Guncangan kuat di bahunya membuat mata Andrea terbuka dengan cepat. Mata indah itu berkedip beberapa kali sebelum terbuka sempurna dengan lebar saat melihat sosok yang berdiri tepat di sampingnya berbaring.
Damian.
Pria itu sudah pulang, entah kapan. Wajahnya terlihat kusut dan tidak terawat, padahal hanya dua hari saja di luar sana. Rambut halus terlihat menebal di rahangnya, membuatnya terlihat lebih ... macho?
Andrea menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran liar yang tiba-tiba melintas. Bagaimana mungkin dia berpikir jika pria kejam seperti Damian bertambah tampan setelah tidak pulang selama dua hari?
Sepertinya, otaknya bermasalah. Ataukah ini adalah efek bangun terlaku cepat? Damian tidak terurus, tidak ada tampannya sama sekali. Otaknya memang sudah rusak sehingga berpikir seperti itu. Mungkin ada tali saraf yang putus akibat dia bangun dengan tiba-tiba.
"Kenapa menatapku seperti itu, Andrea?" tanya Damian. Suaranya serak. Dia terlalu banyak menenggak Vodka tadi pagi sebelum pulang sehingga kepalanya terasa sedikit berdenyut.
Hanya sedikit, dan ia tidak mabuk. Vodka, berapa pun banyaknya tidak akan dapat membuatnya hilang kesadaran. Efek paling besar hanyalah kepalanya yang berdenyut.
"Tidak ada apa-apa!" Andrea menggeleng cepat sambil tangannya menyibak selimut. Lalu, secepat itu juga dia turun dari tempat tidur, menjauh dari Damian.
Langkah Andrea menuju kamar mandi dengan cepat. Namun, satu detik sebelum tangannya menyentuh pegangan pintu, tangan besar Damian lebih dulu menghalanginya.
"Da—Damian...."
"Saya nggak mabuk, Andrea. Saya cuma minum sedikit aja buat menghangatkan badan saya," kata Damian menjelaskan.
Andrea mengangguk kaku. Dia berusaha keras melakukannya, tersenyum lega di dalam hati setelah berhasil. Senyum yang hanya bisa di dalam hati.
Andrea juga menahan napas. Aroma parfum yang menyengat dari tubuh Damian membuat perutnya terasa seperti diaduk. Tidak hanya karena wangi parfum tersebut yang semerbak, tetapi juga karena aroma alkohol yang menguar dari tubuh pria itu.
Keduanya berpadu pada Damian. Menghasilkan aroma yang benar-benar membuat mual siapa pun yang menciumnya. Ataukah, hanya dirinya yang menciumnya karena pikirannya yang sudah ke mana-mana?
Mengingat Damian yang baru pulang setelah dua malam, tidak mungkin pria itu tidur di jalanan, kan? Apa mungkin yang dikatakan Leonor benar, Damian menemui kekasihnya?
Berpikir kemungkinan itu terjadi lah yang membuat perutnya bergolak. Susah payah Andrea menahannya agar sisa-sisa makan malamnya tadi malam tidak keluar.
Untungnya, dia berhasil. Damian menjauh darinya, melangkah sedikit terhuyung ke kamar mandi.
Sialnya, tubuhnya berkhianat untuk yang kesekian kali. Andrea refleks turun dari tempat tidur, menangkap Damian yang nyaris limbung.
"Kamu kenapa?" tanya Andrea Pertanyaan yang sangat konyol karena dia sudah tahu jawabannya. Damian mabuk, dan dia masih saja bertanya.
Di hatinya, harapan Damian yang bertanggung jawab atas pernikahan mereka dan tidak mengkhianatinya, masih ada. Meskipun setipis tisu, tetapi dia masih mempertahankan dan terus berusaha untuk yakin.
"Andrea!" Damian menegakkan tubuh, menatap tajam tubuh mungil yang memapahnya.
Andrea mengenakan gaun tidur, bukan piyama, tetapi juga bukan lingerie. Hanya gaun tidur biasa, itu pun terlihat menawan dan menggairahkan di mata Damian yang tertutup alkohol.
Andrea sudah merasakan firasat tidak enak beberapa detik setelah Damian menyebut namanya. Alarm tanda bahaya di kepalanya berbunyi, tetapi dia berusaha mengabaikan.
Andrea memang masih terlalu naif, selalu berusaha berpikir positif dan menganggap semua pasti akan menjadi baik pada akhirnya. Seperti pada Damian, dia berusaha menyakini jika pria itu tidak akan melakukan apa pun kepadanya.
Namun, semuanya gagal saat tangan pria itu berpindah dari bahu ke pinggangnya, mencengkeram kuat. Damian menyeretnya ikut masuk ke kamar mandi, mendudukkannya di atas meja wastafel. Kedua tangan pria itu menumpu di sisi meja di kiri kanannya, mengurungnya.
"Da—Damian, kamu ... ma—mau ngapain?" tanya Andrea terbata. Napasnya memburu, bukan karena gairah, tetapi karena takut. Meskipun pada akhirnya dia menikmati setiap sentuhan Damian, tetap saja dia tidak menginginkannya.
Andrea berusaha menjauhkan Damian darinya, mendorong d**a pria itu dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Sayangnya, dia kalah. Tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu yang walaupun dalam keadaan setengah sadar tetap kuat dan fokus seperti biasa.
"Kenapa?" Damian balas bertanya. Ia menjatuhkan kepala di bahu Andrea yang terbuka. Gaun tidurnya hanya memiliki seutas tali penyangga yang sangat kecil dan tipis.
Damian menghirup rakus wangi vanilla yang menguar pekat dari cerukan leher Andrea. Ia membenamkan kepalanya di sana.
"Lepas!"
Refleks Andrea mendorong kepala itu. Dia juga mengedikkan bahu, berusaha menghindar.
"A— aku mau beres-beres...."
"Nggak!" potong Damian, menahan tubuh Andrea yang berusaha turun dengan lengannya. "Kamu di sini aja, temani saya mandi."
Andrea menggeleng cepat, menolak tegas permintaan itu. Namun, gerakan kepalanya terhenti tiba-tiba bersamaan dengan pekikan antara kaget dan kesakitan keluar dari mulutnya.
Damian menjambak rambut Andrea kuat. Mata ambernya memicing, menatap dingin perempuan itu yang terus bergerak, memberontak untuk lepas.
Damian paling benci dengan penolakan. Sejak kecil, tidak pernah ada seorang pun yang berani menolak keinginannya. Lalu, perempuan yang berstatus sebagai istrinya melakukannya. Penolakan yang terjadi pertama kali di hidupnya.
"Kamu pikir, kamu siapa?" Suara Damian dingin, tatapannya tajam mengintimidasi. "Kamu istri saya, dan sudah seharusnya kamu menuruti semua keinginan saya. Jangan kamu pikir kamu bisa melawan cuma karena Mama saya memihak kamu."
Andrea masih berusaha menggelengkan kepala untuk membantah semua yang dikatakan pria itu. Dua bulir bening menuruni pipinya tanpa dapat ditahan. Bukan hanya karena kuatnya jambakan di rambutnya, tetapi juga karena kalimat kejam dari kulit Damian.
Pria itu bahkan sepertinya belum puas melihatnya menangis kesakitan. Damian kembali menambahkan dengan tanpa perasaan.
"Saya nggak mencintai kamu Andrea, jadi bersikaplah manis dan penurut kalau kamu masih ingin tetap berada di samping saya. Jangan pernah membantah, apalagi menolak apa pun yang saya perintahkan karena saya paling nggak suka dibantah. Kamu paham?" tanya Damian. Ia memperkuat jambakannya di rambut hitam Andrea, mendongakkan kepala itu agar menatapnya.
Andrea tidak bersuara. Dia kehilangan suaranya sejak Damian memperlakukannya dengan kasar. Hanya air mata yang terus jatuh.
Pipinya basah. Padahal, dia sudah mencoba sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh, tetapi tidak berhasil. Mereka lebih kuat, dapat merobohkan benteng pertahanan terakhirnya hanya beberapa detik saja.
Kejamnya kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Damian semakin menghancurkannya. Semua itu lebih menyakitkan daripada jambakan kuat di rambutnya.
"Bersikaplah sebagai istri yang baik dan penurut, saya nggak akan menyakiti kamu."
Damian melepaskan tangannya dari rambut Andrea dengan kasar. Kepala perempuan itu terbuang ke kanan dengan kuat. Ia mengabaikan, melangkah sedikit sempoyongan ke arah keran shower.
Tanpa memedulikan keberadaan Andrea di kamar mandi, Damian melepaskan semua yang melekat di tubuhnya sebelum berdiri di bawah keran shower. Ia harus membersihkan tubuh sebelum berangkat ke kantor. Kesadarannya hanya separuh, tetapi ia masih ingat akan tanggung jawabnya pada pekerjaan.
Andrea turun pelan-pelan. Dia tidak ingin terus di sini, harus keluar dari kamar mandi. Kepalanya sedikit berdenyut, pusing setelah Damian melepaskannya dengan kuat tadi. Dia memerlukan obat pereda nyeri.
"Tetap di sana, Andrea. Jangan ke mana-mana!"
Kalimat bernada perintah itu menghentikan langkah Andrea. Tubuhnya seketika kaku, tidak dapat digerakkan, bahkan sekedar untuk menggelengkan kepala lagi dia sudah tidak dapat melakukannya.
Langkah kaki Damian terdengar dingin di balik punggungnya. Andrea tidak berani berbalik, apalagi melarikan diri keluar kamar mandi meskipun sudah mendapatkan kendali atas dirinya lagi.
Sepasang lengan melingkari perutnya dari belakang membuatnya menggigil. Andrea menundukkan kepala pelan-pelan hanya untuk mengintip lengan besar berbulu yang memenjarakannya dengan erat.
"Saya nggak menyuruh kamu buat keluar." Damian berbisik di telinga Andrea. Ia menundukkan kepala dan menurunkan sedikit tubuhnya untuk dapat mencapai telinga istrinya. Tinggi Andrea hanya sebatas dadanya.
Damian tidak hanya berbisik, tetapi juga menggigit dan mengulum daun telinganya. Andrea menggigil ketakutan, tetapi mulutnya justru mendesah. Buru-buru dia menggigit pipi dalamnya, mencegah suara laknat lainnya agar tidak keluar.
Andrea mengerang dalam hati. Menyesali tubuhnya yang tidak pernah bisa dikendalikan setiap kali berada di dekat Damian. Dia juga menyesali sifatnya yang selalu menurut. Seandainya dia bisa melawan, seandainya dia bisa mengucapkan penolakan.
Damian tidak berhenti pada daun telinga Andrea saja, mulutnya terus merambat ke leher, meninggalkan jejak di kulit mulus di sana dengan kecupan-kecupan basah. Sesekali ia membenamkan mulutnya di sana, memberikan tanda kepemilikan yang tidak akan hilang beberapa hari.
Wangi tubuh Andrea membuainya. Perpaduan vanilla dan entah wangi apa membuat Andrea terlihat terlihat seperti potongan cake manis.
Damian tidak menyukai makanan manis, tetapi tidak dengan makanan manis yang bernama Andrea Carolina.