Sembilan puluh Tiga

1022 Kata

Andi menundukkan kepalanya dalam. Tangannya memegang amplop cokelat yang tadi diberikan Pandu untuknya. Matanya berkaca-kaca namun dia tetap menahan agar air matanya tidak jatuh. Sangat malu jika dia menangis didepan bosnya sendiri walaupun dia tahu bosnya tidak akan sadar jika dia sedang menangis. "Nggak usah nangis." Kata Pandu sambil menepuk pundak Andi. "Saya terharu, Pak. Saya tidak menyangka jika saya bisa dititik ini." Jawab Andi menjelaskan. Dia tidak ingin dicap sebagai laki-laki yang pengecut. "Saya mengangkat kamu jadi menejer bukan karena kamu dekat sama saya tapi karena kinerja kamu selama ini. Banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan sebelum mengambil keputusan ini." Kata Pandu lagi sambil mengunyah roti gulung kesukaannya. Andi terdiam. Dia masih menundukkan kepa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN