Melalui jendela kamar, sepasang mata Salsa menajam menatap keluar. Obrolan ringan terjalin antara Salwa, Reza dan Lala di luar gerbang. Kepergian Salwa tidak Salsa pedulikan. Sekedar turun ke bawah saja, Salsa enggan. Malah kepergian Salwa dan Abinya dari rumah, amat Salsa nantikan. “Pergi aja lo selamanya, Salwa! Gue berharap banget lo gak kembali lagi ke rumah ini. Lo itu sumber masalah.” ucap Salsa penuh dendam. Tirai Salsa tutup kasar. Penuh kesal wanita itu melangkahkan kaki. Mengingat betapa manisnya obrolan ketiga orang itu di luar. Melupakan ia yang berada di dalam kamar. Mencari saja tidak. Amarah Salsa pun terluap. “Aaakhhh!” Salsa berteriak. Kedua tangannya mencengkeram seprai kasur yang ia duduki. “Giliran dia boleh liburan! Lah gue? Nggak! Kenapa dunia nggak adil banget

