Sabtu pagi ini seharusnya Kanaya dapat tidur dengan nyenyek, Ia semalam sudah merencanakan akan bangun siang, mandi dan langsung berangkat kuliah. Mengingat matakuliah pak Idris di ganti di jam 1 siang. Semalaman dia baru menstalking akun pria tersebut, yang mengejutkannya adalah pria tersebut berteman dengan kak Allan, pria yang memberinya beasiswa. Pangerannya itu bahkan ada di youtubenya kak Allan, yang belum mencapai 100 ribu subcriber itu. Ia bahkan memanggil Biasa mereka membahas terkait cerita pribadi, pekerjaan, dan bercandaan. Tak ada info yang Naya dapatkan dari obrolan mereka semalam. Apa Dia belum memiliki kekasih ya, pikir Naya, IA memang melihat ada photo gadis lain di i********: pria tersebut, tapi itu sudah lama. Mungkin sahabatnya, pikirnya ataupun mantannya. Mengingat biasanya pria jika putus jarang menghapus photo mantannya, jika photonya tidak menunjukkan keromantisan ya, beda dengan wanita. Ia beranggapan seperti itu karena melihat i********: Bryan tetap ada photo Dira, berbeda dengan Dira, bahkan semua photo yang ada dengan Bryan baik berdua ataupun rame – rame Ia hapus. Ia bilang, biar kalau buka i********:, ga galau dengan kenangan dulu. Pagi ini tidurnya terganggu, handphonenya dari tadi bergetar mulu tanda ada pesan masuk. Masalahnya handphonennya yang bergetar secara terus menerus tak berhenti bergantian. Ia menyesal lupa menonaktifkan paket datanya. Ia membuka pesan 3 anak ayam yang sudah menyampai 50 pesan. Siapa lagi jika bukan Clara dan Agung yang lagi cekcok akibat Clara sudah memesan tiket nonton untuk nanti malam. Dan Agung ga bisa mengingat sudah janji dengan kekasihnya akan mengajaknya kencan malam ini. Clara tak terima.
Clara : Pagi teman temanku, yang cantik Naya dan sijelek Agung, gua udah pesen tiket nonton untuk jam 7 yaaa,
Agung : Napa jam 7 dah Clar, gua ga bisa
Clara : Napa lu ga bisa?
Agung : Gua mau jalan sama cewek gua
Clara : Ga ada ya. Ini waktunya quality time sama sahabat.
Agung : Yaudah langsung aja pulang ngampus, cewek gua ada kuliah ampe jam 5, sampai ganti kelasnya pak Idriss .
Clara : Ga bisa Gung, jam 3 kita baru pulang. Paling cepat nyampe mall jam 4 siap itu gua mau ke gramed cari buku, makan. Waktunya mepet gua ga mau. Pokoknya gua ga mau tau lu harus ikut
Agung : Abis nonton kan lu bisa ke gramed, makan. Udah refund aja. Ganti jam
Clara : Gua ga mau gung..
Agung : Ya udah gua ga ikut
Clara : Gua udah beli tiket 3
Agung : Ntar gua ganti uangnya, sekalian gua traktir dah, gua aja yang bayar tiket nonton sama makan kalian
Clara ; Anak orang Kaya sih, apa – apa diselesaiin dengan uang
Kanaya : Masih pagi guys, dan udah ribut aja ni anak berdua..
Clara : Ye Kanaya akhirnya buka group juga. Baru bangun lu ye
Kanaya : Iye, lu nganggu tidur indah gua, seharusnya gua bangun jam 11, jadi bangun jam 9. Kurang 2 jam lagi nih waktu tidur gua
Agung typing
Agung : Emang anak kebo..
Clara : Ga usah nimbrung loe, ga usah ngata2in teman gua lu. Kalau ga ikut nonton. Dasar orang yang tak tau loyalitas.
Agung : Lagian ya lu kalau buat acara dadakan banget, kayak tahu bulat
Clara : Gua ga buat dadakan ya, gua kasih tau kan dari pagi ini, kalau dadakan itu gua kasih tau nanti pas jam 6.50 sore baru dadakan
Agung : Ini juga dadakan namanya Maimunah, dunia gua gak berputar dan berporos di lu mulu. Gua dah ada janji ama cewek gua dari jauh jauh hari. Yakali gua batalin. Enggak lah
Kanaya : Yaudah kalau enggak bisa mah, kita berdua aja ya Clar. Kan ga mungkin Cuma gara gara kita Agung batalin janjinya. Kan kita ga sepenting itu..
Agung : Ga usah nambah bensin ya lu Nay…
Kanaya : wkwkwwkwkwkwk
Clara tak membalas pesan tersebut lagi. Group hanya di akhiri oleh kata wkwkwkwk Kanaya. Nayaaaa bangunnn, begitu teriakan bu Lana dan suara tawa dari kedua adiknya terdengar. Kamu ini yah, udah jadi kakak kok ga bisa kasih contoh baik sih sama adiknya, omel Mamanya. Ini Kanaya udah bangun dari tadi Mahh, sahutnya teriak dari kamar. Lana segera bangkit dari kasurnya dan keluar dari kamarnya. Kedua adiknya sudah duduk manis nonton Coco Melon. Ye kalian sudah pada mandi yaa, kok harum banget sih adek aku ciumnya pada Revi dan Alea secara bergantian. Kak Naya bau, sahut Revi dengan gaya anak kecilnya dan mendapat jeweran halus dan pelototan dari Naya. Revi hanya tertawa dan Alea sepertinya tidak terganggu dengan kehadiran Naya, Ia menikmati lagu Coco Melon. Iya kak, kakak bau, mandi gih, anak gadis loh padahal, ungkap Papanya.. Ga papa bau, yang penting cantik sahut Kanaya pede. Yang bilang kakak cantik siapa sih kak, sahut papanya jahil. Kanaya hanya memajukan bibirnya dan mencembrutkan wajahnya, yang diiringi kekehan dari papanya. Ia segera mandi untuk membersihkan dirinya. Ibunya memasak ayam kampung woku hari ini, menu favorite Papanya. Ia mengetahuinya karena wangi masakan Ibunya sudah sampai kekamarnya. Cepetan kak, papa sudah lapar nih, teriak Papanya dari ruang makan. Ia Pah, sebentar. Kanaya keluar dari kamarnya, Papa dan Mamahnya sudah di meja makan, begitupula dengan Revi dan Allea. Mamanya memang selalu membiasakan untuk selalu makan bersama. Alea sudah bisa makan sendiri, meski masih berantakan. Dan untuk Revi Ia cepet sekali besarnya, Ia rapi jika makan tak berantakan, hanya saja sedikit pendiam. Berbeda dengan Allea yang sangat ceriwis. Di meja makan sudah tersedia ayam kampung woku, sop ayam kampung dan juga tahu tempe goreng. Mengundang perut Kanaya berbunyi. Yang disambut gelak tawa keluarganya. Hanya terdengar denting sendok pada saat mereka makan, mereka terlalu menikmati, dan suara kepedasan dari Kanaya. Revi boleh coba ayam itu mah, sahut Revi menunjuk Ayam Woku. Tapi pedes sayang, kamu mau sahut Mama Lana. Iya, melihat kak Naya makan, sepertinya seru. Jawaban Revi mengundang tawa keluarganya. Sepertinya anak kecil itu penyuka pedas, beberapa kali setiap makan, Revi meminta sambal kepada Mamanya. Tapi berbeda Ayam Woku ini pedesnya melebih sambal mamanya. Boleh sahut Mamanya, tapi kuahnya dicampur sama sop Revi ya. Yang dibalas anggukan gadis tersebut. Dan benar saja Revi menyukai makanan pedas tersebut sambil sekali kali mengikuti gaya Kanaya jika sudah kepedasan. Keringat mulai keluar dari kening Revi. Mantap mah, sahut Revi tiba tiba, keluarganya tertawa melihat tingkah gadis kecil itu. Nay, hari ini kita jalan jalan ya, ajak Papanya. Ga bisa Pah, hari ini Naya kuliah. Yasudah selesai kamu pulang kuliah saja, ajak Papanya. Ga bisa pah, Kanaya sudah janji mau nonton ama teman Kanaya nanti malam, sahut gadis itu tidak enak menolak ajakan Papanya. “ Kamu ini, udah sibuk banget, sampai ga ada waktu sama keluarga” sahut Papanya yang ga terima melihat gadis itu sudah mulai tidak ada waktu dengan keluarga. Besok dah Pah, pulang gereja sahut gadis itu. Kita jalan – jalan. Kali ini Naya Janji, ucap Kanaya sambil nyengir dan memberikan jari kelingkingnya sebagai simbol kalau Dia sudah berjanji. Ok besok ya, jam berapa pulang nanti. Ga tau Pah, nontonnya mulai jam7, ya habis filmya jam 9 an. Papa jemputnya sekalian bawa adikmu keliling – keliling. Yaudah ntar Naya kabarin Naya di mall mana.sahut gadis itu cepat. Jam berapa kuliahnya? Tanya Mama Lana. Jam satu mah, antar Naya ya Pah Mah, sahut gadis itu, sekalian ajak Alea dan Revi. Sebenarnya Naya tak bermaksud menyuruh Papa Mamanya mengantar, hanya saja Ia tadi sudah menolak, supaya Papanya tidak badmood lagi sehingga ia menyarankan itu. Setelah itu Ia menyuruh Clara untuk datang duluan, untuk membeli es krim coklat untuk adek mama dan papanya. Seperti menyongok maksudnya karena menolak ajakan keluarganya. Syukurlah Clara juga ada urusan organisasi sehingga mengharuskan Ia datang lebih awal dari jadwal matakuliahnya. Mereka akan tiba sekitar 12.30. Clara tentu saja mau, bagaimanapun saran untuk nonton adalah idenya. Ia lupa jika Sabtu itu adalah hari quality time keluarga untuk beberapa keluarga, bukan seperti keluarganya. Dan Clara harus menyadari itu, Ia memang cukup tau diri, jika keluarganya tak bekerja setiap hari. Ia tak mungkin dapat kuliah. Jadi dia harus mensyukuri hal itu, Ia tak boleh menjadi anak egois dengan berkata Bu Pak ini hari Sabtu mari dirumah saja. Jika Ibu dan Ayahnya tak berjualan di pasar, bagaimana mereka akan makan. Toh mereka penghasilan harian bukan bulanan. Banyak yang bilang beruntung bisa bergaji setiap hari. Dibandingkan bulanan. Tak taukah mereka jika gajian harian tak akan diterima jika setiap hari tidak bekerja keras. Bangun pagi sebelum orang bangun, pulang dan bekerja serabutan. Itulah yang dikerjakan oleh keluarganya. Ibunya bahkan menyetrika baju tetangganya. Memang tak selalu, ketika dipanggil saja. Hal itu lumayan untuk menambah tabungan orang tuany. Atau Ayahnya yang bekerja sebagai ojek online untuk tambahan. Biasanya pagi – pagi Ayahnya akan membantu Ibunya mempersiapkan jualan. Kemudian pukul 6 sudah siap – siap untuk menerima orderan. Pukul 11 akan pulang kerumah, makansebentar. Pukul 12 sudah kembali bekerja. Pulang pukul 14, dan akan kembali menerima orderan di pukul 14 hingga pukul 9. Pukul 10 baru balik kerumah. Itu setiap hari rutinitas keluarganya. Tak terasa Ia melihat mobil papa Kanaya, Ia mengetahuinya karena pernah beberapa kali pergi kuliah bareng Kanaya. Rumahnya dan Kanaya sejalan, mereka hanya beda kompleks perumahan. Clara segera melambai kearah mobil Kanaya untuk menunjukkan dimana posisinya. Gua lihat lu ga usah melambai, sahut Naya dari kaca mobilnya, yang disambut cengiran hangat gadis itu. Gua beli 6, gua mau, kata Clara, Ok, Kanaya segera berlari kemobil Papanya, dan memberi es krim. Ini sebagai permintaan maaf Kanaya Pah Mah, sahutnya sambil membag eskrim kepada keluarganya. Mama Lana hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu yang mengasihi keluarganya. Iya sayang, kami ngerti kok. Have fun yaa, sahut Papanya. Nanti wa papah, biar papa jemput. OK, sahut Naya. Ia melambai ke keluarganya yang sudah melaju ke bahu jalan.
Kanaya dan Clara berjalan berdampingan ke arah kelas mereka. Suara berisikan motor Agung membuat keduanya terperanjat. Bareng ama gua ke kelas, gua parkir motor gua dulu, sahutnya. Kanaya dan Clara menunggu Agung. Katanya parkir motor, gua liat lu dari warungpun, sahut Kanaya.. Agung hanya nyengir saja, biar mulut gua ga asem, jadi beli obatnya dulu. Baru makan asem lu, makanya mulut lu asem sahut Naya lagi. Dia bukan ga mengerti maksud Agung, cuman Ia hanya bercanda berlagak b**o. Sedangkan Clara hanya diam saja berjalan di depan mereka. Biasanya setiap Agung beli rokok, Ia akan memak’sa pria tersebut untuk memberikan rokoknya, yang berakhir dengan patahan. Tumben banget lu diam, tanya Kanaya sambil menyenggil Clara. Ntah nih, biasanya berisik, sahut Agung lagi. Tak ada tanggapan dari gadis itu. Ia hanya diam saja. Kan lu tau Clar, gua ga mungkin batalin kencan gua, kasihan cewek gua, gua anggurin mulu, gua sibuk ama organisasi. Baru ini aja gua free. Ya kan cewek lu bisa diajak gabung bareng kita, sahut Clara, gua tinggal nambah pesen tiket doang. Ya kali gabung Clar, sekalinya jalan masak bareng kalian sih, sahut Agung. Emang kenapa kalau bareng kita tanya Kanaya. Agung bingung memilih kata untuk menjelaskan. “Lu mau buat dosa ya” sahut Clara. Dosa apa, anjir Agung menaikkan satu oktaf suaranya. Ya bukan gitu ya butuh privasilah, emang susah kalau ngomong ama orang yang ga pernah pacaran dan orang yang suka menggilir dan digillir tanpa kepastian, pasti ga bakal ngerti. Maksud lu apa digilir dan menggilir? Tanya Clara tak terima dengan kata kata tersebut. Ia tau itu diperuntukkan untuknya. Ga ada, sahut Agung. Ia mengeluarkan dompetnya uang 500 an, nah ini untuk jajan kalian berdua princess dan tiket nontonya. Ia menyerahkan uang tersebut ke Clara. Yang dibalas decisan oleh gadis itu. Kita ga butuh uang lu, anak orang kaya sih, apa – apa selesaiin dengan uang. Gua masih punya uang kok kalau untuk tiket nonton dan makan, tenang aja, gua baru habis digilir, ucap Clara Sarkas dan keluar dari ruangan kelas. Maksud gau ga gitu sahut Agung dengan keras, bagaimanapun mereka sudah jadi bahan perhatian satu kelas. Lu sih mulutnya comel, sahut Naya. Napa dah dia sensi banget, lagi pms kali ya, sahut Agung. Clara baru memasuki kelas setelah pak Idris masuk, matanya sembab. Mungkin habis nangis. Naya segera melihat ke Agung dengan tatapan gara gara lu nih.
Dan Agung hanya menggedikkan bahunya. Selesai matakuliah berakhir Agung langsung mendekati meja Clara, Sorry yaa. Iya sahut gadis itu cepat dan langsung mengajak Kanaya keluar. Luan ya Gung, sapa Clara dan meninggalkan kelas. Gwencaha? Tanya Kanaya. Gua gapapa Nay. Yuk mereka pergi ke mall yang mereka tuju, ke gramed, membeli buku novel dan buku pemeriksaan akuntansi. Tak lupa juga membeli chatime, minuman kesukaan mereka, strowberry milktea. Kanaya seperti menangkap sosok yang dikenalnya tunggu Dira sama siapa tuh.. Naya segera memotret dan sent a picture tuh my bestie
Kanaya : siapa tuh, cakep banget neng.. ga dikenalin nih..
My bestie : ada paparazi, dimana mana ada paparazi. Perasaaan mall di jakarta banyak dah.. lu dimana?
Kanaya : Siapa neng, kok belum dijawab..
My bestie : kakak tingkat dan sekaligus kami satu organisasi. Ga usah berprasangka.
Kanaya : kakak tingkat, kok jalannya malam minggu?
My bestie : Rame rame sayang, cuman belum pada datang aja. Lu dimana?
Kanaya : di gramed
My bestie : gua susul yaa
Kanaya : ga usah kalau enggak mau dikenalin mah, kalau spesial baru susul gua kesini
Mybestie : Ok, karena bukan martabak jadi ga gua susul yaaa
Kanaya : Ok….