Malam hari, di kediaman Salsa dan Salwa. Di kamarnya, Salsa tak henti-henti memandangi surat pemberian Afiq. Bahkan coklat yang semestinya di makan, tak sanggup Salsa telan. Sebutlah Salsa lebay. Sepintas ia berpikir untuk menyimpan dua barang ini selamanya. Akan Salsa abadikan. Salsa menutup wajah, lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Isshh, ngapain sih gue mikirin dia segala? Ih, gak boleh baper, pokoknya gak boleh!” Hatinya Salsa kuatkan. Salsa menghela napas panjang. Berharap dengan cara itu, gemuruh di hatinya tenang. “Afiq itu sejenis fakboi gak, sih?” Masih saja! Afiq yang Salsa bahas. Afiq yang mengisi ruang pikiran. “Iihhh, ngapa masih mikirin dia mulu?! Afiq... Pergilah dari otak gue. Pergi!” Salsa uring-uringan sendiri. Berjalan menyusuri kamarnya yang luas. Ceklek! Pi

