainya. Pada akhirnya, Meilani keluar tanpa menyelesaikan sesi wawancaranya. Hal itu persis terjadi saat ini, dan ini lebih parah. Bukan pelecehan secara verbal lagi, tapi sudah ke fisik. Laki-laki itu menarik tubuhnya dan menyentuh tubuhnya. Meilani merasa jijik ketika laki-laki itu mendesah pelan karena terangsang oleh sentuhan tangannya yang tidak sengaja dia lakukan itu. Meilani terpaksa mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan besar seperti LLC itu. Dia tidak bisa terima jika bosnya itu adalah orang yang m***m. Meilani meninggalkan lantai gedung itu dengan hati yang menangis. Dia kembali lagi gagal. Padahal ini adalah sebuah kesempatan pertamanya untuk bisa bekerja di perusahaan besar. Teman-temannya mubgkon sudah mempunyai pengalaman bekerja bertahun-tahun.Sedangkan dirinya, ia bahkan baru lulus tahun kemarin karena telat lulus kuliah karena sibuk bekerja paruh waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN