Vania

1039 Kata
Stanson mengetahui bahwa Edith meminta seseorang untuk menyelidiki keadaan perusahaan keluarga Catalina. Ia mendukung sepenuhnya keputusan Edith dan ia akan melindungi Edith dari bahaya. Stanson belum mengetahui bahwa Henry memutuskan pertunangan antara dirinya denga Catalina. Keesokan harinya, Stanson mengajak Edith berbicara berdua di ruang kerja. "Edith, aku tau kau sedang menyelidiki kondisi perusahaan Catalina. Aku juga sudah meminta orangku untuk membantu penyelidikan," ucap Stanson sambil meminum teh hangat yang ada di meja. "Terima kasih Stanson, aku ingin menghancurkan Catalina dimulai dari perusahaannya terlebih dahulu. Jika perusahaannya hancur maka pendapatannya tidak ada, itu jika ia masih mempunyai rasa malu," ucap Edith yang duduk di hadapan Stanson dengan senyum mengejek. Stanson bingung dengan maksud ucapan Edith. "Maksudmu?" tanya Stanson. "Henry dan Catalina sudah tidak bertunangan. Jika Catalina masih memiliki rasa malu, ia tidak akan meminta bantuan Henry dan apabila ia meminta bantuan Henry, aku yakin Henry belum tentu mau membantunya," jawab Edith. "Kau tau darimana jika mereka sudah tidak bertunangan?" tanya Stanson kembali. Edith lalu memceritakan pertemuannya yang tidak sengaja dengan Henry kepada Stanson. Stanson mulai merasa cemburu dan tidak tenang, ia takut Edith akan kembali ke pelukan Henry. "Kau yakin Henry berkata jujur? Aku takut itu hanya startegi Henry agar bisa mendekatimu kembali," ucal Stanson dengan nada cemburu. Menyadari kecemburuan Stanson, Edith kemudian menggoda Stanson. "Aku seperti mencium aroma kecemburuan hahaha. Tenang saja Stanson, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Aku hanya ingin membalas Henry dan Catalina lalu hidup tenang," ucap Edith. "Ya aku cemburu tapi aku percaya kepadamu, lalu kau butuh bantuan apa dariku?" ucap Stanson yang mulai merasa tenang. "Saat ini belum ada, jika ada aku akan memberitahukanmu," ucap Edith. "Baiklah. Oh iya Edith, Vania akan datang kemari. Ia sudah mendengar tentangmu dan ingin menemuimu," ucap Stanson. Edith sangat senang saat mendengar sahabat terbaiknya ingin datang. Sudah satu lebih mereka tidak bertemu. "Kapan Vania tiba? Aku akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya," tanya Edith. "Besok ia akan tiba dan aku sudah mengatur agar ia juga tinggal dengan kita untuk menemanimu," ucap Stanson. Mendengar perkataan Stanson, Edith lalu memeluk dan mencium Stanson. Edith merasa beruntung memiliki Stanson yang selalu mencintai dan memanjakannya. . . . Di bandara sesosok wanita cantik dengan rambut sebahu muncul, matanya yang tajam melihat sekeliling bandara mencari seseorang yang dikenalnya. Akhirnya ia melihat seorang wanita cantik berambut panjang sedang tersenyum kearahnya. "Edith....," teriak wanita berambut sebahu itu yang bernama Vania. Vania berlari menghampiri Edith dan memeluknya untuk melepas rindu. Edith membalas pelukan Vania dengan tidak kalah erat. "Ayo kita pulang, kau pasti sangat lelah," ucap Edith. Kedua wanita cantik yang menarik perhatian itu pun keluar dari bara dan kembali ke tempat tinggal Stanson. Sepanjang perjalanan, mereka berdua terus bercerita dan bersenda gurau. "Nanti malam aku akan mengajakmu ke bar dan kita harus minum sampai mabuk seperti dulu," ajak Edith. "Tentu saja, sudah lama kita tidak bersenang-senang," ucap Vania. Sesampainya di tempat tinggal Stanson, Ibu Hanna menyambut kedatangan Vania dengan hangat. Ibu Hanna sangat menyukai sikap Vania yang ceria. Ia berharap agar Edith dapat tertular dengan keceriaan Vania. "Vania, aku Ibu Hanna. Senang bertemu denganmu. Kau wanita cantik seperti namamu," puji Ibu Hanna. "Terima kasih atas pujiannya. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan ibu terhadap sehabatku," ucap Vania yang kemudian menggenggam kedua tangan Ibu Hanna. "Aku sudah menganggap Edith sebagai putriku jadi sudah kewajibanku untuk terus menyanyanginya," ucap Ibu Hanna tersenyum tulus. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu dan terus berbicara. Tanpa terasa waktu sudah mulai malam dan Ibu Hanna berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Edith dan Vania menuju kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Mereka bertiga makan malam dengan perasaan senang. Selesai makan malam, Edith dan Vania berpamitan dengan Ibu Hanna untuk pergi ke bar. Di dalam bar, mereka memesan meja yang dekat meja bar. Dari mulai mereka masuk sudah banyak pria yang ingin mendekati dan berkenalan tetapi ditolak oleh mereka berdua. Edith dan Vania terus memesan minuman dan camilan. "Edith, aku ingin ke toilet. Kau tunggu disini," ucap Vania. "Baik," jawab Edith. Saat Vania keluar dari toilet, ia bertabrakan dengan seorang pria tampan yang sedang membawa dua gelas minuman. Salah satu minuman tersebut tumpah ke pakaian Vania dan membuat Vania marah. "Kau tidak punya mata. Lihat pakaianku basah gara-gara minumanmu," ucap Vania dengan nada yang agak tinggi. Pria tampan tersebut tertegun melihat Vania. Ia terpana dengan kecantikan dan penampilan Vania yang sesuai dengan tipe wanita idamannya. "Maafkan aku wanita cantik, aku baru pertama kali melihatmu di bar ini, apa kau turis?" tanya pria tampan tersebut. "Siapa aku bukan urusanmu," ketus Vania. "Namaku Adam, siapa namamu?" tanya pria tampan itu yang ternyata adalah Adam sahabat Henry. Vania tidak memperdulikan pertanyaan Adam dan ia berjalan melewati Adam dengan acuh. Adam merasa tertantang dengan Vania kemudian mengikuti Vania. Adam terkejut ternyata Vania duduk satu meja dengan Edith. Dengan percaya diri, Adam duduk satu meja dengan Edith dan Vania. "Hai Edith, kita bertemu lagi. Kau mau mengenalkan temanmu yang cantik ini padaku," ucap Adam "Kenapa tidak kau sendiri yang berkenalan langsung dengannya," ucap Edith. Sebenarnya Edith tidak membenci Adam. Bagi Edith, Adam sebenarnya adalah pria yang baik. Dan apabila Adam tertarik pada Vania, ia tidak akan menghalanginya. Vania yang melihat Adam duduk satu meja dengannya memasang tampang acuh. Ia tidak tertarik untuk berkenalan dengan pria di bar sebab baginya pria yang sering berada di bar ialah pria playboy. "Aku tidak tertarik berkenalan denganmu. Edith, kita kembali ke rumah. Moodku berantakan gara-gara ada pengganggu," ucap Vania sambil menarik tangan Edith. Adam yang ditinggal lalu tersenyum. Ia tidak merasa tersinggung atas sikap Vania justru merasa sikap Vania sangat berkarakter. Henry yang baru tiba di bar melihat Adam tersenyum sendiri. "Kenapa kau senyum sendiri? Otakmu tidak bermasalah kan?" tanya Henry yang ikut duduk satu meja dengan Adam. "Tidak kawan. Aku punya kabar bahagia untukmu," ucap Adam tanpa melepaskan senyum bahagianya. "Aku telah menemukan wanita idamanku. Ia cantik, berkarakter dan sexy," "Lalu dimana wanita yang membuatmu tiba-tiba menjadi seperti ini?" tanya Henry kembali. "Ia pergi dengan Edith," jawab Adam. "Apa!? Tadi Edith kemari? Kenapa kau tidak memberitahukanku?" tanya Henry dengan kesal. "Aku juga baru saja bertemu mereka. Saat aku baru duduk, mereka langsung pulang," jelas Adam. "Jadi kau tertarik pada teman Edith. Ini sungguh sangat kebetulan. Aku harap kau bisa mendapatkannya" ucap Henry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN