"Damian!"
Seorang perempuan berambut sepunggung dengan riasan tebal langsung berlari ke arah Damian kala indra penglihatannya yang tajam menangkap bayangan pria itu di antara kerumunan pengunjung klub malam lainnya. Dia melompat ke pelukannya, menciumnya dengan panas tanpa memedulikan keadaan sekitar.
Peduli setan dengan para pengunjung. Mereka semua juga sama seperti dirinya dan pria yang membalas ciumannya sama rakusnya.
"Damian, aku tau, kamu pasti datang. Kamu pasti nggak akan ninggalin aku demi cewek nggak tau malu itu."
Perempuan itu, Sherina Abigail, kembali menciumi Damian. Seluruh permukaan wajah pria itu tidak luput dari kecupan basahnya.
Damian melingkarkan lengan di pinggang Sherina, menatapnya lapar. Perempuan ini memang selalu saja membakarnya, meskipun hanya sapuan bibir saja.
"Kamu kangen saya, Baby?" tanya Damian tepat di telinga Sherina. Suaranya serak, gairahnya tersulut karena ciuman panas Sherina yang membabi buta. "Maka, saya milik kamu malam ini!"
Sherina mengangguk cepat. Dia lalu berjingkat, menjatuhkan bibirnya di atas jakun Damian. Dia tidak hanya mengecupnya saja, tetapi juga memainkan indra pengecapnya di sana.
Kulit Damian yang berkeringat diabaikan Sherina. Di matanya, pria itu terlihat semakin sexy dan menggairahkan dengan bintik-bintik keringat di sekujur tubuhnya, membuatnya semakin meleleh seperti margarin yang dipanaskan.
"Damian, Sayang, ayo, kita pergi dari sini! Aku udah nggak tahan lagi!" Sherina berbisik dengan manja diselingi desahan di telinga Damian. "Aku mau kamu, Sayang."
Sherina terengah. Mereka tidak bertemu sudah lebih dari dua minggu, dan selama itu juga Damian tidak menyentuhnya. Rasanya sudah sangat lama, dia sudah sangat merindukannya. Merindukan keganasan Damian di atas tubuhnya dan permintaannya yang gila.
"Kenapa nggak di sini aja kalo kamu udah nggak tahan?" Damian menaikkan sebelah sudut bibirnya, sama seperti alisnya yang juga terangkat sebelah, mengejek.
Satu tangannya menyusuri lekukan tubuh Sherina, berhenti di pinggangnya. Satu tangannya lagi membingkai pipi perempuan itu. Damian menghembuskan napas tepat di depan wajah Sherina yang terlihat lebih merah di bawah cahaya remang-remang klub malam.
"Di sini? Kamu serius?" tanya Sherina kaget, tetapi hanya satu detik matanya melebar. Di detik berikutnya, dia sudah kembali menatap Damian dengan tatapan menggoda yang manja. "Apa kamu nggak marah orang lain liat aku telanjang?"
Damian mengedikkan bahu. "Kamu suka tantangan, kan, Sherina? Itu tantangan buat kamu," katanya santai.
Sherina menggigit bibir. Dia ragu, juga takut. Akan tetapi, tubuhnya justru memanas dan bergetar halus.
"Apa kamu berani?" tanya Damian menantang. Tatapannya dingin dan mengejek.
Sherina menggeleng. "Aku nggak mau," sahutnya serak. Dia sengaja berjingkat agar dapat mencapai telinga Damian dan membisikinya. "Tubuhku cuma kamu yang bisa liat, Sayang."
Sherina tidak hanya mengembuskan napas hangat di telinga Damian, tetapi juga menggigit daun byelinga pria itu. Sengaja dengan gigitan kecil untuk semakin membakarnya, dan dia berhasil. Damian langsung menciumnya dengan penuh nafsu sampai-sampai dia kewalahan membalasnya.
"Kamu habis malam ini, b***h!" Damian menggeram tepat di depan bibir Sherina yang membengkak. "Saya nggak akan melepaskan kamu. Saya akan buat kamu nggak bisa bangun dari tempat tidur!"
Sherina tersenyum lebar. Justru itu yang dia harapkan, kebuasan Damian dalam menikmati setiap inchi tubuhnya. Dia sangat menyukai ruam merah yang tersebar di seluruh tubuhnya, mahakarya seorang Damian Oliver yang sangat berharga.
Seandainya saja bisa, Sherina tidak ingin tanda kepemilikan itu hilang. Sayangnya, ruam merah itu tidak bisa dipertahankan. Ia hanya akan bertahan dua atau tiga hari, setelah itu semakin memudar dan hilang tanpa bekas.
Seandainya tanda kemerahan itu bertahan selamanya, dia akan dengan bangga memamerkan kepada keluarganya. Untuk menutup mulut sialan mereka yang sudah dengan berani menghina pria yang dicintainya.
Keluarganya tidak percaya kepada Damian. Mereka berpikir, Damian sama saja seperti pria lainnya yang hanya menginginkan tubuhnya saja. Keluarganya, termasuk kedua orang tuanya yang mata duitan, menghinanya habis-habisan setelah mengetahui Damian akan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Sekarang, keadaan berbalik. Mereka yang mengejek dan menghinanya pasti akan sangat malu bila melihat Damian menciumnya seolah tidak ada hari esok.
"Sayang, jangan di sini!" pinta Sherina terengah. Damian tidak hanya menciumnya dengan brutal, tangannya juga ikut bekerja, meremas di bagian sensitifnya. "Kita ke apartemen kamu aja. Ya?"
Sherina berusaha menahan tangan Damian yang memaksa menyelinap ke balik roknya. Dia malam ini mengenakan rok mini jenis denim skort dengan crop top sabrina lengan panjang balon.
Tentu saja Sherina bermaksud menggoda Damian dengan outfit-nya malam ini. Pria itu tidak pernah tahan untuk tidak menyentuhnya bila melihatnya berpakaian seperti ini.
"Yang, mau, ya?" Sherina membingkai pipi Damian. Bibir mungilnya yang membengkak, mengerucut dengan maksud menggoda.
Damian berdecak. Namun, ia tetap mengangukkan kepala, lantas menarik Sherina meninggalkan klub malam langganan mereka menuju apartemennya.
Jalanan yang ramai tidak membuat Damian menurunkan kecepatan mobilnya. Apalagi, Sherina terus saja menggodanya dengan mengerang tepat di telinganya sambil memainkan si kecil miliknya di bawah sana.
Sialan memang. Sherina benar-benar iblis penggoda yang membuatnya takluk tidak berdaya di dalam kubangan gairah yang diciptakannya.
Kurang dari tiga puluh menit, mobil Damian sudah terparkir manis di tempat parkir gedung apartemennyaa. Dengan tak sabar ia menyerang Sherina, melumat bibirnya rakus dan menyiksa bagian bawahnya yang membanjir.
***
"Tuan belum pulang, ya, Bik?" tanya Andrea pada Bik Wati.
Dia mengajak Bik Wati untuk tinggal bersamanya, menemaninya di rumah yang tidak bisa disebut kecil. Andrea ibu rumah tangga biasa, Leonor dan Derreck tidak mengizinkannya bekerja. Kata mereka, dia cukup menghabiskan uang Damian saja, tidak perlu memikirkan lainnya.
"Belum, Bu!" sahut Bik Wati menggelengkan kepala. "Mungkin sebentar lagi pulang. Ibu tidur aja dulu, biar bibik yang jaga."
Andrea tersenyum. "Saya temenin!" katanya sambil tangannya menarik Bik Wati untuk duduk di satu sofa panjang yang sama.
Sudah pukul sepuluh malam, Damian masih belum pulang setelah pergi sejak tadi sore. Tepatnya setelah penyatuan panas mereka.
Ah, bukan! Bukan mereka, hanya Damian yang menginginkannya. Meskipun pada akhirnya dia menikmati juga, tetapi itu hanya karena dia tidak bisa melawan saja. Dia tidak memiliki pilihan selain pasrah dan menikmatinya.
"Bibik kalo ngantuk, tidur aja. Nggak apa-apa saya sendirian aja yang nunggu." Andrea tersenyum, menepuk punggung tangan Bik Wati pelan. "Lagian, kan, Bik Wati kerjaannya nggak nungguin Tuan Damian pulang, tapi bantu saja beres-beres di rumah."
Bik Wati menggeleng cepat "Nggak bisa kayak gitu, Bu!" bantahnya sama ceiwt dengan gerakan kepalanya. "Saya juga mau nemani ibu di sini nungguin tuan pulang!"
Andrea mengembuskan napas melalui mulut pelan-pelan, kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah dua kali. Dia menuruti keinginan Bik Wati. Lagi pula, sepertinya memang dia memerlukan teman mengobrol malam ini agar tidak tertidur.
"Bu Andrea mau saya bikinin apa buat camilan?" tanya Bik Wati semangat. "Buat nemenin ibu biar nggak ngantuk nungguin tuan."
Andrea tersenyum. "Apa, ya?" tanyanya menelengkan kepala ke kanan, hidungnya berkerut. Dia tengah memikirkan camilan apa yang cocok dikonsumsi hampir larut malam seperti saat ini. "Menurut bibik apa yang enak, yang itu aja, deh, saya ngikut aja!"
Bik Wati mengangguk. "Siap, Bu!" katanya bangkit, lalu bergegas menuju dapur.
Andrea menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan melalui mulut. Menjatuhkan punggung pada sandaran sofa setelah Bik Wati tidak terlihat lagi. Entah di mana Damian sekarang, pria itu tidak menghubunginya untuk sekedar memberi tahu agar dia tidak khawatir.
Khawatir?
Jujur saja, iya. Andrea mengkhawatirkan keadaan Damian. Leonor sudah memberi tahu semuanya tentang pria itu sebelum pernikahan mereka. Tidak ada yang disembunyikan selain tentang Damian yang ternyata sudah memiliki seorang perempuan yang —mungkin— dicintainya di luar sana.
Entahlah, tetapi Andrea tidak berharap Damian benar-benar memiliki kekasih, dia tidak mau menjadi orang ketiga. Jika menurut Leonor, perempuan itu bukan kekasih Damian, mereka hanya sekedar dekat.
Siapa yang benar Andrea tidak tahu. Hanya saja, dia memiliki penilaian sendiri. Dari kata-kata Leonor yang terdengar pedas dan kejam dalam menilai perempuan yang sedang dekat dengan putranya itu, sangat terlihat jelas ketidaksukaan di mata ambernya.
Leonor sendiri mengatakan jika perempuan itu menginginkan Damian hanya karena putranya adalah seorang pewaris, anak satu-satunya keluarga Oliver yang pasti akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga mereka. Jika Damian jatuh miskin, mungkin perempuan itu akan meninggalkannya.
Biasanya, penilaian seorang ibu selalu tepat. Seorang Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Andrea yakin, Leonor juga demikian.
Hanya saja, Andrea sedikit ragu jika perempuan itu mendekati suaminya hanya untuk memanfaatkan. Damian itu sangat tampan, setiap perempuan pasti akan meleleh hanya dengan melihat tatapan matanya saja.
Termasuk dirinya.
Andrea menundukkan kepala, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Dia tidak yakin jika sudah jatuh cinta pada Damian, tidak secepat ini. Baru beberapa hari mereka saling mengenal dan menikah, tidak mungkin cinta datang secepat itu.
Perasaannya kepada Damian pasti hanya sekedar rasa kagum saja, Andrea selalu meyakinkan dirinya seperti itu. Damian hujan pria yang baik, bukan pria yang pantas untuk dicintai.
Apalagi, jika benar pria itu sudah memiliki kekasih di luar sana, dia benar-benar menjadi orang ketiga. Jika dia benar-benar jatuh cinta kepada Damian, cintanya tidak akan bernapas, hanya akan bertepuk sebelah tangan.
Andrea menggeleng pelan beberapa kali, menyangkal ketertarikan di dalam hatinya untuk seorang Damian Oliver. Dia tidak mungkin jatuh cinta pada pria itu, tidak boleh. Jangan sampai dia terluka lebih dalam.
Lagi pula, dia masih belum tahu apa itu cinta. Terlalu cepat baginya untuk mengambil kesimpulan itu meskipun apa yang dirasakannya sama seperti di dalam buku dan penjelasan ciri-ciri orang jatuh cinta yang dicarinya di internet.
Sekali lagi, Andrea mengembuskan napas melalui mulutnya dan menggelengkan kepala. Jangan sampai dia jatuh cinta pada Damian karena itu akan membuat posisinya semakin sulit. Sekarang saja dia selalu tidak berkutik di depan pria itu, apalagi jika mencintainya.