Bab 10. Simalakama

1288 Kata
"Ber—henti, Damian ...!" pinta Andrea putus-putus. Napasnya tersengal, dadanya terasa ingin meledak, penglihatannya mengabur. Damian sudah membuatnya setengah telanjang dengan menurunkan kedua tali daun tidur di bahunya. Tangan pria itu bergerilya ke mana-mana, sementara mulut panasnya terus menginvasi lehernya, menempel seperti lintah. Andrea sudah berusaha untuk menjauhkan pria itu darinya. Dia mendorongnya dengan tenaga yang tersisa, dan tidak berhasil. Damian tetap berdiri di tempatnya, memerangkapnya yang kembali duduk di tempatnya semula. Dari depan pintu kamar mandi yang sudah hampir dibukanya, Damian tidak menggendongnya bridal style ataupun gaya romantis lainnya seperti di drama yang pernah ditontonnya. Pria itu memanggulnya di bahu seperti karung beras dan mendudukkannya kembali di atas meja wastafel. "Damian, stop!" Andrea sudah tidak tahan lagi. Kepalanya seakan meleleh oleh suhu tubuhnya yang meningkat. Rasanya panas. Titik air yang jatuh dari keran shower yang sengaja tidak ditutup Damian tidak berefek apa-apa. Dia tetap berkeringat. "Ja—jangan!" Dengan panik Andrea menahan tangan besar Damian yang merayap di pahanya. Namun, usahanya sia-sia, tangan yang ditumbuhi rambut halus itu terus merayap ke atas, menyentuh bagian paling sensitif di tubuhnya. "Damian!" Andrea memekik tertahan merasakan sesuatu memasukinya. Kepalanya menggeleng, menatap Damian dengan tatapan mengiba. Sayangnya, dia tak berhasil meluluhkan hati pria itu, apalagi membuatnya kasihan dan berhenti. Damian justru menggerakkan jarinya dengan gerakan pelan yang menyiksa. Satu erangan lolos dari mulut Andrea. Damian tersenyum setan mendengarnya. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Andrea, membisikinya. "Jangan kamu bilang? Tapi, tubuh kamu sepertinya menginginkan lebih. Dasar jalang!" Dua bulir air mata menuruni pipinya Andrea. Kata-kata Damian terlalu menyakitkan baginya, terlalu menghina dan merendahkan. Tidak menghormatinya sama sekali sebagai istri. Iya, Andrea mengakui tubuhnya berkhianat, selalu seperti itu setiap kali Damian menyentuhnya. Akan tetapi, pabtaskah kata-kata kasar itu diucapkan kepadanya? Andrea memejamkan mata, menggigit pipi dalamnya. Dia berusaha menulikan indra pendengaran dan mematikan rasa terhadap sentuhan. Dia membiarkan Damian melakukan apa pun terhadap tubuhnya. Selama dia tidak mendengar kata-katanya yang kasar dan vulgar, hatinya tidak akan apa-apa. *** Damian meninggalkan rumah tanpa memberi tahu Andrea, apalagi menunggunya yang masih berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Bukan tanpa alasan, ia sudah sangat terlambat. Siapa yang menyangka Andrea ternyata seenak itu, membuatnya merasa tidak cukup memasukinya hanya sekali saja. Meskipun, yeah, seperti bermain dengan boneka karena Andrea tidak membalas sentuhannya, ia tetap menikmatinya. Genero tersenyum lebar saat melihat atasannya. Pria berusia akhir tiga puluhan itu bangkit dan langsung menghampiri Damian menyambutnya. "Anda datang hari ini, Tuan!" Genero membukakan pintu untuk atasannya. Ia mengekor di belakang Damian, memasuki ruangan pria itu untuk memberi tahu jadwalnya hari ini. "Jadwal Anda!" Ia menyodorkan tablet pintar pada Damian, meletakkan di atas meja tepat di depannya. Damian berdecak. Baru saja ia duduk di kursi kebesarannya, sudah diberi pekerjaan saja. "Bisakah saya duduk dengan baik terlebih dahulu sebelum kamu memberi tahu apa saja yang harus saya kerjakan hari ini, Genero?" tanyanya tanpa menyembunyikan kekesalan dalam nada pertanyaannya. Genero tersenyum, lagi. Ia terlalu gembira hari ini karena tidak perlu menggantikan Damian menangani beberapa urusan di perusahannya Kepalanya berdenyut karena kurang tidur. "Maafkan saya, Tuan Damian, tapi ini perintah dari Nyonya Leonor." Genero mengangguk hormat. "Tunggu sebentar!" pintanya, lantas berlari keluar ruangan. Tak sampai dua menit, Genero sudah kembali berada di depan Damian dengan setumpuk berkas di tangannya. Ia meletakkannya hati-hati tepat di samping tablet pintar yang belum disentuh sama sekali oleh Damian. "Masih ada satu tumpukan lagi di meja saya, Tuan Damian!" Genero menunjuk ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. "Saya sudah mengecek semuanya, Anda tinggal menandatanganinya saja." Damian menarik napas, mengembuskannya melalui mulut bersamaan dengan menyadarkan punggung. Sebanyak ini pekerjaannya, ia tidak yakin dapat menyelesaikan dalam satu hari. Sepertinya, ia tidak dapat menepati janji pada Sherina untuk kembali bertemu malam ini di apartemennya. Ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu agar nyonya besar yang terhormat tidak menaruh curiga. Mamanya adalah orang yang paling ditakutin Damian di dunia. Entah bagaimana caranya, Mama selalu saja tahu apa yang dilakukannya. Hubungannya dengan Sherina juga Mama yang paling menentang. Keluarganya yang lain, termasuk Papa, hanya mengikuti Mama meskipun sama tidak setuju juga. Padahal, Sherina perempuan yang manis dan penurut. Yang paling penting, permainan Sherina di ranjang sangat hebat. Sherina mampu mengimbanginya, juga tidak segan meminta. Itu adalah alasan kenapa ia bisa tertarik pada Sherina. Jika dibandingkan dengan Andrea, keduanya jelas berbeda jauh. Sherina itu seperti kobaran api yang siap melahap apa saja, sementara Andrea adalah air di dalam kolam yang tidak akan bergerak bila tidak disentuh. Tidak. Air masih lebih baik dari Andrea. Perempuan itu tidak tahu apa-apa bagaimana cara memuaskannya di atas ranjang. Andrea hanya diam, tidak bergerak seperti boneka kayu. "Saya akan menandatanganinya nanti, Genero, setelah saya bernapas!" kata Damian memberikan tatapan laser pada asisten sekaligus sekretarisnya itu. "Kamu keluar dulu!" Ia mengibaskan tangan mengusir Genero. "Saya akan memanggil kamu bila semuanya sudah selesai." Genero mengangguk. Ia memutar tubuh, melangkah lebar meninggalkan ruangan pribadi atasannya. Namun, satu menit kemudian, ia kembali memasuki ruangan itu dengan satu tumpukan berkas di tangannya. "Berkas kedua, Tuan Damian!" Genero tersenyum tanpa dosa. "Anda harus menyelesaikannya hari ini juga agar besok dapat menyelesaikan yang lainnya." Damian mendengkus kasar. Ia tidak menyahut, hanya mengibaskan tangan menyuruh Genero untuk keluar. Ia benar-benar perlu sendri selama beberapa saat sebelum menyelesaikan pekerjaan. Tangan Damian terangkat, memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Melihat banyaknya tumpukan kertas di mejanya membuatnya ingin melemparkan semuanya saja. Malam ini rencananya ia tidak akan pulang ke rumah, tetapi ke apartemennya di mana Sherina menunggu. Ia tidak memiliki alasan untuk pulang, Andrea belum tentu menunggunya. Mereka tidak saling mencintai, tidak seperti dirinya dan Sherina. Lagi pula, rumah itu bukan miliknya, melainkan milik Andrea. Seperti yang dikatakannya waktu itu, ia memberikannya sebagai imbalan Andrea yang sudah mengizinkannya menjadi pembuka segel pertama bagi perempuan itu. Ia akan pulang di mana seseorang menunggunya, dan itu bukanlah rumah Andrea. Baru saja Damian memegang pena untuk memulai pekerjaannya, dering ponselnya di atas meja menginterupsi gerakan tangannya. Ekor matanya melirik ke arah benda tersebut, segera meraihnya melihat nama yang tertera di layar ponsel sebagai penelepon. Yang Mulia Nyonya Besar Leonor Oliver. "Mama, ada apa menghubungiku pagi-pagi?" tanya Damian begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya. "Aku sedang di kantor...." "Ternyata kamu masih hidup." Kalimat itu memotong perkataan Damian. Beberapa detik, ia tidak dapat menjawab, otaknya kosong seketika. Apakah Mama sudah mengetahui apa yang dilakukannya? Jika iya, siapa yang memberi tahu? Apakah Andrea? Keterlaluan sekali jika memang benar Andrea. Ia akan memberinya pelajaran nanti agar tidak ikut campur urusannya sembarangan. "Mama pikir, kamu sudah mati sehingga Mama nggak dapat menghubungi kamu. Damian Oliver, kamu ke mana dua hari kemarin? Awas saja jika Mama sampai tahu kamu bersama perempuan tidak tahu malu itu. Mama tidak akan segan mengambil alih semua aset kamu!" Ancaman itu lagi. Damian memutar bola mata bosan. Ia tidak pernah takut pada ancaman Mama, bukan karena ancaman itu yang tidak serius, melainkan karena ia yakin pasti bisa bangkit lagi jika Mama benar-benar melaksanakan ancamannya. Jika harus kehilangan perusahaannya, ia bisa bekerja di tempat lain. Masih banyak perusahaan yang mau menampungnya. Kemampuan bisnisnya yang tajam pasti akan membuat banyak perusahaan memperebutkannya untuk bekerja dengan mereka. Ia lebih rela kehilangan asetnya daripada kehilangan kebebasan. Bersama Sherina, ia bisa melakukan apa pun tanpa ada yang melarang. "Bekerjalah sungguh-sungguh, Damian. Jangan sampai membuat Mama merasa keputusan Mama salah karena sudah memberikan tanggung jawab itu kepadamu." Damian menegakkan punggung. Ia tidak pernah ingin membuat Mama kecewa, ia hanya ingin kebebasan dalam memilih jalan hidupnya. Ia ingin bersama perempuan yang dicintainya, bukan perempuan pilihan orang tuanya. Suara Mama terdengar serius, tetapi juga menyakitkan di telinga Damian. Sebagai putra satu-satunya, ia tahu betapa besar harapan Mama kepadanya. Damian memencet pangkal hidungnya. Haruskah malam ini ia pulang ke rumah Andrea, atau kembali ke apartemennya menemui Sherina untuk menghabiskan malam panas bersama? Damian mendengkus kasar. Ia seperti buah simalakama saja yang menyedihkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN