Baginya tidak ada kata tidur, bentuk pengistirahatan diri. Karena setiap kali Mala tertidur di dunia nyata, dirinya terbangun di sini. Begitu juga sebaliknya. Mata lentik itu menutup di atas kasur penginapan, dan terbangun pada kamar sempitnya. Udara dingin seolah hendak membuat tubuh membeku, begitu tirai ditarik terlihat gumpalan putih tipis masih memenuhi halaman rumah. Kabut asap tipis itu masih menimbun rendah, Mala tidak bisa lagi tertidur memilih untuk bersiap sekolah. Seperti dua orang dengan kegiatannya masing-masing. Namun, dia satu orang dengan dua kegiatan. Entah kenapa tubuhnya tidak menaruh lelah berlebih. Lama-lama Mala terbiasa akan perpindahan yang cepat, kegiatannya yang berbeda-beda tergantung di dunia mana dia bangun. Sekarang semua itu bukan hal yang aneh lagi. Air

