Setiap hari Catalina selalu mendatangi villa, perusahaan bahkan bar langganan Henry tetapi hasilnya ia tetap tidak bisa bertemu Henry. Henry bagaikan hilang ditelan bumi, Catalina sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya Henry selalu berada di rumah sakit untuk diam-diam menjaga Edith.
"Sial, dimana Henry!!!" umpat Catalina
"Sampai sekarang kau masih belum bertemu Henry? Sudah coba hubungi handphonenya?" tanya Nyonya Thompson sambil membaca catalog perhiasan.
"Aku tidak akan kesal seperti ini jika sudah bertemu Henry. Bu, bantu aku berpikir cara menghubungi Henry. Apa perlu aku sampai harus menyewa detektif?" ucap Catalina yang kini duduk di sebelah Nyonya Thompson.
Nyonya Thompson tidak terlalu menanggapi Catalina karena ia sibuk memilih perhiasan. Ia berencana ingin meminta Catalina untuk membelikannya. "Catalina, bagaimana design kalung ini? Cantik bukan? Bisakah kau membelikan untuk ibu, minggu ini ibu akan minum teh dengan beberapa ibu sosialita jadi ibu sangat membutuhkan perhiasan baru."
"Ibuuuu!!!!" teriak Catalina dengan sangat kesal karena Nyonya Thompson hanya memikirkan tentang perhiasan baru apalagi ibunya itu meminta dirinya yang mengeluarkan uang.
"Kenapa kau berteriak! Aku tidak tuli! Kau jangan sampai jadi anak durhaka karena sudah kirang ajar pada ibumu," ucap Nyonya Thompson yang tidak kalah kesal dengan Catalina.
"Bukan begitu maksudku bu, aku kesal daritadi aku panjang lebar menceritakan tentang Henry yang tidak bisa ditemui tapi ibu malah sibuk mau beli perhiasan baru. Bu, kondisi keuangan kita tidak terlalu bagus. Makanya aku harus segera menikahi Henry. Jika aku berhasil menikahi Henry, aku akan membelikan banyak perhiasan dan barang mewah yang banyak untuk ibu," ucap Catalina.
"Kau mau ibu bagaimana membantu. Kau yang sebagai tunangan Henry saja tidak bisa mencarinya apalagi ibu," ucap Nyonya Thompson yang kini beranjak menuju ke kamarnya karena masih kesal kepada Catalina.
Tiba-tiba Catalina teringat dengan Adam. Ia yakin Adam pasti tau dimana Henry saat ini. Dengan segera Catalina mengambil kunci mobil dan menuju rumah sakit tempat Adam bekerja.
.
.
.
Adam yang baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya, merasa heran dengan Catalina yang kini berada dihadapannya.
"Wah... Tampaknya matahari akan terbit dari barat. Ada apa Nona Catalina yang terhormat menemui dokter kecil sepertiku," ucap Adam dengan senyum mengejek di wajah tampannya.
"Aku bukan khusus ingin menemuimu untuk berbicara santai. Dimana Henry? Kau pasti tau dimana dia saat ini" ucap Catalina.
"Henry sedang sibuk," jawab Adam. Adam lalu melepaskan jas dokternya dan menggantungnya. Ia harus segera pergi ke rumah sakit tempat Edith dirawat untuk memeriksa perkembangan kondisinya.
"Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!!!!" teriak Catalina kepada Adam yang kini sudah keluar dari ruangannya.
"Sial Adam! Beraninya dia tidak menanggapiku," ucap Catalina dalam hati.
Akhirnya perjalanan Catalina ke rumah sakit Adam juga berakhir sia-sia. Catalina mengambil keputusan untuk menginap di villa Henry sambil menunggu kepulangan Henry. Catalina kembali ke apartemen untuk mengambil pakaian dan barang keperluannya lalu menuju villa Henry. Para pelayan villa yang mengenal status Catalina tidak ada yang menolak Catalina.
.
.
.
Hari yang ditunggu Edith telah tiba, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Edith sangat merasa jenuh dengan suasana rumah sakit. Stanson telah meminta asisten pribadinya untuk membereskan barang Edith dan menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit.
"Edith, meskipun kondisimu telah stabil dan sudah diperbolehkan pulang, kau tetap harus beristirahat," ucap Stanson dengan nada khawatir.
"Stanson, aku sudah benar-benar sehat. Kau tenang saja, kedepannya aku harus fokus untuk membalas mereka yang sudah menyakitiku. Targetku yang pertama ialah Catalina. Wanita licik itu harus hancur, ia yang telah menyewa orang untuk mencelakaiku," ucap Edith penih tekad.
"Aku akan selalu mendukungmu sayang," ucap Stanson sambil menggandeng tangan Edith menuju lobby rumah sakit dimana mobilnya telah stand by menunggu mereka.
Henry yang berdiri di balik pilar rumah sakit juga kembali ke villa setelah mobil yang Edith naiki telah menghilang.
Saat di villa, Henry melihat Catalina sedang duduk di sofa sambil memainkan handphone. "Kenapa kau ada disini?" tanya Henry.
Catalina yang mendengar suara Henry, melepaskan handphone yang dipegangnya kemudian berlari dan memeluk Henry dengan erat.
"Henry sayang, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Kau tau selama beberapa minggu ini aku selalu mecarimu. Aku merindukanmu sayang," ucap Catalina dengan manja.
"Aku sibuk," jawab Henry dengan nada dingin. "Sejak kapan kau di villa?"
"Aku disini sejak kemarin, syukurlah keputusanku benar untuk menunggumu disini. Akhirnya aku bisa menemuimu. Kau kemana saja selama ini? Handphonemu selalu mati dan kau tidak ada di villa maupun di perusahaan."
"Aku sibuk. Lepaskan pelukanmu, aku ingin mandi dan beristirahat," ucap Henry.
"Aku juga belum mandi. Bagaimana kalau kita mandi bersama, kau pasti juga sangat merindukanku juga bukan," ucap Catalina dengan nada suara genit.
Jika dulu Henry sangat menyukai nada suara Catalina, entah mengapa sekarang ia merasa hal itu sangat menjijikan dan terlalu dibuat-buat. Ia lalu merindukan suara Edith saat memanggilnya dulu.
"Tidak, aku ingin sendiri," ucap Henry berjalan meninggalkan Catalina yang terkejut dengan sikap Henry saat ini.
Henry berendam si jacuzzi untuk merilekskan tubuh dan pikirannya sambil memikirkan Edith. Ia tidak bisa hidup tanpa Edith, seluruh napas dan tubuhnya kini bagaikan terisi penuh oleh Edith.
Satu jam kemudian Hendry keluar dari jacuzzi dan mengambil handuk kemudian dililitkan di V shape pinggang seksinya. Dengan rambut yang masih basah namun hal itu menambah keseksian di wajah tampannya ditambah bentuk tubuh yang super atletis dengan perut kotak-kotak, Henry keluar dari kamar mandi.
Catalina yang telah bersiap menunggu Henry di atas ranjang dengan lingerie tipis tanpa sadar menelan ludah saat melihat penampilan Henry. Catalina baru menyadari bahwa bentuk tubuh Henry sangat membangkitkan gairahnya. Ia yang tidak sabar ingin segera bercinta segera melepaskan seluruh kain yang menempel ditubuhnya dan perlahan mendekati Henry dengan langkah menggoda.
Henry dengan segera menghindari Catalina dan menuju walk in closet untuk berpakaian. Catalina merasa kecewa karena Henry tidak tergoda padahal sebelumnya Henry selalu ingin bercinta dengan dirinya.
"Catalina, pakai pakaianmu sekarang. Aku ingin segera berisirahat, aku lelah sekarang," ucap Henry dengan nada yang menahan amarah.
Catalina yang menyadari bahwa mood Henry sedang tidak baik akhirnya kembali memakai lingerienya dan menyusul Henry di ranjang. Henry membelakangi Catalina ketika Catalina berada di ranjang.
Dalam hati Catalina sangat kesal tetapi ia tidak dapat menunjukkannya karena takut Henry marah dan kedepannya akan sulit untuk membujuknya untuk menikahi Catalina.