"Sayang, ayo kita--" Suasana canggung yang melingkupi kami segara terpecahkan oleh suara tertahan dari seseorang yang sangat aku kenal. Aku menolehkan ke sumber suara dan di sana mendapati bunda yang tengah berdiri kaku dengan membawa beberapa paper bag ditangannya. Aku dapat melihat raut terkejut yang terpancar dari kedua matanya. Sorot mata bunda memandang lurus. Aku mengikuti arah pandang bunda. Ternyata beliau melihat tautan tangan Dania dan Deva. Aku tahu pasti bunda sangat bingung dan terkejut. Aku belum menjelaskan jika hubunganku dengan Deva tidaklah sama seperti dulu. Kami telah berakhir, walaupun tidak pernah ada kata 'selesai' diantara kami. "Bunda..." panggilku yang langsung membuat bunda mengalihkan perhatiannya dari tautan tangan mereka. "Sayang," sapa bunda tersenyum.

