Malam menyapa. Rencana liburan Salsa bersama Afiq pun di mulai pada malam ini. Hari libur pertama. Salsa tergesa-gesa menuruni tangga, tak sabar keluar. Barusan saja Afiq memberi pesan melalui telepon seluler. Pria itu sudah menunggu di depan gerbang rumah Salsa. “Umi, Salsa pergi dulu, ya! Assalamu'alaikum,” belum selangkah kaki Salsa melewati pintu, sahutan Uminya terdengar mencegah. “Salsa, tunggu!” Salsa berhenti, mengamati Uminya yang menuruni tangga. “Kamu serius mau pergi? Abi nggak kasih izin, loh, kemarin.” Wajah Salsa yang semula cerah, langsung berubah datar. Uminya menghentikan kepergiannya, hanya karena pasal izin Abinya yang tak ia dapat. Kemarin Salsa sudah mengatakan, jika ia akan tetap pergi meskipun tanpa seizin Abinya. “Umi, Salsa gak peduli dengan izin Abi. Yan

