Dimas tiba di rumah dengan wajah lesu. Dia ingin cemburu, ah, tidak, dia memang cemburu. Tapi bodohnya dia tidak bisa menyalurkan rasa cemburunya. Raut wajah Kiandra dalam bayangan Dimas sangat berbeda ketika dia bersama Aldo, dan juga bersama dirinya. Perasaan tidak rela muncul dalam benaknya saat Kiandra harus pergi, walaupun itu bersama teman-temannya. “Wah, kayaknya aku emang udah jatuh sejatuh-jatuhnya,” gumam Dimas. Dimas bangun dari posisi berbaringnya, lalu melepas jaket serta kaosnya, ia berjalan ke arah kamar mandi, dan berniat untuk membersihkan diri. Saat selesai mandi, Dimas mendengar suara pesan berbunyi dari ponselnya. Dimas berjalan mendekati nakas di sebelah tempat tidurnya lalu meraih ponselnya. Kiandra: Di mana? Bisa jemput? Dimas mengucek matanya, dan berkali-kali

