Gio pusing memikirkan hal ini. Ke mana lagi ia akan mencari tukang-tukang baru, sedang ia punya dateline yang harus ia kejar. Dengan begini, pekerjaannya kembali tertunda. "Mas." Panggilan istrinya membuat Gio tersadar dari lamunan. "Eh, apa?" "Sarapannya kok gak di makan sih, Mas?" Gio menatap nasi goreng yang sejak tadi ia aduk. Ia baru sadar, sejak mengambil sendok, ia belum memakannya barang satu suap pun. "Eh, iya." Baru saja ia akan menyuap nasi goreng ke mulutnya dengan malas, terdengar bel pintu depan berbunyi. Ia menoleh ke arah pintu seiring Sri berlari-lari ke arah yang sama. Gio terkejut mendengar dari balik pintu, orang yang datang, mencari dirinya. Begitu pintu dibuka lebar, Gio mengenali siapa yang datang ke rumahnya itu. "Pak Idan?" Pria itu menganggukkan kepalanya

