Beberapa jam sebelum Rocky muncul di tengah-tengah pertarungan Indra dengan Raja Gautham.
Waktu subuh sudah tiba. Di sebuah rumah dekat pantai, Ricky sudah terbangun dari tidurnya dan ia bersiap pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Aaaah ... air ini begitu dingin dan menyegarkan," gumam Ricky.
Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, Ricky bersiap mengenakan pakaiannya sembari menatap wajahnya sendiri di depan cermin hingga memperhatikan kedua tangannya yang terpasang gelang merah.
"Heeh ... ketika dikeluarkan sedikit saja dari kemampuan ku, ini gelang langsung bereaksi menjadi sarung pemberat. Aneh, tapi ... terlihat keren juga sih," gumam Ricky, dia tersenyum sendiri masih berdiri di depan cermin.
"Sebaiknya kau bersiap-siap!" sapa John.
"Bagaimana dengan paman itu? dia masih terbuai dalam mimpinya bahkan paman itu mendengkur cukup nyaring," gerutu Ricky dengan raut wajah sedikit kesal.
"Haha ... mungkin dia sangat kelelahan," tawa John, dia selalu tersenyum dan tertawa seakan-akan tidak ada beban di masa tuanya kali ini.
Selama kenal dengan pak John, Ricky belum pernah melihat exspresi serius, dingin, apalagi marah. Sungguh pak John adalah orang yang selalu ceria dan tenang dalam setiap situasi dan kondisi. Karena itulah Ricky menyukai sosok pak John aura positif begitu hangat ketika bersama orangtua itu.
Cahaya mentari sudah memasuki rumah pak John dan menyinari wajah Edwin yang masih bertahan dalam lelapnya. Semakin lama cahaya yang menyinari wajah Edwin makin terasa menyilaukan dan hangat, hingga ia mengerjapkan kedua matanya dan bangun dari tidurnya.
Edwin membuka kedua matanya dan Ricky sudah siap duduk di seberangnya berhadapan dengan dirinya.
"Kenapa aku tidak dibangunkan?" tanya Edwin yang masih berupaya mengumpulkan nyawa dan merenggangkan kedua tangannya.
"Selamat pagi paman," sapa Ricky.
"Iyaah ... pagi juga," jawab Edwin, lalu dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Namun seketika Edwin baru tersadar bahwa ada yang harus dilakukan, dengan segera dia keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri Ricky yang masih duduk di sofa.
"Ini sudah jam berapa ..?" tanya Edwin terburu-buru.
"Sudah jam 7 pagi. Memangnya apa yang akan paman lakukan, sampai-sampai datang kesini tadi malam?!" tanya balik dari Ricky. Bukannya menjawab apa yang ditanyakan oleh Ricky, tetapi Edwin memilih pergi bergegas kembali ke kamar mandi untuk mencuci muka saja.
Setelah selesai mencuci muka, Edwin kembali dengan pakaiannya yang sudah kering meski masih ada terasa basah.
"Ayoo! kita sudah tidak ada waktu lagi!" desak Edwin.
"Jelaskan dulu apa yang membuat paman tergesa seperti itu?" tanya Ricky sembari menatap kearah Edwin.
"Nanti saja, kita sambil jalan. Akan ku jelaskan semuanya," balas Edwin.
"Paman ... aku bukan bocah yang dulu lagi! jangan membuatku berpikiran macam-macam!" seru Ricky.
Pak John hanya mendengarkan dari luar saja apa yang dibicarakan oleh mereka berdua di dalam rumahnya. Dengan segelas kopi menemani John duduk di depan teras rumahnya, dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain apalagi menyangkut sebuah misi yang sudah bisa diduganya kali ini.
"Indra ... Indra memasuki dimensi dunia lain di Blue Jungle!" terang Edwin membuat Ricky mengerutkan dahinya bahwa dia tidak mengerti apa yang telah dilakukan oleh orangtua angkatnya itu.
"Bagaimana bisa dia sampai senekat itu masuk ke dalam dimensi yang di mana aku sendiri pun belum pernah masuk ke dalam sebuah dimensi," ucap Ricky, dia tidak habis pikir tentang kapten Indra yang mengambil resiko besar seperti itu.
"Pokoknya akan aku jelaskan sambil kita jalan, kamu harus ikut dengan ku, sekarang!" desak Edwin.
"Okey! tapi aku harus meminta izin terlebih dulu kepada ibu Mary. Aku tidak mau dia menjadi khawatir lagi seperti kemarin-kemarin," jelas Ricky.
"Yaa, aku mengerti!" angguk Edwin.
Ricky dan Edwin menghampiri dan berpamitan kepada pak John.
"Ingat Ricky ... jangan kau tahan, jangan kau pendam. Tapi, keluarkan dengan segenap kekuatanmu. Percayalah dengan apa yang kau miliki itu adalah untuk menolong dan melindungi orang-orang yang kau sayangi," pesan pak John agar menjadi orang yang kuat karena sebuah ikatan kasih sayang kepada sesama.
Semua pesan dan latihan yang sudah di terima oleh Ricky dari gurunya pak John. Ricky sangat bangga bisa bersama dengan pak John meski hanya sebentar saja. Kini Edwin dan Ricky berangkat dengan motor milik Edwin, tak lepas dari kebiasaan dulu Ricky melambaikan tangannya ke arah pak John dan di balas dengan senyumannya.
Menaiki motor dengan kecepatan tinggi dalam waktu 30 menit mereka sampai di depan asrama "Harapan Masa Depan". Segera Ricky turun dari motor dan berjalan masuk ke halaman asrama, saat Ricky hendak memegang pedal pintu depan asrama ingin membuka, namun pintu itu tiba-tiba ada yang membuka terlebih dulu.
Saat pintu depan terbuka, Viola keluar dari asrama tanpa memperhatikan ada seorang Ricky yang berdiri di depan pintu hingga ia pun menabrak tubuhnya begitu saja dan hampir terjatuh. Dengan gerakan refleks Ricky tadi langsung merangkul tubuh Viola agar dirinya tidak terjatuh. Saling menatap satu sama lain, hingga beberapa detik lamanya mereka berdua dalam posisi seperti adegan romantis.
"Ehem ... Ehem ..." tegur Mary, ia membulatkan kedua matanya menyaksikan adegan romantis yang dilakukan oleh Ricky dan Viola.
Seketika Ricky dan Viola tersadar akan apa yang mereka lakukan sedari tadi dan mereka pun menjadi salah tingkah di hadapan Mary kali ini.
"Ricky, bukankah kamu ...."
"Iyaa Bu ... sama mau minta izin terlebih dulu sama Ibu." Ricky mencium punggung tangan Mary.
"Iyaa ... kamu sudah mendapatkan izinku. Tapi, ingat yaah ... apapun yang kamu lakukan di luar sana, tetap harus kembali dengan selamat, mengerti!" tegas Mary di balas anggukan dan senyuman oleh Ricky.
Viola hanya terdiam, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ibu Mary dan Ricky di hadapannya kali ini. Tanpa bersuara Viola mencium punggung tangan Mary lalu dia pergi berangkat sekolah seperti biasanya.
Namun Ricky menahan tangan Viola hingga menghentikan langkahnya.
"Ada apa ..?"
"Hati-hati di jalan, jangan sampai menabrak kucing lagi," ucap Ricky sembari tersenyum kepada Viola.
"Itu urusanku ... jangan kau khawatirkan tentang diriku, aku bisa menjaga diriku sendiri!" balas Viola dan berjalan menghampiri sepedanya untuk segera berangkat sekolah.
Baru saja Viola ingin mengayuh sepedanya, dia menurunkan kakinya dan menoleh kearah Ricky.
"Segera pulang dan jangan terlalu sering bolos sekolah, dasar anak manja!" tegur Viola di balas anggukan Ricky dan senyuman.
Viola pun kembali mengayuh sepedanya dan berangkat keluar dari pagar asrama dalam hitungan detik saja sudah tak terlihat lagi sosok Viola. Kini Ricky juga ingin segera berangkat bersama dengan Edwin menaiki motor.
Edwin melajukan kendaraannya melesat dengan kecepatan sangat tinggi menggunakan turbo Lifestone seperti motor milik Indra. Perjalanan yang cukup jauh melewati beberapa jalanan yang sunyi, Edwin begitu fokus mengendari motornya agar tidak terjadi suatu kecelakaan yang tidak di inginkan.
"Paman Edwin, kenapa kapten bisa mendapatkan misi ke "Blue Jungle" hanya untuk menyelidiki saja? bukankah sudah ada petugas lain yang menangani kasus orang hilang itu?" tanya Ricky, yang dia tahu bahwa kapten Indra bukan untuk menjadi penyelidik orang hilang.
"Bagaimana tidak! petugas yang menyelidiki pun juga ikut hilang tanpa ada kabarnya sama sekali. Seolah di telan bumi, maka dari itu dari pada lebih banyak korban yang hilang, kapten Indra di tunjuk untuk menjalankan misi penyelidikan apa yang sebenarnya terjadi di "Blue Jungle" itu dan ini menjadi tingkat misi B," jelas Edwin.
Ricky hanya bisa mengangguk saja mendengar penjelasan dari Edwin. Perjalanan yang jauh tidak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang perbatasan dan langsung dipersilahkan masuk ke kota Blue. Masih dalam perjalanan meski Edwin mengurangi kecepatan kendaraan melaju dengan sedang, ketika melewati jalan raya di kota Blue tidak ada yang boleh melaju di atas standar kecepatan maksimal.
"Sudah lama aku tidak kesana ..." ucap Ricky mengingat waktu dulu dia pernah di ajak Indra berwisata ke Blue Jungle.
"Benarkah?" balas Edwin mendengarkan sembari masih fokus mengendarai motornya.
"Heem ... awalnya sih tidak mau. Tapi, karena ibu Mary juga ikut aku pun mau saja saat itu," jawab Ricky sembari teringat waktu berumur 10 tahun yang lalu.***
"Ricky ... bangun sayang, kamu mau ikut tidak? ayahmu sudah menunggu diluar halaman," ajak Ibu Mary.
Pagi-pagi sekali Mary membangunkan Ricky untuk mengajaknya ikut bersama dengannya, karena Mary merasa canggung kalau hanya pergi berdua saja dengan Indra.
"Aaaah ... ini masih terlalu pagi, Buu!" rengek Ricky bertingkah manja sekali dengan Mary.
"Sayang ... katanya kamu belum pernah melihat air terjun, 'kan?" goda Mary.
"Hah!! air terjun ...."
"Iyaa ... ayahmu Indra mengajak kita pergi ke "Blue Jungle" katanya di sana ada sebuah air terjun, lho." goda Mary lagi dan akhirnya Ricky mau membuka kedua matanya dan bangun dari tidurnya.
"Benarkah kita mau ke tempat air terjun, Buu?" tanya Ricky dengan semangat ketika mendengar ada sebuah air terjun di sana.
"Iyaa sayang ..." angguk Mary tersenyum manis.
"Yeeaaa ... muach. Kalau begitu Ricky mandi dulu, yah!" Mary tertegun ketika kecupan dari Ricky mendarat di pipinya.
"Ada-ada saja tingkah manjanya ..." gumam Mary.
Akhirnya mereka bertiga jadi berangkat ke Blue Jungle menaiki motor milik Indra. Sepanjang perjalanan Ricky senyam-senyum karena hatinya merasa ceria ketika di bawa ke sebuah air terjun yang di mana dirinya belum pernah sama sekali melihat keindahan air terjun secara langsung.
Tempat wisata Blue Jungle memang terkenal akan keindahan alam yang masih asri bahkan kesejukan hutan itu adalah udaranya yang segar alami. Karena hamparan bunga-bunga berwarna kebiru-biruan itulah yang menjadi ciri khas hutan itu hingga di beri nama "Blue Jungle" bahkan terlihat seperti alam peri yang sedang bersemayam di sana.
Cukup lama menempuh perjalanan kesana namun jauhnya jarak yang ditempuh tidak terasa bagi mereka bertiga karena perasaan mereka lagi di landa semangat keceriaan seakan menjadi keluarga yang harmonis.
"Waaah ... hutannya indah sekali!" seru Ricky baru turun dari motor dan ia langsung terpesona melihat bagian luar Blue Jungle saja.
"Ayoo kita masuk! masih banyak keseruan di dalam sana," ajak Indra juga ikut bersemangat sembari tangannya menggenggam tangan kiri Mary saat itu.
Mary tersenyum ketika dia melihat semangat Indra dan juga Ricky. Kebahagian mereka bertiga begitu nampak di wajah bahkan orang-orang yang melihat tingkah mereka menjadi iri karena seperti keluarga harmonis.
Meski fasilitas di Blue Jungle tidak menyediakan seperti halnya tempat wisata di kota Green, tetapi di sini para pengunjung hanya berjalan kaki saja walaupun begitu mata orang-orang yang berwisata kesana di manjakan oleh keindahan alam "Blue Jungle" dan juga terlihat burung-burung langka dengan bulunya berwarna pelangi dengan ekor panjangnya.
"Di mana air terjunnya ..?" tanya Ricky, dirinya mulai kelelahan berjalan sudah cukup jauh dari awal masuk.
"Sebentar lagi kita akan sampai ke tempat air terjun. Coba kamu dengarkan baik-baik ... apakah kau mendengar suara air memanggil?" goda Indra agar membuat hati Ricky bersemangat kembali.
Dengan seksama Ricky mencoba mendengarkan suara air dan ia memejamkan kedua matanya untuk meresapi suara air yang Indra maksud adalah air terjun tidak jauh lagi dari lokasi mereka berada.
"Waaah, benar sekali! aku mendengarnya ... berarti kita sudah dekat, Yaah?" tanya Ricky bersemangat kembali.
"Iyaap! benar sekali ... ternyata pendengaranmu bagus juga yaah, Ricky!" canda Indra.
"Yaa iyaalah ... aku masih muda dan Ayah sudah tua!" balas Ricky disambut gelak tawa Mary yang berdiri tidak jauh dari Indra dan Ricky.
"Hmmm ... suasana hatimu rupanya lagi bahagia, yah?" goda Indra membuat Mary tersipu malu akan ucapan pria yang sudah mulai membuat hatinya berbunga-bunga kali ini.
"Ayoo jalan! mau sampai kapan kita berhenti di sini! kalian tidak melihat dari tadi banyak orang-orang memperhatikan kita bertiga," gumam Mary, ia berjalan lebih dulu dan meninggalkan kedua pria yang menertawakan tingkah manja Mary.
"Tunggu Buu!" teriak Ricky mengejar Ibu Mary yang sudah cukup jauh berjalan di sana disusul oleh Indra dari belakang.
Keceriaan mereka bertiga tidak lepas dari canda tawa, momen kali ini sangatlah membuat hati mereka senang dan gembira meskipun perlu perjuangan hingga tetesan keringat tak menjadi masalah ketika wajah-wajah mereka bersemangat untuk sampai ke tempat air terjun.
"Inikah air terjun itu ..?" tanya Ricky, dia terpesona akan keindahan air terjun yang ada di hadapannya kali ini.
"Kau benar anakku ... 100 buatmu," canda Indra.
"Tidak mau! angka 100 terlalu sedikit bagiku," balas Ricky sembari memasang wajah manjanya di hadapan Indra dan Mary.
"Lalu kamu mau berapa sayang?" tanya Mary, dia menjadi gemas dan memeluk Ricky dari belakang.
"Cuma satu kok, Buu!"
"Satu ..?"
"Heem satu ... satu-satu aku sayang Ibu," canda Ricky tersenyum cerianya.
Mary semakin gemas kepada Ricky kali ini, hingga membuat Indra cemburu akan tingkah Ricky yang selalu mendapat pelukan dari gadis idamannya. Dengan wajah cemberut Indra, ia berjalan sendirian mendekati lokasi air terjun di sana.
"Ayaaah ... tunggu!" teriak Ricky berlari menyusul Indra, namun sayangnya Indra tidak mendengar suara teriakan Ricky karena gemuruhnya air terjun yang deras turun dari atas pegunungan.
"Hati-hati Ricky! jalannya licin ..." tegur Mary menyusul Ricky dari belakang.
Namun tidak disangka Ricky terpeleset dan hampir jatuh hendak mengenai batu besar di sekitar Ricky. Seketika ada seseorang yang memegangi tubuh Ricky agar dia tidak terjatuh.