Semua orang pasti tidak menyangka jika Galang merupakan seorang introvert aslinya. Kepribadiannya yang tidak bisa ditebak. saya memperhatikan dia, dia mudah sekali dekat dengan siapapun dengan orang baru yang baru saja dia kenal. Poin plusnya dia itu bisa membuat orang baru itu nyaman dekat dengan dia. Cuman memang dia orang yang suka terlalu banyak bicara dan sok tahu tetapi tidak ada yang kosong dari omongan dia. Dia termasuk laki-laki yang pintar dan apa yang dia bahas, tetap nyambung sama saya. Juga wawasan yang dia miliki itu luas dan tidak terbatas di satu hal saja. Banyak hal yang kita perbincangkan Selama perjalanan pulang ke rumah. Ya, Galang mengantarkan saya pulang ke rumah sampai bertemu dengan mamah saya juga dengan papa saya. Ternyata kedua orang tua saya sedang menunggu saya yang tidak kunjung pulang-pulang ke rumah karena mereka berdua tahu, kalau saya tidak pernah keluar malam sampai lewat batas jamnya. Bukan orang tua saya yang menentukan batas waktu anak-anaknya keluar malam melainkan itu diri saya sendiri. Dan akhirnya sudah menjadi suatu kebiasaan untuk saya tidak pernah keluar terlalu malam. Karena orang tua saya sudah tahu akan kebiasaan saya sendiri, jadi setelah mereka melihat anaknya tidak biasanya, tentu saja membuat mereka itu jadi penasaran dan heran. Keluarlah Saya dari mobil Lamborghini milik Galang Vico Pangaribuan. Khususnya Mamah, ketika saya melihat dia, dia sudah langsung tersenyum lebar menatap papa sekilas lalu menatap diri saya yang hendak berjalan mendekati kedua orang tua saya. "Selamat malam Tante, selamat malam Om," sapa Galang kepada kedua orang tua saya dengan sangat ramah dan penuh ceria. Ini yang saya katakan, orang akan mudah menebak dia sebagai pribadi yang cenderung mudah beradaptasi di lingkungan yang baru dan dengan orang-orang yang baru karena memang dia menunjukkan kepribadian yang satu itu tetapi tidak menunjukkan kepribadian sebagai seorang introvert, menurut saya. Bila ada orang yang introvert mudah bergaul dengan siapapun, mungkin memang ada tetapi saya rasa itu sangat jarang.
"Halo, ini namanya siapa, ya?" Mama mulai menyahut langsung. "Nama saya Galang Tante, teman barunya Nayla," jawab Galang. "Maaf ya Tante Om, saya anterin Naylanya terlalu malam," tutur Galang merasa tidak enak hati, saya rasa. Dilihat dari ekspresi wajahnya. Dia juga termasuk laki-laki yang sopan dan tidak terlalu petakilan di depan kedua orang tua saya. Saya sangat tidak suka dengan laki-laki yang terlalu petakilan dan tidak menunjukkan bahwa dia sebagai seorang laki-laki. Tadinya saya berpikir Galang seperti itu orangnya, ternyata tidak.
"Oh, tidak apa-apa. Kamu bisa anterin Nayla itu kapan saja, kok, asalkan kamu bisa menjaga dia," seru Mama sembari mencuri perhatian pada saya dari isyarat matanya yang sudah menunjukkan bahwa dia sangat tertarik dengan Galang. Tentu saja mama itu orang yang sangat matre. Mama melihat Galang itu, okelah, dia memiliki pandangan yang sama seperti saya, tetapi Mama itu orangnya terlalu cuap-cuap dan terlalu blak-blakan sekali. Saya, kan, yang melihatnya jadi merasa sangat risih. Karena Mama ini tentunya pasti sudah langsung menjodohkan saya dengan Galang. Saya memang memperhatikan ke dua hal dari seorang laki-laki. Yang pertama adalah kekayaannya dan juga kedua, fisiknya, tetapi hal yang lebih pentingnya untuk saya juga, saya ingin mengenal secara karakternya. Mama tentunya tidak memperhatikan hal itu juga. Saya ingin seseorang yang bersama dengan saya itu cocok secara karakter juga. Tidak masalah ada perbedaan-perbedaan sedikit cuman setidaknya masih bisa untuk ditolerir. Saya ingin ada persamaan juga dari pemikiran dan cara pandang kita terhadap sesuatu hal yang memang bisa untuk menjadi perbincangan kita berdua, saya dan dengan pasangan saya. itu Mengapa saya juga membutuhkan seorang laki-laki yang pintar untuk bisa mengimbangi kepintaran dari diri saya. Saya tidak ingin ada perbedaan yang terlalu mencolok. Apalagi seseorang tidak ada yang bisa mengimbangi diri saya. Tidak mungkin saya memilih laki-laki yang tidak pintar. Bagaimana dia bisa mengimbangi diri saya kalau dia saja tidak bisa nyambung untuk ngobrol sama saya? Saya tidak mau asal memilih seorang laki-laki saja karena laki-laki yang saya pilih akan menjadi pasangan saya untuk di masa depan. Itu mengapa sangat perlu lu yang namanya saya harus terlalu perfeksionist untuk memilih seseorang. Dan Saya rasa dengan apa yang sudah menjadi prinsip saya tidak membuat saya merasa lagi bersalah atau saya rasa tidak salah juga apa yang sudah saya lakukan di masa lalu. Saya rasa seperti itu. Saya sudah melakukan hal yang benar dan kalau saya masih tetap bertahan mungkin benar yang dikatakan oleh keluarga saya. Saya akan menghadapi banyak masalah ke depannya.
"Mama," tegur papa terlihat merasa malu. Papa pasti menilai Mama sudah terlalu berlebihan. "Sudah diantar ke rumah dalam keadaan yang baik-baik saja pun, juga sudah bersyukur kami, Nak. Terima kasih, ya, udah menjaga Nayla," lanjut papa dengan sikap yang bijak. Tidak seperti mama yang seolah-olah mengajari anaknya itu boleh pulang jam berapa saja dengan asal, laki-laki yang bersama dia itu, ya, terlihat selevel dan sebanding dengan kami.
"Hehe, iya, Om, sama-sama. Pasti dong, pasti bakal saya jagain anak Om yang cantik ini," balas Galang sedikit-sedikit dia berusaha nyepik-nyepik saya. Namun, justru dari yang dia tuturkan itu bikin Mama malah bersikap tambah jadi.
"Iya, lho, Nak, Galang. Anak Tante itu cantik semua. Nggak ada satupun yang jelek anak Tante itu. Dan Nayla ini termasuk yang paling cantik di keluarga kami. Sampai banyak yang suka ngejar-ngejar Nayla, Nak Galang. Makanya harus cepet-cepet dapetin hati anak Tante kalau nggak mau nanti malah keduluan sama yang lain," ucap Mama secara terang-terangan yang membuat saya merasa sangat malu sampai saya bersungut-sungut sama mamah. "Mamah ngomong apaan, sih!" gerutu saya kesal. Saya sampai tidak habis pikir sama mama yang mau bagusin anak-anaknya tapi dia mau bikin saya jadi merasa malu banget di hadapan orang yang baru saya kenal ini. Entah apa nanti yang bakalan Galang pikirkan? Harusnya mama bisa menjaga wibawa mama sebagai orang tua saya juga. Harusnya mama bisa mencontoh sikap Papah yang bijak. Bukan malah yang mempermalukan diri saya di depan orang lain.
"Ah, iya Tante. Tante doain Galang makanya biar bisa yaahhh, diterima sama anak Tante, yah," kata Galang sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya. "Ya, sudah, kalau begitu Galang pamit dulu, ya, pulang," pamit Galang kepada kedua orang tua saya. "Loh? nggak mau nginep aja di rumah Tante?" tawar mamah yang tak digubris pelototan mata saya oleh Mama. Astaga! Mama saya ini benar-benar keterlaluan sekali! Sampai dia harus menawarkan Galang untuk menginap di rumah kami. Itu terlalu berlebihan dan seharusnya tak perlu Mama lakukan. Mama mau mencari perhatian sama orang lain, ya, kenapa harus sampai segitunya juga, sih? Saya, kan, jadi merasa tambah malu. Untuk apa juga? Mama jadi kelihatan ngarep banget sama Galang ini supaya Galang bisa bersama dengan saya. Hanya karena melihat lamborghini-nya Galang saja Mama sudah seperti begininya.
"Ah, enggak Tante. Ngerepotin. Aku mau langsung pulang aja, ya. Selamat malam Tan, Om," lalu terakhir dia melihat ke arah saya. "Aku pulang, ya, Nay," pamitnya kepada saya. Saya hanya mengangguk saja dan tidak mengucapkan apa-apa kepada dia. sampai setelah kepergian Galang itu mama baru protes kepada saya. "Harusnya kamu bisa bersikap yang lebih manis lagi sama dia. Masa dia pulang, kamu cuma ngangguk doang. Kamu bilang hati-hati, kek, atau apa kek. Tunjukin perhatian kamu ke dia, jangan malah bersikap dingin kayak gitu," omel Mama yang sama sekali tak saya gubris. Saya berjalan saja menuju ke arah kamar saya dan tidak mempedulikan mamah yang lagi marah-marah sama saya. Sebelum mama ngedumel ke saya, sudah lebih dulu saya kesal sama mama. Saya itu orangnya begini, kalau saya merasa kesal sama siapapun itu, saya bakal diemin bahkan orang tua saya saja, bakal saya diemin kalau saya kesal sama mereka, terutama sama mamah ini. Dan saya nggak bakal mau memikirkan apa yang Mama bilang ke saya. Tetapi Mama tetaplah mama. Kalau dia belum puas mengungkapkan apa yang menjadi uneg-uneg di dalam hatinya itu, dia tidak akan mau berhenti untuk berbicara.
Saya berpikir kalau saya bisa untuk beristirahat malam itu, tapi nyatanya tidak sama sekali. Mamah tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar saya. "Nayla pokoknya mamah mau kamu deketin cowok yang bernama Galang itu. Kamu harus cari tahu tentang dia, latar belakangnya dan semuanya. Kamu lihat, kan, dia itu sepertinya, dari tampangnya anak-anak orang kaya, dari keluarga yang kaya raya. Circle dia itu pasti bagus dan berkualitas. Mama rasa dia cocok sama kamu Nayla," cerocos Mama tiada henti-hentinya. Saya jojong saja membuka baju saya untuk menyalin nya dengan lingerie yang biasa saya pakai untuk tidur. "Nayla kamu dengerin Mamah nggak, sih!? Mama itu lagi sedang bicara sama kamu! Harusnya kamu itu perhatikan wajah Mama, jangan cuek kayak gitu dong," protes Mamah kesal. Telinga saya ini rasanya sudah seperti mau saya copotin saja supaya saya nggak punya telinga, supaya saya tidak harus mendengarkan ocehan mama yang mulutnya itu terus ngebanyol di malam hari. Padahal ini sudah larut malam dan saya itu mau tidur, besok saya sudah harus bekerja. Saya lagi sedang tidak mau mendengarkan omongan mamah tentang hal apapun dan termasuk tentang cowok. Kamu dia supaya mama bisa berhenti berbicara, saya membalikkan tubuh saya dan memandang Mamah dengan tegas. "Kita lanjutin besok, aja, yah, Mah. Ini sudah malam Mah, waktunya Mamah untuk istirahat. Aku juga mesti istirahat, besok aku ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," terang saya sedikit kelelahan untuk menghadapi mama. Untungnya Mama mengerti dengan keadaan saya. Itulah mengapa akhirnya setelah saya utarakan keinginan saya dengan pelan-pelan dan tanpa emosi, Mama mau menuruti apa yang saya bilang karena sebenarnya Mama juga tipe orang yang tidak mau nurut. Tapi, ya, sebagai anak, saya harus bisa mengemong orang tua saya sendiri dengan watak Mama yang sudah seperti ini bentukannya, saya harus bisa mengerti.
"Oke, oke! Tapi besok, pokoknya Mama mau membicarakan soal Galang itu sama kamu, ya. Jangan kamu abaikan lagi omongan Mamah ini," peringat Mama sambil menunjuk rendah wajah saya dengan telunjuk tangan. "Mamah masih kepengen membahas soal Galang sama kamu. Paham kamu, ya?" Saya hanya menjawab omongan mama dengan berdeham saja. Setelah itu saya menutup pintu kamar saya ketika Mama sudah keluar dari kamar saya. Akhirnya saya bisa juga beristirahat dengan tenang. Malam itu saya tidak mau memikirkan hal yang memberatkan pikiran saya sendiri. Saya tidak mau terlalu banyak memikirkan sesuatu hal yang tidak penting lagi untuk harus dipikirkan. Saya sudah meyakini diri saya kalau saya sudah move on dari masa lalu saya. Meskipun terkadang masih suka teringat, waktu enam bulan sudah berlalu antara perpisahan saya dengan Ryan, tetapi saya sudah mengambil keputusan bulat kalau saya mau move on dari masa lalu saya. Saya ingin membuang hal-hal yang hanya membuat rasa sakit di hati saya. Saya ingin terus berproses maju ke depan dan tidak ingin melihat ke belakang. Untuk supaya tidak terlalu memikirkan hal yang sudah tidak penting lagi, seseorang itu perlu untuk bisa berdamai dengan masa lalunya. Seperti diri saya yang merasa sudah percaya diri kembali. Saya juga tidak ingin hidup dalam rasa bersalah saya. Saya sangat mencintai diri saya karena itu saya terobsesi supaya hati saya tidak terlalu terus-terusan merasa sakit.
*
"Yang datang semalam siapa, Mah? Waktu aku bangun tidur semalem, sempat aku lihat dari jendela, ada mobil Lamborghini keluar dari rumah kita. Emangnya ada tamu, ya, semalam?" tanya kak Shena. Pagi itu saya Kak Shena dan kedua orang tua saya lagi sedang sarapan. Mas Jo tidak ada di rumah dan Mbak Nana juga berada di Bandar Lampung. Suami Mbak Nana itu sebenarnya orang Lampung. Yah, anggap saja Bandar Lampung juga rumah kedua kami. Karena kita pernah tinggal di Bandar Lampung dan Mbak Nana bertemu dengan jodohnya juga di Lampung.
"Ohhh, itu, temannya Nayla. Tapi bakal jadi calon suaminya Nayla," seloroh Mama tadi pikir-pikir dulu sebelum bicara.
"Mamah ini ngomong apa, sih? Jangan terlalu berlebihan begitu kenapa?" protes saya sampai membuat saya kehilangan nafsu makan saya pagi itu.
"Heh! Nayla. Kamu yang kenapa! Memangnya apa yang salah sama omongan Mamah ini? Anggap saja omongan mama itu doa. Doa seorang ibu itu nggak ada yang nggak pernah dikabulkan sama Tuhan. Harusnya kamu jangan marah-marah, tapi kamu harusnya berterima kasih sama Mama yang sudah mendoakan kamu sama laki-laki itu. Mama justru sangat mendukung kamu sama dia," tukas mama dengan ekspresi merengut.
"Kamu ini Mah, kebiasaan banget. Jangan apa-apa itu selalu dipaksakan ke Nayla. Biar Nayla yang menentukan. Dijalanin saja dulu, jangan terlalu terburu-buru. Lagian untuk ukuran baru pertama kali ketemu, mereka masih perlu banyak berkenalan lebih jauh lagi, apalagi kalau mau ke jenjang yang lebih serius. Jangan main asal tunjuk sebagai calon suaminya Nayla saja," nasihat Papa kepada Mama. kali itu Papa berpihak kepada saya karena mungkin tanpa memandang Mama sudah terlalu berlebihan juga. Dan papa memang sudah seharusnya mengambil sikap untuk diri saya supaya saya tidak terlalu ditekan sekali sama mama.
"Papah itu gimana, sih? Kalau nggak terlalu di buru-buru nanti yang ada seperti yang sudah-sudah. Ada saja halangan supaya Nayla bisa menikah dengan laki-laki. Kemarin, mereka sudah terlalu banyak menunda pada akhirnya apa? Ada saja musibah yang terjadi, ya, kan? Dan akhirnya mereka gagal menikah," tutur Mama kembali mengingatkan saya dengan akan masa lalu yang pernah terjadi di dalam kehidupan saya. Ya sudah tidak harus dibahas lagi. Kenapa ketika saya sudah melupakan tentang kejadian di masa lalu malah Mamah kembali mengungkit hal yang sudah tak perlu lagi untuk diperbincangkan di hadapan saya.
"Mereka gagal menikah, kan, karena memang Mama juga tidak setuju dengan Nayla menikah sama Ryan," bantah papa.
"Ya, jelas Mama tidak setuju Nayla menikah sama Ryan. Mana mungkin Mama mau mengizinkan anak Mamah menikah sama laki-laki yang lumpuh. Memangnya orang tua mana juga, sih, yang mau anaknya menikah sama laki-laki yang tidak bakalan bisa menafkahi dia. Papa sendiri juga nggak mau, kan, anak kita itu menikah sama laki-laki lumpuh. Mama sebagai orang tua tidak mau melihat anak Mamah itu menderita. Semua anak mama itu berharga dan tidak boleh asal sembarangan laki-laki saja," pungkas mama. Saya merasa tidak nyaman berada di meja makan yang sama bersama dengan kedua orang tua saya. Bukan masalah tentang kedua orang tua saya nya tetapi topik pembahasannya yang sama sekali tidak saya sukai.
"Tapi di awal, kita juga jangan lupa kalau kita pernah mengizinkan Nayla untuk menikah sama Ryan," ucap papa salah menamparmu mah yang sudah bicara penolakannya tentang soal Ryan. Walau Mama tidak menyukai saya untuk kembali melanjutkan pernikahan sama Ryan yang sebelumnya tertunda tetapi saya tidak menyukai mamah yang terlihat sangat membenci Ryan hanya karena dia lumpuh. Mama juga yang dulunya menggembar-gemborkan saya untuk segera menikah sama Ryan. Setidaknya Mama harus mengingat hal yang pernah dia lakukan sebelum musibah itu terjadi. Saya juga tidak ingin mempunyai pasangan yang tidak sempurna tetapi saya tidak sebenci itu juga kepada Ryan karena saya masih mengingat di mana saya juga pernah mencintai dia. Saya selalu tidak mengatakan hal buruk tentang dia apalagi menjelek-jelekan dia dengan siapapun itu.
"Tapi itu, kan, kejadiannya sebelum musibah Pah. Papa ini gimana, sih?" sungut mama. sementara saya memutar bola mata saya yang sudah mulai jengah dengan pembahasan ini.
"Kita bisa nggak, sih, nggak usah bahas hal-hal yang udah lewat," seru kak Shena. Seharusnya saya yang mengatakan kalimat tersebut, tetapi dia yang lebih duluan mengatakannya. Cuman tidak masalah, saya juga lagi malas untuk berbicara panjang lebar karena saya lebih memilih untuk diam saja. "Shena itu bosan, ya! Selalu yang dibahas itu Nayla, Nayla, dan Nayla! Mama sama Papa itu kenapa, sih, lebih perhatian sama Nayla ketimbang sama diri aku?" gerundel Kak Shena sambil melirikkan matanya kepada saya. Lirikkan matanya itu, loh, yang sinis sekali sama saya. Padahal saya tidak berbuat apa-apa. Mengapa dia harus marahnya kepada diri saya? Saya tidak pernah yang namanya mencari perhatian sama orang tua saya sendiri.
"Ya ampun, Shena. Kamu ini kayak sudah tidak pernah diperhatikan saja sama orang tua. Hidup kamu itu udah kami enakin. Segala macam selalu kami turutin. Apa lagi, sih, yang kurang? Masa kamu ngiriin sesuatu sama adek kamu sendiri. Kamu yang benar aja Shena," marah Mama terlihat tidak terima sama statement dari yang kak Shena katakan. Dia memang orang yang tidak pandai bersyukur dan selalu iri-an terus sama saya. Dibandingkan dengan dia, saya nggak pernah selalu yang namanya iri-an sama kak Shena dan saya malah terkesan tidak peduli dengan apa yang mau dia lakukan. saya tak sekalipun mengusik kehidupan dia tetapi dia selalu yang mengusik kehidupan saya. Rasa-rasanya dia tidak pernah mau membuat saya itu bisa tenang di dalam rumah ini. Selalu saja mencari ulah dan gara-gara sama saya.
"Hey, Shena. Nggak usah kamu bicara yang tidak benar tentang orang tua kamu sendiri. Jangan punya kebiasaan yang buruk. Kalau kamu tidak kami perhatikan tidak mungkin kamu bisa sebesar ini Shena." Jika Papa sudah yang berbicara berhentilah kak Shena untuk tidak berani lagi bicara apa-apa. Melainkan dia memilih memutuskan untuk pergi dari tempat meja makan. Lagian dia bicara yang tidak masuk akal. mengirimkan diri saya padahal kehidupan dia itu jauh lebih enak. Tentu saja karena mamah memaklumi dia yang tidak bisa bekerja keras. Melakukan ini gagal, melakukan itu gagal, hanya meminta modal uang dari orang tua tetapi tidak pernah balik modal ujungnya untuk melakukan bisnis yang dilakukan bersama dengan teman-temannya. Selalu gagal, selalu kena tipu, dan selalu dimanfaatkan. Yang dia jalani hanyalah memamerkan kekayaan di i********: bersama dengan teman-temannya saja, hidup dengan berfoya-foya. Tapi masih saja merasa kurang perhatian dari orang tua, padahal semuanya, apapun yang dia mau sudah dituruti.
"Tuh, liat tingkah laku anak kamu itu. Tidak ada sopan santunnya sama orang tua. Itu akibatnya dari kamu selalu memanjakan dia," ucap apa yang akhirnya Mama kena marah sama papa. Dibanding Papa memang mama yang selalu memanjakan Kak Shena.
"Papa ini gimana, sih, dikit-dikit Mama terus yang disalahin," gerutu mama yang hanya didiamkan saja sama papa kemudian Papa pamitan untuk pergi berangkat bekerja lebih dulu. Selepas dari kepergian papa, mama kembali fokus bicara kepada saya.
"Eh, Nayla, kamu kan mau berangkat kerja kenapa kamu enggak minta jemput saja sama Galang?" tanya Mama yang lebih mendesak dan menuntut saya untuk melakukan ini dan melakukan itu. "Biar kamu itu bisa lebih dekat sama Galang. Kamu nggak usah dengerin apa kata papa kamu itu," lanjut mama lagi yang kali ini, lebih menekan keadaan saya. Saya mulai merasa tidak nyaman dengan sikap mamah yang selalu saja memaksa-maksa saya untuk melakukan apa yang dia mau.
"Mah, Nayla itu sudah terbiasa untuk pergi seorang diri," kata saya tegas.
Mama sekilas menyentuh dahinya dengan ujung jari-jemari tangannya. Lalu, tangannya yang sebelumnya itu mengarah ke saya yang duduk di hadapan mama.
"Nayla kamu jangan bersikap seperti itu dong! Kalau kamu bersikap dingin begini, yang ada cowok-cowok itu tidak mau dekat sama kamu. Kamu seharusnya bisa menjaga sikap kamu untuk lebih ramah lagi. Jangan bersikap sombong dan dingin seperti ini." Saya tidak habis pikir sama mama yang selalu saja menasihati saya kalau sudah urusan laki-laki.
"Mama ini lupa, ya? Aku ini sudah terbiasa hidup mandiri dan enggak pernah yang namanya merepotkan siapapun. Sekalipun aku punya cowok juga aku tidak mau merepotkan mereka," jelas saya sedikit tak bisa saya tahan emosi saya. Mungkin hal lain masih selalu saya turutin yang mama bilang ke saya tapi kadang ada hal yang membuat saya bisa berkeras kepala dan tidak mau mengikuti mau mama karena saya mau melakukan apa yang saya mau lakukan. Hal-hal yang lagi di perdebatkan antara saya sama mama ini sebenarnya hal yang sepele dan sangatlah kecil. Sebenarnya tak perlu harus diperdebatkan juga tetapi tergantung dengan lawan bicaranya juga dengan siapa dan wataknya itu seperti apa. Kalau berhadapan dengan orang yang menyebalkan, ya, jelas mungkin bisa diperdebatkan akhirnya.
"Nayla, cowok itu enggak semuanya suka sama perempuan yang mandiri seperti kamu," tekan mama. Bahkan sampai matanya itu terbuka lebar menatap saya. Seakan-akan pembicaraan seperti ini sangat serius sekali untuk harus dibahas. "Kalau kamu bersikapnya terlalu mandiri seperti ini dan merasa tidak butuh laki-laki, yang ada laki-laki itu merasa tidak dibutuhkan juga sama kamu," nasihat mama yang hampir membuat kepala saya itu mau pecah rasanya.
"Seharusnya kamu menghubungi Galang pagi ini. Buat dia untuk melakukan pendekatan sama keluarga kita," suruh Mamah kepada saya. Saya hampir mau mengacak-acakkan rambut saya ini yang sudah tertata rapi dan lurus sepanjang punggung saya.
"Mah! Aku sama Galang ini nggak punya hubungan apa-apa. Kami juga baru kenal sehari doang tapi Mama sudah membahasnya ke mana-mana. Seakan-akan aku sama dia sudah punya hubungan saja," pungkas saya mulai sudah tidak bisa lagi menahan emosi saya. Saya memutuskan untuk pergi saja dari hadapan Mamah dan tidak berpamitan kepadanya langsung. Tapi mama ternyata tidak menyerah sampai di situ saja, dia malah semakin menggencar saya. Jika Mama, tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak akan mau menyerah. Dan jika anak-anaknya tidak mau menuruti apa kata mama, mama akan semakin memaksanya untuk supaya mereka mau menuruti apa yang mama inginkan. Sebenarnyayang sangat tidak saya sukai dan saya anggap sebagai sikap menyebalkan dari mama ini adalah orang yang suka memaksa-maksa sedangkan saya itu tidak suka dipaksa. Tetapi berhubung saya itu berhadapan langsung dengan orang tua saya sendiri, kadang kalanya saya itu tidak bisa melawan orang tua saya. Karena memang saya dari dulu selalu patuh sama orang tua saya. Tapi semakin ke sini saya merasa semakin seperti boneka saja karena saya tidak bebas untuk melakukan apa yang saya mau dan kadang kalanya, perasaan saya harus saya abaikan. Keinginan saya harus saya kesampingkan lebih dulu demi mewujudkan keinginan orang tua saya terutama pada mama saya itu. Mama saya itu tidak mau selesai pembahasannya sampai di situ saja, dia justru mengejar saya sampai keluar rumah sambil marah-marah juga. Karena saya yang keras kepala dan tidak mau menuruti apa kata mama tetapi yang membuat saya kaget itu adalah ketika saya keluar dari rumah, saya berhadapan langsung dengan Galang yang baru saja keluar dari mobilnya. Saya tidak tahu mengapa Galang bisa tiba-tiba saja ada di rumah saya pagi-pagi begini?
"Nayla? Kamu ini kenapa, sih, tidak mau menuruti apa kata Mama? Kenapa kamu jadi anak yang suka membangkang begini? Apa susahnya, sih, kalau kamu menghubungi Gal,"
Mama ketika melihat Galang tadinya sudah langsung berhenti bercuap-cuap. Saya masih bersyukur karena mama tidak menyebutkan seutuhnya nama Galang, kalau tidak akan membuat saya sangat merasa malu. Sudah di hadapan saya ada Galang dan ternyata pembahasan yang kita ributkan pagi ini juga itu adalah tentang Galang. mau ditaruh di mana wajah saya kalau Galang sampai mendengarnya? Atau kalau mungkin nanti, Galang bisa saja menanyakannya itu di lain waktu dan di lain tempat. Mamah ini terlalu nguber-nguber Galang. Mama terlalu agresif sekali sama Galang. Saya saja sebagai perempuan tidak mau terlihat mengejar-ngejar seorang laki-laki. Bagi saya harga diri adalah harga matinya diri saya. jadi sangat pantangan buat saya untuk mengejar seorang laki-laki karena saya selalu berprinsip bahwa laki-lakilah yang harusnya mengejar diri saya. Karena saya merasa saya adalah perempuan yang mahal.