"Gue harap lo nggak lupa sama janji dan tujuan lo, Dav." Resty menyandarkan tubuhnya pada Davren, memposisikan kepalanya senyaman mungkin pada d**a bidang cowok itu. Davren diam. Namun, Resty tahu kalau Davren bukan tipe orang yang suka mengingkari janjinya. Karena seorang laki-laki dilihat dari bagaimana dia memegang teguh ucapannya. Janji mungkin bisa berakhir sekedar janji, tapi laki-laki sejati akan menepati janjinya. Resty mendongakan kepalanya, menatap Davren lekat. "Gue cinta sama lo, Dav. Dulu, sekarang, dan nanti." Kalimat singkat itu diakhiri Resty dengan sebuah senyuman, sorot mata gadis itu mendesak Davren meyakini kalau yang dilakukannya ini benar. Mengubur dalam-dalam hati nuraninya yang tidak sejalan. "Dav?" tegur Resty k

