Pelukan di Selimut

1290 Kata
"Bokap nyokap lo belum pulang?" Kezia masuk rumah lebih dulu, setidaknya sekitar sepuluh langkah di depan Aldo sebelum laki-laki itu melangkah masuk lewat pintu utama. Ucapan masih dijaga laki-laki itu, teringat bagaimana ambisnya Kezia yang benar-benar ingin mengambil keuntungan dari keluarganya. "Lo lihat ada apa nggak? Kalau nggak ada yang berarti di kantor." Kezia melirik miris. "Judes banget Bang jawabnya. Kenapa? Kesel karena nggak jadi jalan sama cewek lo tadi." "Ngapain gue kesel. Cewek gue banyak, hilang satu tumbuh seribu." Kezia hanya geleng-geleng sambil melangkah bersamaan memasuki kamar mereka. "Nggak salah sih kalau gue nyebut lo playboy nomor satu sealumni SMA Bakti Nusa." Aldo tidak sempat menanggapi ucapan Kezia, karena sibuk membuka sweater hitamnya tanpa disadari gadis itu. Tidak men-double kaos apapun di dalamnya, ia langsung mengambil handuk dan bersiap masuk ke kamar mandi. "Eh, Aldo! Lo mau ngapain?" Pertanyaan Kezia sangat tidak masuk akal. Untuk apalagi seseorang sudah melepas bajunya dan membawa handuk ke kamar mandi selain untuk mandi? Aneh. "Main karambol. Ya mandi lah, mau ngapain lagi?" Kezia buru-buru menggeleng dan mengambil handuk kimononya. "Nggak bisa! Gue duluan. Gua yang cewek, jadi lo harus ngalah." Aldo menaikkan satu alisnya. "Apa urusannya ngantri mandi sama jenis kelamin? Lagian juga gue duluan yang punya niat mandi, jadi lo harus mandi setelah gue." "No! Gue duluan." Sebenarnya Aldo malas berdebat, tetapi bagaimana pun juga ia harus mempertahankan hak mengantri pertamanya. "Apaan sih, Zi? Gue duluan lah. Kan gue duluan yang mau masuk." Kezia tetap menggeleng tidak memberikan ijin untuk Aldo. "Tapi lo cowok Al, jadi gue duluan yang masuk karena gue cewek. Paham nggak sih, lo?" Semua keributan itu berlangsung cukup lama sampai setidaknya sebuah dering telepon terdengar. Aldo dan Kezia saling mengecek handphone masing-masing dan ternyata milik Papa Kezia yang menelepon putrinya. "Halo, apa kabar Papa?" Kezia sudah pasti akan sibuk bertelepon, sementara itu Aldo cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. "Hehe, ya nggak apa-apa dong. Kan tandanya Zia selalu mikirin Papa sama Mama juga." Sebentar saja sibuk bertelepon, kesempatan Kezia untuk rebutan kamar mandi jadi gagal. Aldo menang karena ada telepon dari Papanya, jadi mau tidak mau ia harus mengangkatnya. "Awas lo, Aldo!" "Apa, Zia?" Kezia merasa bodoh, ucapan kesalnya ternyata bisa didengar oleh Papanya lewat telepon itu. Bagaimana pun caranya, ia harus mencari alasan tercepat dan masuk akal agar rencananya yang baru disusun kemarin malam itu tidak berantakan. "Itu, Pa. Anu apa, Aldo nakal ngabisin parfum aku sebotol." Begitu alasan Kezia sambil menggigit bibir ragu jika Papanya akan tidak percaya. Untung saja Pandu percaya tanpa mencurigai apapun. Percakapannya dengan putri tunggalnya, terlihat begitu seru. Sampai-sampai Kezia baru sadar ada dering panggilan dari handphone lain. Dan handphone mana lagi kalau bukan milik Aldo. [Panggilan masuk] Rere Kezua memutar bola matanya, waktunya yang sangat pas untuk mengangkat panggilan itu karena Papanya mematikan panggilan dengannya terlebih dahulu. "Halo?" Tidak ada balasan suara di seberang sana. Kemungkinan heran karena yang mengangkat ada seorang perempuan. "Halo, Aldo? Kok suaranya cewek, ya?" Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, menampakkan badan berlekuk sedikit otot milik Aldo saat laki-laki itu hanya mengenakan boxer saat keluar. Pandangan langsung terarah pada Kezia karena sedang memegang handphone-nya tanpa ijin. "Nih." Kezia langsung memberikan handphone itu pada pemiliknya setelah Aldo mendekatinya. "Halo, cewek siapa sih nggak ada. Tadi itu..." Mata Aldo bergerak mengikuti Kezia yang menggerakkan mulutnya dengan berbicara sangat lirih padanya. "Jaga batasan, ini di lingkungan rumah." Aldo menelan salivanya dengan cukup dalam. Berkali-kali seorang gadis di seberang sana menyapa tetapi tidak ada sahutan darinya karena tiba-tiba diam. Sementara kedua peran utama itu sibuk di dalam kamar, suara ketukan pintu yang cukup keras terdengar di depan sana. Seorang pembantu segera berlari dan membukakan pintu utama itu. "Halo Bi, apa kabar? Dimana Aldo?" tanya Galih saat pintu terbuka. "Itu anak dichat read doang," tambah Sergio. "Aldo di rumah kan, Bi?" tanya Fajri mengakhiri semuanya, karena ketiganya buru-buru berlari menuju kamar Aldo. Pintu kamar Aldo diketuk-ketuk tanpa ada kesabaran di sana. Sementara Kezia masih di kamar mandi, Aldo juga baru saja menutup panggilannya dengan Rere. Sebuah rasa takut tiba-tiba menyelimutinya ketika suara dari tiga sahabat karibnya terdengar jelas di balik pintu kamar itu. "Do, lama banget bukanya. Lo lagi ngapain sih di dalem?" Aldo melihat sekeliling, ada beberapa barang Kezia yang terlihat jelas dan sangat tidak memungkinkan bisa dianggap aman jika ketiga temannya itu masuk ke kamarnya. Ia terlalu sibuk memutar otak, hingga baru sadar Kezia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono warna pink-nya. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan panjang, Aldo sontak menarik badan Kezia dan diambrukan ke atas ranjang. Sementara itu, tangannya dengan cepat memasukan benda apapun milik Kezia ke dalam lorong ranjang hingga menutupi meja rias dengan kain yang lebar. Satu yang tidak disadari laki-laki itu, sebuah benda jatuh ke lantai sesaat setelah ia menutup seluruh tubuh istrinya dengan selimut, membuka kunci pintu kamar, dan membaringkan tubuhnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Lama banget buka pintunya, sampe garing pita suara gue." Galih terlebih dahulu protes, sementara kedua laki-laki lainnya justru segera masuk. "Kalian ngapain sih kesini? Nggak ada tugas kelompok juga kan," ucap Aldo yang seolah dibuat kesal. "Ya, emang kita kesini cuma waktu ada tugas kelompok aja? Kan udah biasa kita kesini, kayak sama siapa aja lo Do." Sergio yang pertama duduk di kursi rias, disusul Galih yang membalap Fajri untuk duduk di atas ranjang Aldo. Jadi Fajri mengalah dan berdiri di belakang pintu dengan tangan dilipat di depan d**a. "Tadi lo bilang sama Rere mau ke kantor, eh ternyata sekarang di rumah. Gimana sih lo," cela Fajri. "Tega banget sama cewek sendiri." Aldo memainkan bola matanya. "Yaa— aww!" Sebuah cubitan kecil mendarat di perutnya. Gadis yang baru saja selesai mandi di dalam sana, mungkin merasa kesulitan bernapas karena tindakan Aldo yang ceroboh ini melakukan sesuatu saat mendesak. "Lo kenapa?" tanya Galih. Aldo berusaha tidak terlihat kesakitan, padahal cubitan dari Kezia sepuluh kali lebih terasa daripada minum jus pare. "Nggak, nggak papa. Tadi kayak ada serangga gigit perut gue." Kezia hampir saja mati jika terus-terusan dipeluk Aldo dengan selimut seperti ini. Laki-laki itu sama sekali tidak memberikan celah untuknya bernapas apalagi bergerak. Karena semua rahasia pernikahannya bisa saja terbongkar kalau— "Do! Itu kaki siapa mulus amat?" Mata Fajri tiba-tiba menemukan satu kaki dengan kulit putih mulus yang muncul dari balik selimut. Saat itu juga membuat Sergio dan Galih bahkan Aldo sendiri terkejut. "Do, perasaan setau gue kaki lo nggak mulus-mulus banget kayak gitu." "Iya, itu mah malah persis kaki cewek." Aldo menelan salivanya dengan d**a yang semakin berdegup kencang. "Apaan sih lo Jri, itu kaki gue lah. Kaki siapa lagi, kan di sini cuma gue yang tiduran." Sergio merasa curiga dengan gelagat Aldo yang sedikit ketakutan. "Serius kaki lo?" Dalam hati Kezia menyumpah tidak akan pernah mau dipeluk oleh Aldo. Karena mau bernapas saja susah, apalagi bergerak. Untung saja satu kakinya berhasil dapat oksigen. "Iya, Yo. Udah deh, kalian keluar aja." Aldo tiba-tiba ingin mengusir teman-temannya. "Nanti kalo kalian mau kita ngumpul-ngumpul, chat aja di kafe mana. Nanti gue ke sana." "Lo kan kalo dichat read doang," sahut Galih. "Ya, nanti langsung gue bales. Sekarang keluar aja lo pada." Aldo tidak mungkin bergerak dari tempat tidurnya. Namun ketiga temannya itu berusaha tidak peduli dengan sikap aneh Aldo, mereka justru keluar dari kamar sebelum akhirnya bertemu dengan orang tua Aldo. "Galih! Eh, ada Sergio sama Fajri juga." Balum sempat Aldo menutup pintu dan Kezia yang berusaha keluar dari terkaman selimut suaminya, ternyata musibah lain datang. "Mama." Mata Kezia sontak membulat di dalam selimut sana. Dalam keadaan tidak memakai apa-apa kecuali handuk kimono, membuatnya sedikit risih harus berpelukan terus di dalam selimut agar rencana mereka berjalan lancar. Tapi sayangnya, tidak untuk sekarang. "Ok, siap-siap menamatkan riwayat sama-sama." Hanya itu yang bisa Kezia pasrahkan dari dalam selimut sana dengan mata tertutup. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN