Suara itu amat familiar, meski lama tak menyapa, tetap saja Hilya hafal di luar kepala. Bahkan tanpa berbalik pun ia dapat mengatakan dengan tepat siapa pemilik suara bariton itu. Bibir gadis cantik itu tertutup rapat, bersamaan dengan kenangan yang dibelenggunya bertahun-tahun kini berkeliaran bebas dalam benaknya. Seakan membunuh gadis itu secara perlahan, menggoreskan luka semakin dalam. Bayangan dirinya yang berlutut memohon, meminta agar orang itu tidak pergi. Bayangan dirinya yang mendapat tamparan keras dari seseorang yang berjanji akan melindunginya. "Selamat datang dan selamat menikmati pesta ini." Seorang wanita dengan long dress berwarna hitam berbicara. "Pesta ini dibuatkan oleh saya dan suami saya untuk putri tung

