“Tapi semua itu nggak mengubah fakta bahwa Gavin sudah membunuh Bunda.” Nampak jelas pada sorot mata Revan yang mengisyaratkan rasa kecewa, marah, dan benci yang terlalu kental. Perasaannya bercampur menjadi satu, membuat Revan seperti hampir gila. Sama gilanya seperti hidupnya di masa lalu, ketika ia dipaksa dewasa di usianya yang bisa dibilang masih belia. “Gue nggak ngerti dengan jalan pikiran lo, Kak.” Fany beranjak dari duduknya, menatap Revan dengan tatapan yang tak kalah kecewanya. Bagaimana bisa ia menyatukan nama Gavin dan kata membunuh dalam satu kalimat, padahal jelas-jelas laki-laki itu sama sekali tak bersalah. Fany mengatakan hal seperti itu bukan karena ia pacar Gavin. Sama sekali bukan. Tapi karena menurutnya, kepergian Bunda mereka, dan apa yang terjadi pada mereka semasa

