Tidak lama kemudian, Edith dan Stanson tiba di tempat tinggal mereka. Saat keduanya turun dari mobil, tiba-tiba Edith merasakan lengannya dipegang secara kuat oleh seseorang. Edith terkejut ternyata yang memegangnya adalah Henry. Saat keduanya saling bertatapan, Edith melihat tatapan yang berbeda dari kedua bola mata Henry. Sebuah tatapan yang penuh kerinduan yang belum pernah dirasakan Edith sebelumnya dari Henry. Segera perasaan itu ditepis, sebab Edith berpikir bahwa Henry tidak akan pernah merindukannya sebab ia hanyalah seorang wanita pengganti.
"Edith, tunggu! Kita perlu bicara," ucap Henry
"Lepas. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," ucap Edith dengan tegas.
Stanson yang melihat Henry enggan melepaskan lengan Edith langsung menghampiri Henry dan memukul wajahnya. Setelah pegangan Henry terlepas, Stanson langsung memeluk Edith untuk melindunginya.
"Sebaiknya kau segera pergi Tuan Henry. Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita. Semuanya sudah kujelaskan saat di pesta. Aku harap ini terakhir kalinya kau menggangguku." ucap Edith sambil mengajak Stanson menuju pintu utama.
"Bagiku masih banyak yang harus kita bicarakan," Henry berusaha menghentikan Edith untuk meninggalkannya. "Aku janji tidak akan lama."
Stanson merasa sangat kesal sebab Henry bersikeras untuk tetap berbicara dengan Edith akhirnya membuka suaranya. "Apa kau tidak mendengar ucapan tunanganku, Tuan Henry. Tunanganku tidak ingin berbicara denganmu. Jika anda masih mempunyai sopan santun, sebaikny anda menuruti keinginan dari sang tuan rumah."
Kata 'tunangan' diucapkan Stanson dengan tenang dan penuh penekanan seolah memberitahu bahwa Edith kini bukanlah Madeline yang tanpa identitas tetapi Edith tunangan Stanson serta pewaris tunggal keluarga Lewis.
"Heh... bagiku dia tetap Madeline, wanita yang pernah tidur denganku dan hamil anakku," ucap Henry tidak mau kalah tanpa menyadari bahwa ucapannya sangat menyakiti hati Edith.
Tubuh Edith gemetar saat mendengar ucapan Henry. Bagi Edith kata-kata Henry sangat penuh penghinaan terhadap dirinya. Edith merasakan trauma dalam dirinya dan merasa dirinya sangat rendah. Stanson yang menyadari perubahan sikap tubuh Edith yang akan pingsan segera menggendong Edith dan langsung memasuki rumah menuju kamar Edith.
Dengan lembut Stanson meletakkan tubuh Edith di atas ranjang dan menyelimutinya. Stanson merasa ada seseorang yang berada dibelakangnya sambil menatap Edith, saat ia berbalik ia melihat Henry sedang berdiri dengan raut wajah yang khawatir, tidak ada jejak kesombongan sama sekali dari raut wajahnya.
Stanson lalu menghampiri Henry dan menariknya keluar dari kamar. "Ikut aku keluar, biarkan Edith beristirahat," bisik Stanson.
Henry mengalah dan mengikuti Stanson keluar kamar. "Sebaiknya Edith dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, wajahnya sangat pucat," ucap Henry khawatir.
"Tidak perlu, dokter pribadiku akan segera datang untuk memeriksanya" jawab Stanson. "Yang ia perlukan hanya menjauh darimu. Apa kau tidak sadar gara-gara ucapanmu, Edith menjadi seperti ini. Ucapanmu sebelumnya benar-benar sangat menyakitinya. Mental Edith sedang tidak stabil akibat trauma yang kau dan kekasihmu lakukan."
Tubuh Henry membeku, ia sangat menyesal dan ia tidak menyadari bahwa ucapan yang telah ia ucapkan sebelumnya ternyata menganggu mental Edith. Ia mengucapkan hal itu murni gara-gara rasa cemburu atas ucapan Stanson. Yah kini Henry sangat menyesal pernah menyakiti dan mensia-siakan Edith, ia ingin mendapatkan Edith kembali dan mencintainya sepenuh hati.
"Edith tidak akan pernah jauh dariku, besok aku akan datang kembali untuk menemuinya," ucap Henry.
Henry pun meninggalkan kediaman Stanson dan menelpon sahabatnya untuk bertemu di bar. Setibanya di bar, Henry menuju ruang VIP dimana Adam sedang menunggu kedatangan dirinya.
Adam yang sedang meminum vodka menyadari kedatangan Henry berucap, "aku sudah mendengar kejadian di pesta ulang tahun Catalina. Ternyata Madeline masih hidup dan ia bukan sosok sembarangan, aku harap kau tidak menyesal telah meninggalkan Madeline."
Henry menuang segelas vodka dan langsung meminumnya dalam sekali teguk, "namanya bukan Madeline tetapi Edith dan ya aku sangat menyesal. Ternyata baru aku sadari bahwa aku sangat mencintainya dan aku merasa hampa saat ia tidak ada disisiku. Kini aku akan berusaha mengembalikan ia disisiku dan takkan pernah kulepaskan lagi. Aku akan menyayangi, memanjakan, dan mencintainya. Akan kubuat ia menjadi wanita yang paling beruntung di dunia."
"Masalahnya apakah ia ingin kembali padamu," tawa Adam. "Ingat dia mempunyai seorang tunangan, dan menurut kabar tunangannya tidak kalah tampan dan kaya darimu."
"Calon mantan tunangan, Edith pasti akan kembali padaku. Aku yakin cintanya masih sangat besar," ucap Henry dengan yakin.
"Oke anggap saja Edith akan kembali kesisimu, lalu apa rencanamu dengan Catalina? Bukankah kau berencana untuk menikahinya?" tanya Henry.
"Tidak akan ada pernikahan, satu-satunya yang akan kunikahi hanya Edith. Kesalahanku ialah salah mengenali perasaanku. Awalnya aku memang mencintai Catalina tetapi lambat laun entah mengapa perasaan itu berpindah ke Edith. Edith tertanam kuat dalam hatiku bahkan saat aku bersama Catalina, aku seolah melihat sosok Edith pada diri Catalina. Aku selalu mengatakan bahwa Edith adalah pengganti Catalina padahal dalam hatiku yang sebenarnya ialah Catalina pengganti Edith. Aku jatuh cinta saat pertama kali aku melihat Edith." ucap Henry.
Kedua sahabat itu terus minum hingga mabuk seperti biasa hanya saja yang berbeda kali ini mereka tidak ditemani wanita cantik sama sekali.
.
.
.
Di kediaman Stanson, dokter telah memeriksa kondisi Edith menjelaskan bahwa kondisi Edith tidak apa-apa dan memberikan vitamin. Dokter menyarankan pula agar Edith segera menjalani operasi di kepalanya sebelum terlambat. Stanson segera menyetujui hal tersebut dan segera meminta dokter untuk mengatur jadwal operasi.
.
.
.
Di saat yang bersamaan Catalina terus menerus menghubungi Henry. Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, ia membanting handphonenya hingga hancur kemudiam berteriak keras hingga ibu Catalina (Nyonya Thompson) berlari ke kamar Catalina untuk memastikan kondisi putrinya baik-baik saja.
"Kenapa kau berteriak seperti orang gila?" tanya Nyonya Thompson.
"Aku tidak bisa menghubungi Henry sama sekali daritadi. Aku heran kemana Henry, beraninya ia mempermalukanku dengan meninggalkan aku sendirian di pesta. Kini seluruh warga negara ini pasti mengolok-olokku. Mukaku mau taruh dimana? Edith kini telah kembali bersama Stanson, aku harus mendesak agar Henry segera menikahiku," ucap Catalina dengan penuh amarah. Ia tidak sanggup menanggung malu dan tidak mau kalah dengan Edith.
Baginya cukup sudah ia selalu kalah dengan Edith di negara R, ia tidak mau kalah lagi di negara ini. Satu-satunya cara agar ia bisa mengimbangi Edith ialah dengan menikahi Henry. Dengan status dan kekayaan Henry yang mampu mengimbangi Stanson, Catalina yakin dengan pasti bahwa ia akan memperoleh kekuasaan yang tidak kalah dari Catalina.
"Baiklah anakku, kau harus tenang agar dapat berpikir dengan baik mengenai stategi untuk menjerat Henry menikahimu. Ibu melihat saat di pesta Henry tertarik dengan Edith sampai-sampai ia sanggup meninggalkanmu," ucap Nyonya Thompson.
"Tidak! Hal itu tidak akan pernah terjadi! Henry sangat mencintaiku, ia hanya menganggap bahwa Edith adalah penggantiku saja."
"Aku percaya padamu. Sebaiknya kau beristirahat sekarang, besok kau baru bertemu dengan Henry untuk membujuknya agar kalian segera menikah."
"Baiklah bu," ucap Catalina