48. Tak Perlu Khawatir

1078 Kata

Suasana sunyi sontak saja menyelimuti ruang makan keluarga Gwen tepat setelah Fany menyelesaikan kalimatnya. Perempuan bermata sabit itu langsung menciut, takut jika ternyata apa yang dikatakan oleh Revan itu benar adanya. Fany takut kalau ia tak lagi diijinkan untuk bertemu dengan Gavin atau bahkan menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Fany menundukkan kepalanya sebab merasa putus asa dengan ekspektasi yang sudah ia ciptakan sendiri. Setelah ini, apapun keputusan yang diberikan oleh Mami dan Papinya, Fany harus menerimanya dengan lapang d**a. Sekalipun mungkin keputusan akan memberatkan hatinya, namun Fany harus tetap patuh dengan kedua orangtuanya. Melihat wajah sang putri yang kini berubah murung, Fredy pun tertawa pelan, “Kenapa kamu berpikiran seperti itu?” tanyanya. Fany mengali

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN