Hari sudah malam, namun bukannya pulang ke rumahnya, Fany justru mendatangi Gavin di ruang ICU. Pikirannya yang tengah kalut itu membuatnya berpikir puluhan kali untuk pulang ke rumahnya. Maminya pasti akan tahu bahwa sekarang Fany sedang tidak baik-baik saja hanya dengan menatap matanya. Perempuan itu menggenggam jemari Gavin secara perlahan. Mencari setitik perasaan nyaman lewat genggaman tangan yang biasanya menghangatkan itu. Namun kini, tangan Gavin lemah tak mampu menggenggamnya, membuat hati Fany kembali teriris. “Aku harus gimana, Vin?” tanya Fany yang hanya disahuti oleh suara monoton dari alat medis yang menunjang kehidupan Gavin. “Setelah semua yang terjadi, apa aku masih pantas mengharapkan kebahagiaan bersama kamu?” Getaran yang berasal dari ponsel di dalam totebag Fany be

