Bab 8. Cemburu?

1332 Kata
Andrea menahan napas, dia ketahuan. Siapa yang menyangka jika Genero Bramasta menghubungi ibu mertuanya lebih dulu dan memberi tahu beliau kesabaran Damian. "Maaf, Mama, tapi aku nggak bohong." Andrea menundukkan kepala. Meskipun berada di negara yang berbeda, dia tetap merasa tatapan tajam Leonor mengintimidasinya. "Damian mungkin memang lagi ada meeting." "Baiklah, Mama percaya sama kamu." Andrea mengembuskan napas dengan pelan dan hati-hati. Dia tak ingin Leonor mengetahui betapa lega dirinya karena tidak dituntut untuk memberikan alasan lebih detail. "Oh, iya! Mama hampir lupa. Mama dengar kalian pindah ke rumah baru. Benarkah? Kenapa pindah? Apa di mansion nggak menyenangkan? Apakah pelayan nggak melayani kamu dengan baik?" Andrea menggeleng cepat. "Nggak Mama, nggak kayak gitu! Aku cuma ngerasa mansion terlalu besar buat aku tinggal. Rasanya sepi banget Mama sama Papa nggak ada makanya aku minta Damian buat pindah." Andrea menggigit bibir setelah mengucapkan kalimat panjang itu. Dia berbohong meminta Damian pindah. Meskipun tidak sepenuhnya, tetapi sejak awal yang menginginkan pindah ke rumah yang lebih kecil adalah dirinya. Namun, Andrea merasa jika itu bukan hanya keinginannya semata, Damian juga menginginkan untuk pindah. Mungkin agar dapat tidak pulang seperti ini sehingga pria itu langsung menyetujui permintaannya satu minggu setelah mereka menikah. "Benarkah?" Nada pertanyaan Leonor yang terdengar gembira membuat kedua sudut bibir Andrea melengkungkan senyum. Lupa jika Leonor tidak sedang berada di dekatnya, tetapi beratus-ratus mil jauhnya, dia mengangukkan kepala menjawab pertanyaan itu. "Syukurlah bila Damian mau melakukannya. Dengarian Mama, Andrea! Kamu harus berani untuk meminta semua yang kami inginkan kepada Damian. Lebih baik dia menghamburkan uangnya buat kamu daripada buat perempuan penggoda itu. Mama sangat tidak rela!" Andrea mengembuskan napas melalui mulutnya. Ada bagian dirinya yang terasa perih mendengarnya. Perempuan penggoda. Kata-kata itu bukan disematkan kepadanya, melainkan untuk kekasih Damian yang entah siapa namanya. Akan tetapi, tetap saja dia merasa nyeri di dalam sana. Jantungnya yang berdetak dua kali lipat lebih cepat seperti ada yang meremas. Sebuah tangan raksasa tak kasat mata. Dia bukanlah seorang yang percaya cinta pada pandangan pertama. Andrea juga bukan seorang yang mudah tergoda dan jatuh pada pesona seorang pria, apalagi yang baru dikenalnya. Namun, kali ini Andrea tidak dapat menghindari pesona Damian. Pancarananya terlalu kuat sehingga membuatnya silau dan harus takluk. "Sayang, Mama akan menghubungi kamu lagi nanti. Sekarang, Mama harus tidur barang sebentar sebelum pagi." "Iya, Mama!" Andrea mengangguk. Dalam hati mengembuskan napas lega, selega-leganya. "Selamat tidur. Mama nggak perlu mikiri apa pun di sini, semuanya baik-baik aja," katanya berusaha meyakinkan. Iya, semuanya di sini, di rumahnya, memang baik-baik saja. Kecuali, hatinya yang kini tengah dilanda badai. Otaknya terus saja mengingat perkataan Leonor tentang perempuan penggoda. Entah siapa sebenarnya perempuan penggoda. Perempuan itu yang adalah kekasih Damian, ataukah dirinya yang merupakan istri sah? *** Sudah sore, tetapi masih belum ada kabar dari Damian. Nomor kontak ponselnya masih belum dapat dihubungi, alat komunikasinya masih dalam keadaan tidak aktif. Andrea sudah berusaha untuk tidak peduli, tetapi dia tidak bisa. Dia tetap memikirkannya, memikirkan Damian yang entah berada di mana. Bik Wati sudah beberapa menelepon Damian, tetap tidak dapat tersambung. Selalu saja operator yang menjawab. "Bu, kayaknya Tuan Damian nggak pulang lagi malam ini," kata Bik Wati dengan suara tercekat. Dia mengalami sedikit syok dengan kelakuan majikannya. Damian bertingkah seperti ini bukan yang pertama kali, tetapi entah untuk yang ke berapa kali. Itu memang bukan urusannya sebagai pelayan meskipun sudah senior. Hanya saja, dia merasa kecewa karena berpikir majikan mudanya sudah berubah setelah menikah. "Iya, kayaknya emang gitu." Andrea mengangguk. "Bibik masak jangan banyak-banyak, ntar nggak kemakan jadi mubazir, sayang." Bik Wati menemui Andrea untuk bertanya menu makan malam mereka malan ini. Siapa tahu Bu Andrea ingin menyenangkan Tian Damian dan merebut hatinya melalui masakan. Namun, sampai sekarang saat matahari hampir tenggelam di ufuk barat, Tuan Damian masih belum terlihat. Itulah kenapa dia berani mengingatkan apa yang dipikirkannya. "Ibu mau makan apa malam ini biar bibik masakin!" kata Bik Wati. Binar di wajah dan sinar matanya sudah kembali seperti biasa. "Saya terserah bibik yang masak aja," jawab Andrea. "Saya pemakan segalanya, lho, Bi. Apa aja saya makan, apalagi bila udah kelaperan." Andrea mengikik geli, kepalanya menggeleng. Ternyata lawakannya lucu juga. Sepertinya, dia memang memiliki bakat sebagai pelawak, meskipun jawabannya tidak selucu itu, tetapi tetap dapat membuat orang tertawa. Lebih tepatnya dapat membuat dirinya sendiri tertawa. Bik Wati ikut tertawa kecil. Dia senang nyonya mudanya tidak lagi terlihat bersedih. "Saya masak sekarang, Bu," katanya mohon diri. Andrea mengangukkan kepala. Dia sendiri lantas bangkit dan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Entah malam ini dia akan menunggui Damian lagi atau tidak, lihat nanti saja. Sekarang, dia ingin beristirahat dulu untuk menenangkan pikirannya yang semakin kacau. *** "Yang, malam ini kamu tetap sama aku, kan?" Sherina mengusap d**a Damian yang dipenuhi bulu-bulu halus dengan jari telunjuknya. Sesekali dia melabuhkan bibirnya di d**a bidang itu dan memberikan tanda kepemilikan. "Kita udah lama nggak ketemu, masa kamu nggak kangen sama aku?" Sherina menegakkan tubuh. Bibir mungilnya yang membengkak, mengerucut, pipi menggembung menatap Damian. "Aku masih kangen banget sama kamu, nggak mau pisah cepat-cepat." Damian hanya menanggapinya dengan gumaman datar. Tangannya bergerak cepat meraih tengkuk Sherina dan menariknya menyatukan bibir mereka. Bukan Damian yang melumat rakus bibir Sherina, melainkan perempuan itu. Sherina sangat liar dan selalu mencoba untuk mendominasi setiap permainan panas mereka. Sayangnya, tidak pernah berhasil karena ia selalu dapat mematahkan dominasinya yang tidak ada apa-apanya. Damian menjambak rambut Sherina. Tersenyum dingin mendengar pekik kesakitannya yang bercampur dengan pekikan karena terkejut. Sedetik kemudian, ia sudah membungkam mulut itu yang masih meringis saja. Terdengar berisik dan sangat menganggu, tetapi juga membuatnya semakin b*******h. Ia bukan sekarang masokis, hanya suka saja saat seseorang memohon di bawahnya meminta dimasuki atau pun memintanya untuk berhenti. Ia semakin merasa tertantang untuk berbuat lebih. Damian berdiri, mengeluarkan Damian kecil dari sangkarnya. Lantas membenamkannya ke mulut Sherina yang terbuka saat perempuan itu kembali memekik karena ia yang menjambak rambutnya semakin kuat. "Seperti permintaan kamu, b***h, saya nggak akan ke mana-mana malam ini. Saya akan buat kamu nggak bisa jalan sampai seminggu." Sherina bergidik mendengarnya, tetapi juga berteriak gembira di dalam hati. Dia akan terus bersama Damian sepanjang malam ini. Tidak akan disia-siakannya, dia akan membuat malam ini malam yang lebih panjang dari sebaliknya untuk mereka berdua. Sherina tersedak, hampir mengeluarkan makan malamnya yang sudah pasti belum dicerna karena baru beberapa menit yang lalu dia dan Damian selesai makan malam. Kepala si kecil menyentuh anak lidahnya, membuat perutnya bergolak. Namun, Damian tidak berhenti, justru menggerakkan kepalanya maju mundur semakin cepat. Entah sudah berapa kali Sherina tersedak barulah Damian kecil menyemburkan laharnya yang panas. Dia menelan semua yang tertampung di mulutnya, lalu membersihkan si kecil yang masih berdiri tegak dengan indra pengecapnya. Damian menggeram tertahan. Tangannya bergerak cepat mendorong Sherina kuat sampai perempuan itu jatuh telentang di sofa panjang yang mereka duduki. Sofa tersebut satu-satunya yang berada di kamarnya di apartemen ini. Si kecil yang masih berduri dengan gagah meskipun sudah menyemburkan laharnya satu kali langsung menerobos memasuki Sherina. Perempuan itu tidak mengenakan apa pun di balik kemeja tipis kebesaran yang menutupi tubuhnya. Damian bergerak tanpa memberi Sherina jeda, mengentak keras, membenamkan Damian kecil semakin dalam pada Sherina. Di lain tempat, di kamarnya, Andrea menarik napas panjang sudah entah untuk yang ke berapa kali. Malam sudah semakin larut, dan masih belum ada tanda-tanda dari Damian ajab pulang. Apakah malam ini akan seperti tadi malam, Damian tidak pulang? Tidak. Bukan kebutuhan biologis yang diinginkan Andrea, dia malah tidak menyukainya. Kesan pertama saat segelnya dibobol hanya ada rasa sakit. Meskipun berubah enak pada akhirnya, tetap saja rasa sakitnya yang lebih dominan dan melekat hingga saat ini. Apalagi, Damian melakukannya dengan kasar. Rasa-rasanya, seandainya saja bisa, dia tak ingin melakukannya lagi. Yang sekarang dirasakannya hanyalah rasa tidak suka dan kecewa. Rasa itu semakin besar menggerogotinya setiap kali membayangkan Damian bersama perempuan lain. Dadanya terasa sangat sesak, seolah diinput sebongkah batu besar yang membuatnya kesulitan untuk bernapas. Andrea meremas d**a kirinya. Jantungnya kembali berdetak dua kami lebih cepat. Setiap kali memikirkan Damian bersama perempuan lain, detak jantungnya semakin menggila. Tubuh Andrea menggigil saat pertanyaan itu memasuki kepalanya. Apakah dia cemburu ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN