Pasangan Baru

1000 Kata
Keesokannya handphone Edith berbunyi dan Edith melihat nama yang muncul adalah Adam. Edith tau bahwa Adam menghubunginya karena Vania. "Halo Adam, tumben kau menghubungiku. Aku yakin kau bukan ingin mencariku," kata Edith dengan yakin. "Hahaha sudah kuduga kau adalah wanita cerdas," ucap Adam. "Bolehkah aku meminta nomor handphone temanmu yang semalam?" "Hmmm... aku tidak akan memberikannya. Jika kau ingin mengetahui nomor handphonenya sebaiknya kau cari tahu sendiri. Bye," ucap Edith yang langsung menutup teleponnya tanpa memberikan Adam kesempatan untuk berkata. Edith ingin mengetahui seberapa serius Adam ingin mendekati sahabatnya. Edith yakin jika Adam serius, Adam akan dapat meluluhkan Vania. "Siapa yang menelponmu?" tanya Vania yang turun ke ruang tamu dengan mengenakan celana panjang dan tank top hitam. "Hanya seorang penggemarmu yang ingin meminta nomor handphonemu. Tapi tenang saja, aku tidak memberitahukan kepadanya," ucap Edith sambil membaca majalah. "Baguslah," kata Vania yang duduk di sebelah Edith dan memainkan handphonenya. Tidak lama kemudian bel berbunyi, Ibu Hanna membukakan pintu. Ibu Hanna mengenali tamu yang datang dan mempersilahkannya masuk. Edith dan Vania bersamaan menolehkan kepalanya ke arah tamu yang datang. "Halo semua," salam Adam. "Selamat datang Adam," ucap Edith ramah. "Aku tinggal dulu sebab aku tau jika Adam kemari untuk mencari Vania." Adam yang akhirnya mengetahui nama wanita idamannya kemudian menanggukan kepalanya dan mengucapkan terima kasih atas kepedulian Edith. "Jadi namamu Vania. Cocok sekali denganmu," ucap Adam yang yang mengambil tempat duduk di sebelah Vania. Vania meletakan handphonenya di meja, lalu menatap tajam ke Adam, "Setelah kau mengetahui namaku, lalu apa maumu sekarang." "Sekarang aku ingin meminta nomor handphonemu. Setelah aku mendapatkan nomor handphonemu, aku ingin mengajakmu kencan," ucap Adam dengan penuh percaya diri dan tidak melepaskan pandangannya dari wajah cantik Vania. Vania tertawa mengejek atas kepercayaan diri Adam. Baru kali ini ada seorang pria yang percaya diri ingin mendekatinya. Vania kini mulai merasa tertarik dengan Adam. Ia penasaran sampai mana Adam akan terus mendekatinya. "Baiklah, aku penuhi dua keinginanmu," ucap Vania. "Asal kau tau, aku tidak suka dengan pria playboy. Jika aku melihatmu bersama wanita lain, kita pisah." "Baik," ucap Adam dengan yakin. "Satu lagi, aku menerimamu bukan karena aku tertarik atau menyukaimu. Itu karena Edith yang mengatakan padaku bahwa kau adalah pria yang baik," ucap Vania. Dalam hati, Adam sangat berterima kasih pada Edith. Ternyata Edith tidak membencinya dan mendukungnya untuk dekat dengan Vania. Adam berencana akan memberikan hadiah kepada Edith sebagai ucapan terima kasih. Vania kembali kekamarnya untuk mengambil tas lalu bersama Adam pergi ke sebuah restoran italia dimana Adam telah memesan ruangan VIP untuk mereka berdua. Selama makan di restoran, Adam dan Vania bercerita tentang diri mereka masing-masing. Adam kini mengetahui bahwa Vania adalah seorang designer perhiasan dan anak tunggal sama seperti Edith. Setelah makan, Adam mengajak Vania ke rumah sakit tempatnya bekerja. Melihat Adam yang telaten menghadapi pasiennya, Vania merasa Adam adalah pria baik. Vania memang belum menyukai Adam, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya ia akan mencintai Adam apabila Adam tidak menyakitinya. Sore hari, Adam mengantarkan Vania kembali ke rumah Edith. Adam yakin Vania pasti lelah seharian berada di luar. "Ehem... Tampaknya sekarang sudah ada pasangan baru," goda Edith. "Aku hanya mengikuti saranmu, kita lihat saja nanti apakah hubungan ini akan terus berlanjut atau tidak," ucap Vania. Stanson yang berada di samping Edith penasaran dan bertanya kepada Edith, "Jadi sekarang Vania sudah mempunyai kekasih?" Edith menganggukan kepalanya dan mengajak Stanson makan malam bersama Ibu Hanna dan Vania. . . . Setibanya di apartemen, Adam membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia berencana apabila hubungannya semakin baik dengan Vania, ia akan mengajak Vania untuk bertemu dengan keluarganya. Adam tidak ingin main-main dengan hubungannya. Ia kini mulai serius untuk membina keluarga diusianya yang sudah mulai kepala tiga. Orang tua Adam sudah lama mengadakan kencan buta untuk Adam namun Adam selalu menolaknya dengan alasan belum siap dan masih ingin berkarir. Adam yakin orang tuanya pasti akan setuju dengan pasangan pilihannya. Adam yang merasa kangen dengan Vania kemudian menelpon Vania. "Halo Vania." "Ya Adam, ada apa?" "Aku merindukanmu, Vania" "Jangan menggodaku, kita baru berpisah beberapa jam lalu." "Aku tidak menggodamu. Jujur saja baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini untuk seorang wanita." "Oke, anggap saja aku percaya." Keduanya berbincang selama tiga jam, tanpa sadar Vania tertidur. Adam menyadari Vania tidak memberikan respon tau pasti Vania sedang tertidur. Adam berkata "aku mencintaimu" lalu menutup teleponnya. . . . Pagi harinya Stanson mengajak Edith ke kantor sebab orang suruhannya akan melaporkan keadaan perusahaan Catalina. Ternyata dari hasil laporan diketahui bahwa kondisi perusahaan Catalina memang sedang tidak baik dan hal itu mempermudah Edith menghancurkan perusahaan Catalina tersebut. Langkah pertama ialah merebut pelanggan yang tersisa. Edith mengerahkan anak perusahaan keluarga Lewis untuk menjalankan rencananya itu dan tidak butuh waktu lebih dari satu minggu hampir semua pelanggan perusahaan Catalina memutuskan kontrak kerja. Catalina marah besar mendengar laporan dari para direktur. Ia berpikir jalan satu-satunya ialah meminta bantuan Henry sehingga tanpa menunda waktu ia pergi ke perusahaan Henry. Para pegawai perusahaan Henry masih mengenali Catalina sebagai tunangan Henry sehingga Catalina dapat dengan bebas masuk ke ruangan Henry. "Henry, aku butuh bantuanmu," ucap Catalina ketika ia langsung masuk. Henry merasa tindakan Catalina sangat tidak sopan, ia berdiri dan duduk di sofa tanpa mempersilahkan Catalina untuk duduk. "Henry, perusahaanku dalam masalah, aku butuh bantuanmu," ucap Catalina sambil berdiri. "Apa keuntungan yang kuterima jika aku membantumu?" tanya Henry. "Aku tunanganmu," jawab Catalina. "Adalah kewajiban untuk membantu tunangan yang sedang dalam kesulitan." Henry menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, "Kita sudah tidak bertunangan jadi aku tidak wajib membantumu." "Henry!!!! Kita masih bertunangan. Saat ini kita hanya butuh waktu menenangkan diri," ucap Catalina dengan nada suara panik. "Kau butuh waktu menenangkan diri. Diriku sudah jelas memutuskan pertunangan. Kau hanya belum meminta kompensasi yang kutawarkan," ucap Henry. "Henry, dengar. Aku mencintaimu, jadi jangan memutuskan pertunangan kita,' pinta Catalina. " Keputusanku sudah jelas Catalina. Aku tidak mencintaimu. Jadi katakan saja kompensasi apa yang kau inginkan," ucap Henry dengan tegas. Catalina yang mengenal karakter sifat Henry tidak berani mendesak Henry sebab jika Henry marah ia tidak akan sudi membantu Catalina sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN