Apa hari ini aku harus kembali ke gedung itu dan bertemu dengan bos m***m itu lagi?
Meilani sudah siap sebenarnya dari tadi untuk berangkat. Tetapi, dia masih ragu untuk berjalan ke luar rumah kontrakannya. Dia masih tidak percaya dan menganggap ini adalah sebuah rencana jahat dari bos m***m itu.
Meilani, kalau kamu tidak menerima pekerjaan ini, bagaimana kamu bisa melunasi hutang-hutangmu. Kau juga kan butuh uang untuk menyambung hidup.
Suara hati Meilani mengingatkan dirinya untuk bisa mengambil kesempatan atau peluang apa pun yang datang padanya.
Ya, itu benar. Kapan lagi kamu bisa dapat kesempatan langka seperti ini. Hilangkan egomu dan logika sedikit saja!
Akhirnya Meilani berangkat juga ke gedung LLC dengan naik taksi. Hari ini dia memakai setelan kemeja warna kuning yang sangat kontras dengan kulit putihnya dan dia padukan dengan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya yang sedikit bergelombang dia ikat tinggi. Penampilannya sungguh fresh dan mempesona.
Hari ini aku akan menjadi bagian dari LLC. Bisakah? Kalau betul, kira-kira berapa gajiku nanti sebulan?
Meilani sudah membayangkan besaran gajinya nanti ketika dia nanti bekerja di sana. Dia menjadi membayangkan kalau nanti dia bisa membayar lunas sisa hutang-hutangnya.
Kaki Meilani akhirnya menginjakkan kakinya di depan gedung LLC yang mewah. Untuk beberapa saat lamanya dia berdiri mematung sambil melihat beberapa karyawan yang juga datang untuk bekerja di gedung itu.
Dengan mengumpulkan rasa percaya dirinya Meilani kemudian melangkah menuju ke dalam gedung. Meilani melihat beberapa karyawan LLC tampak hilir mudik di lobi. Ada yang mengobrol, ada juga yang terburu-buru masuk.
Meilani bingung dia harus berjalan ke arah mana. Karena merasa tidak tahu harus kemana akhirnya Meilani memberanikan diri untuk bertanya ke pegawai LLC bagian receptionist.
“Mbak, maaf saya mau bertemu dengan Pak Frans, saya harus ke lantai berapa ya?” tanya Meilani dengan sopan.
“Dengan Mbak siapa?” tanya receptionist itu dengan ramah.
“Meilani.”
“Oh Mbak Meilani. Anda sudah ditunggu Pak Frans di ruangannya. Silakan naik lift ke lantai 15,” ucap resepsionist itu sambil memberikan sebuah acces card untuk Meilani.
“Terimakasih Mbak,” ucap Meilani sambil tersenyum. Dia merasa betah jika semua karyawan di LLC ramah dan sopan.
Meilani melihat sebuah palang akses masuk yang biasa digunakan untuk para karyawan dan para direktur untuk masuk ke dalam gedung kantornya.
Seorang security tersenyum menyambut Meilani dan mempersilakan Meilani untuk menggunakan acces card nya supaya dia bisa masuk ke dalam gedung kantor LLC.
Dalam hati Meilani sebenarnya dia bersorak. Karena dengan acces card itu dan berjalan dengan para karyawan LLC menuju pintu lift seakan membuatnya seperti karyawan sungguhan. Hal seperti ini lah yang sudah lama dia tunggu-tunggu selama ini.
Beberapa karyawan lain ada yang meliriknya dengan kagum karena kecantikannya. Memang Meilani memiliki paras wajah yang cantik dan memiliki magnet yang sangat kuat untuk menarik perhatian orang.
Meilani sampai di depan pintu lift, semua orang yang melihatnya tersenyum ramah.
“Ke lantai berapa Mbak?” tanya salah satu orang yang masuk ke dalam lift membantu Meilani untuk menekan tombol lift.
“Lantai lima belas,” jawab Meilani sambil tersenyum.
Semua orang yang ada di lift diam-diam terkagum-kagum dengan sosok Meilani. Ia sendiri merasa tidak nyaman berlama-lama di dalam lift dan ingin segera sampai di lantai 15.
Tring
Pintu lift terbuka, Meilani pun berjalan keluar lift dengan diiringi tatapan iri karyawan wanita lain. Kehadiran Meilani membuat semua mata karyawan laki-laki di LLC menjadi fresh karena melihat wajah Meilani.
Sampai di koridor lantai lima belas, Meilani lagi-lagi kebingungan untuk mencari ruangan Frans. Baru saja Meilani hendak bertanya ke karyawan lain yang kebetulan lewat di depannya. Sebuah suara terdengar memanggil namanya.
“Meilani!”
Meilani menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Seorang laki-laki berdiri tegak berwajah ramah dan lumayan tampan tersenyum padanya. Meilani mengerutkan dahinya untuk mengingat siapa laki-laki itu.
“Meilani, selamat datang di kantor Presdir Lee Luxury Corporation!” pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Meilani.
“Saya Frans!”
Agak ragu Meilani awalnya untuk menyambut uluran tangan pria itu. Tapi begitu dia mendengar nama Frans. Ia langsung menyambut tangan Frans.
“Meilani, apa Anda yang meneleponku kemarin?” tanya Meilani.
“Ya, itu saya. Sekarang ikut saya ke ruangan Pak Jonathan,” ucap Frans sambil menunjuk jalan menuju ruangan calon bosnya itu.
Meilani mengikuti langkah Frans menuju sebuah ruangan. Ruangan yang kemarin-kemarin sempat dia masuki saat mengobati kaki Jonathan. Mulai dari sekarang mungkin itu akan menjadi ruangan yang akan sering dia datangi.
Dia memasuki kembali ruangan itu lagi. Frans kemudian terlihat berbicara dengan seseorang di balik meja. Meilani tidak bisa melihat orang itu. Yang jelas itu adalah calon bosnya. Satu hal yang Meilani yakin untuk menerima tawaran dari Frans adalah kalau bosnya itu adalah seorang gay. Dengan kata lain, Meilani tidak akan merasa terancam keselamatan tubuh sucinya dari bosnya itu. Kalau Jonathan seorang gay, artinya memang kemarin hanya sebuah kesalahpahaman saja.
“Meilani, ini adalah atasanmu selama kamu bekerja di LLC. Mulai hari ini kamu resmi jadi sekretarisnya!” ucap Frans kemudian mengenalkan Jonathan secara resmi.
Meilani mengangguk dan mengucapkan salam pada Jonathan, “Selamat pagi Pak!” ucap Meilani agak kaku. Dia sebenarnya agak tengsin setelah kejadian sebelumnya. Jonathan mungkin akan sering mengungkit kesalahannya yang menuduhnya sebagai bos m***m.
“Ya,” balas Jonathan dengan dingin. Dia terlihat sibuk dengan tablet di tangannya.
“Saya Meilani, sekretaris Bapak yang baru. Adakah sesuatu yang harus saya kerjakan pertama kalinya,” ucap Meilani.
Jonathan yang mendengar ucapan Meilani akhirnya baru bisa mengangkat wajahnya dan menatap wajah Meilani dengan wajah yang kurang bersahabat.
“Kau bisa buatkan aku kopi terlebih dahulu!” ucap Jonathan melihatnya sekilas lalu kembali lagi menurunkan wajahnya dan menatap kembali layar tabletnya.
“Oh, kalau begitu. Meilani. Ikut aku dulu. Aku antar kamu ke mejamu dan juga pantry di lantai ini.” Frans dengan senang hati mengantarkannya dan menunjukkan beberapa ruangan pada Meilani.
“Meila, ini tempat mejamu!” ucap Frans menunjuk sebuah meja persis di depan pintu ruangan Jonathan.
“Iya Pak,” ucap Meilani langsung menuju mejanya. Dia memperhatikan beberapa tempat kerjanya itu sebelum dia melepas tasnya di meja.
“Saya harus membuat kopi Pak. Di mana ya pantry nya?” tanya Meilani.
“Aku antar ke sana,” ucap Pak Frans sambil memberi kode agar Meilani segera mengikuti langkahnya.
Meilani pun mengikuti langkah Frans dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat sebuah kesalahan.
“Meilani, kau bersedia kan bekerja di sini?” tanya Frans.
“Sepertinya saya juga tidak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan ini,” jawab Meilani.
“Kalau begitu, baguslah. Nanti aku akan minta Keyra untuk surat kontrak kerjanya,” ucap Frans.
“Baik Pak, terima kasih!” ucap Meilan.
“Meilani, ini tempatnya!” ucap Frans menunjukkan sebuah ruangan yang lumayan luas. Terdapat dua meja bundar yang biasa digunakan untuk para karyawan sekedar santai sambil makan dan minum di sana.
“Oh ya, tapi Pak. Apa Bapak tahu kalau Pak Presdir suka kopi apa?” tanya Meilani yang lupa tadi tidak sempat bertanya pada Jonathan.
“Dia suka kopi hitam yang manis,” jawab Frans.
“Terima kasih Pak,” ucap Meilani yang sangat berterimakasih karena tugas pertamanya kali ini bisa terbantu oleh Frans.
“Ya sama-sama. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku lagi,” sahut Frans kemudian meninggalkan Meilani di pantry.
Meilani segera menghampiri tempat menyimpan cangkir. Menyiapkan kopi untuk Pak Jonathan.
“Meilani!” Tiba-tiba ada suara yang mengejutkannya ketika dia sedang mengaduk kopi. Meilani langsung menoleh ke belakang. Dia terkejut ketika melihat orang yang memanggilnya.