Bab 7. Di Mana Damian?

1513 Kata
Bukan sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya, atau suara dari jam alarm yang membangunkan Andrea pagi itu, melainkan tepukan lembut di bahunya. Pelakunya adalah Bik Wati. Perempuan itu duduk bersimpuh di samping sofa panjang yang ditidurinya, menatapnya iba. "Bu, udah pagi." Suara Bik Wati serak memberi tahu. Andrea mengangguk, membuka matanya lebih lebar menatap sekeliling. Dia pikir, hanya bermimpi tadi malam tidur di ruang tamu, ternyata memang sebenarnya seperti itu. Dia tertidur di ruang tamu menunggu Damian. "Tuan Damian belum pulang, Bu," kata Bik Wati lamat-lamat. Kepalanya menunduk, tak berani menatap Andrea. Andrea mengembuskan napas melalui mulut sebelum bangun pelan-pelan. Dia tak ingin mengambil risiko melihat sekelilingnya berputar akibat bangun dengan cepat. Andrea sudah menduga seperti itu. Jika Damian pulang, dia pasti terbangun. Indra pendengarannya sangat sensitif dengan bunyi sekecil apa pun saat dia sedang tidur. "Nggak apa-apa, Bik." Andrea tersenyum. "Kali aja Tuan Damian sibuk makanya nggak pulang," katanya entah untuk menghibur siapa. Bik Wati semakin menundukkan kepalanya, kedua tangan saking meremas di pangkuan. Dia tahu, bukan itu yang sebenarnya. Entah kenapa, dia yakin majikannya tidak sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa untuk sekedar pulang. Dia sangat mengenal Tuan Damian. Dia bekerja pada keluarga Oliver sudah sejak lama, saat Damian masih bocah kecil yang berlarian di setiap sudut kediaman keluarga Oliver. Tidak mungkin Tuan Damian tidak pulang, apalagi sampai tidak memberi kabar. Jika hal seperti ini terjadi, pasti karena perempuan itu. Perempuan yang membuat Tuan Damian berani membantah perkataan kedua orang tuanya. Itulah salah satu alasan kenapa Tuan Derreck dan Nyonya Leonor tidak menyetujui hubungan Tuan Damian dan kekasihnya yang entah siapa namanya. Tuan Damian tidak pernah menyebutkan, begitu juga dengan Nyonya Leonor dan Tuan Derreck. Nama perempuan itu terlarang di keluarga Oliver. Tidak ada yang boleh menyebutnya, kecuali ingin mendapatkan hukuman dari nyonya besar. Nyonya Leonor yang paling menentang hubungan Tuan Damian dengan kekasihnya. Bukan tanpa alasan, perempuan itu membuat Tuan Damian menjadi pemalas, tidak peduli pada perusahaan, dan selalu berdua menempel seperti sudah dilem dengan lem super. Perempuan itu ingin terus bersama Tuan Damian, menempelinya seperti seekor lintah. Yang membuat nyonya besar kesal, Tuan Damian menurut saja apa yang diinginkan perempuan itu. Seandainya, kekasih Tuan Damian tidak membawa dampak buruk baginya, mungkin Nyonya Leonor masih mau mempertimbangkan. Akan tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi pertimbangan itu. Tuan Damian sudah menikah dengan Bu Andrea, dan seharusnya tidak ada kesempatan lagi bagi perempuan tidak tahu malu itu perempuan tidak tahu lalu itu untuk mendekatinya. Kecuali, Tuan Damian sendirian yang mengizinkan. Kepulangan tuan dan nyonya besar Oliver ke negara tempat tinggal mereka membuat Tuan Damian memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan perempuan itu. Kasihan Bu Andrea harus menderita karena menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Bik Wati menatap Andrea iba. Nyonya mudanya sangat baik, juga cantik dan lembut. Sepertinya, mata Tuan Damian sudah buta sehingga mengabaikan perempuan secantik Bu Andrea. "Ibu mau sarapan sekarang? Saya tadi masak nasi goreng seafood spesial." Bik Wati menawarkan, sekedar untuk mengalihkan perhatian Andrea. Dia tak ingin nyonya mudanya terus kepikiran. "Boleh, Bik!" Andrea mengangukkan kepala. "Bisa bawa sarapannya ke sini, nggak? Saya masih malas ke mana-mana soalnya, masih ngantuk dikit. Oh, iya, Bik Wati udah sarapan juga belum? Kalo belum, kita sarapan sama-sama di sini. Temenin saya biar nggak sepi!" pintanya tersenyum. "Emang ... emangnya boleh, Bu?" tanya Bik Wati takut-takut. Dia tidak pernah makan bersama majikannya selama bekerja di keluarga Oliver. Para pelayan di mansion keluarga Oliver memiliki ruang makan sendiri, berdampingan dengan dapur utama. Para pelayan juga memiliki ruang makan dapur di paviliun mereka sehingga bisa memasak saat mereka lapar tanpa harus ke dapur utama mansion. "Iya, dong!" Andrea mengangukkan kepala. "Masa nggak boleh?" Dia tertawa, menutupi mulutnya menggunakan tangan kanan. "Bik Wati makan bareng saya aja terus kalo Tuan Damian nggak ada, nggak apa-apa, kok," katanya tersenyum. Bik Wati ikut tersenyum gembira mendapatkan majikan yang sangat ramah dan hangat seperti Andrea. Dia berjanji akan terus setia kepadanya. Sementara itu, di lain tempat, tepatnya di sebuah apartemen mewah milik Damian, erangan pria itu dan desah napas tertahan Sherina berpadu memenuhi kamar tidur. Si pemilik tempat tidur sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur, mulut dan kedua kakinya terbuka. Lalu, Sherina berada di antara kedua kaki tersebut, membenamkan kepalanya di sana. Mulutnya dipenuhi dengan Damian kecil yang sudah mengembang dua kali lipat lebih besar, sementara tangan pria itu berada di kepalanya, terus menekan kepalanya sehingga Damian kecil semakin terbenam di mulutnya. Beberapa kali Sherina tersedak, bahkan nyaris memuntahkan isi perutnya kala kepala di kecil milik Damian yang tidak bisa disebut kecil, apalagi saat mengembang seperti sekarang, menyentuh anak lidahnya. Namun, pria itu tidak peduli. Damian terus menekan kepalanya dengan kuat membuatnya mau tak mau membuka mulut lebih lebar. Entah sudah berapa lama mereka dalam posisi seperti ini, tetapi Damian masih belum juga mendapatkan pelepasannya. Damian kecil masih berdiri gagah di dalam mulutnya, tegak seolah terus menantangnya. Tubuhnya yang sudah terasa nyeri di mana-mana setelah pergumulan panasnya dan Damian tadi malam, terasa semakin sakit saja. Mulutnya juga terasa kebas dan sedikit perih. Sepertinya, sudut bibirnya terluka karena dia terus menganga dalam waktu yang cukup lama. Namun, Sherina tidak menyerah. Dia pasti dan harus bisa menaklukkan Damian kecil, tidak akan membiarkannya mengejeknya kemudian menghukumnya. Meskipun dia sangat menyukai hukuman Damian, tetap saja Sherina tidak menginginkannya. Setidaknya untuk saat ini setelah Damian nyaris membuatnya tidak bertenaga lagi. "Sherina, kamu yang terbaik, b***h!" Damian meracau dengan kata-kata yang masih dapat ditangkap dengan jelas oleh Sherina. "Iya, terus seperti itu! Saya suka mulut kamu, rasanya enak!" Sambil tangan Damian bergerak semakin cepat memaju-mundurkan kepala Sherina yang terbenam di antara kedua kakinya. Ia sudah hampir mencapai puncak, pelepasannya sudah di depan mata, beberapa kali lagi pasti akan mendapatkannya. "Akh, Sherina, mulut kamu sangat enak, b***h!" racau Damian sebelum mengerang panjang. Ia sudah mendapatkannya, ombak pelepasan sudah menggulungnya dengan dahsyat, membuatnya nyaris kehabisan tenaga. Tenaga yang akan kembali terisi penuh hanya dalam beberapa detik saja. Damian menarik Sherina duduk di pangkuannya. Lalu, mengusap sudut bibir wanitanya yang belepotan dengan lahar si kecil. Ia terlalu banyak menyemburkannya sampai-sampai tak tertampung sepenuhnya di mulut mungil Sherina. "Kamu hebat!" puji Damian dengan seringai tampannya. "Lebih hebat lagi kalau kamu mau meneruskan. Nggak keberatan kamu di atas?" Sherina tidak menjawab. Dia memajukan wajah, melumat bibir pria itu rakus sebagai ganti jawabannya. Tidak hanya melumat, dia juga menggigit kecil dan menarikan indra pengecapnya di permukaan bibir merah pucat Damian. Pria itu menggeram tertahan. Beberapa saat, ia masih membiarkan sebelum mengambil alih d******i. Indra pengecap Damian menerobos memasuki mulut mungil Sherina. Mengobrak-abrik isi mulutnya, mengamuk dengan tarian erotis yang membuat erangan dan desahan tertahan Sherina bersahutan. Ketika Damian melepaskan tautan bibir mereka, Sherina langsung mengangkat sedikit tubuhnya. Lalu, menurunkannya lagi tepat di atas si kecil yang sudah kembali berdiri dengan gagahnya. *** Gerimis turun membuat udara ibu kota pagi itu tidak sehangat biasanya. Andrea yang memilih mandi menggunakan air dingin justru menggigil. Ditambah dengan panggilan suara yang masuk dari Leonor, tubuh Andrea yang sudah dibalut dengan sweater rajut semakin menggigil saja. "Halo, Sayang, selamat pagi!" Sapaan Leonor dari seberang sana terdengar sangat gembira. Kedua mertuanya pasti sudah tiba di kediaman mereka di berbagai Raja Charles sehingga menghubunginya. Seperti janji mereka sebelum berangkat. "Di sana sudah pagi, kan?" Tawa Leonor terdengar sangat renyah di indra pendengaran Andrea, seolah saja tidak baru menempuh perjalanan jauh. Leonor juga tidak terdengar lelah ataupun mengantuk. Malah sebaliknya, suaranya terdengar sangat bersemangat. "Aku nggak tahu apakah pukul sebelas masih bisa disebut pagi." Andrea meringis. "Tapi, selamat pagi juga, Mama!" balasnya tersenyum membayangkan ibu mertuanya yang tengah tersenyum menatapnya. "Di sana masih dini hari, benar, kan?" "Iya, Mama pikir ini pukul empat pagi. Para pelayan di mansion sudah bangun saat ini." Andrea memicingkan mata mendengarnya. "Apa Mama begadang, kasih belum tidur sampai dini hari?" tanyanya curiga. "Ah, nggak juga." Basa suara Leonor terdengar canggung. Andrea tahu, ibu mertuanya tengah berbohong. "Mama masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ke York besok. Oh, iya, Damian di mana? Mama tadi menghubunginya, tapi ponselnya nggak aktif." Andrea menahan napas. Haruskah dia memberi tahu ibu mertuanya jika dia tidak tahu di mana suaminya sekarang? Damian pergi tanpa pamit, apalagi memberi tahu akan ke mana. Dia juga masih belum bisa menghubungi Damian sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Leonor, ponsel Damian tidak aktif. Bukan dirinya yang menghubungi pria itu, tetapi Bik Wati. Bik Wati juga yang memberitahunya jika ponsel Damian dalam keadaan tidak aktif. Beberapa kali Bik Wati menghubungi, selalu operator yang menjawab. "Aku ... a—aku ... aku pikir, Damian sedang sibuk makanya Hp-nya nggak aktif, Ma," kata Andrea terbata. Dia gugup, detak jantungnya dua kali lebih cepat. "Mungkin aja sedang meeting." "Meeting? Benarkah? Tapi, kenapa saat Mama tanyakan pada Genero, dia bilang Damian tidak sedang di kantor." Lagi, Andrea menahan napas. Kali ini, disertai dengan detak jantung yang semakin menggila. Dia sudah ketahuan telah berbohong. Betapa memalukan. Genero adalah asisten pribadi Damian yang juga merupakan sekretarisnya. Pria yang masih lajang di usianya yang sudah memasuki kepala tiga itu juga sudah menghubunginya, menanyakan keberadaan Damian karena ponsel suaminya itu yang tidak dapat dihubungi. Andrea menggigit bibir. Sekarang, haruskah dia memberi tahu Leonor jika dia juga tidak tahu di mana Damian?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN