Lina menghela napas pelan. "Ya sudah. Tapi jangan nakal ya." Ia menatap putranya. "Asyikk! Makasih, Ma." Dion turun dibantu Tristan. Ia berlari-lari dengan kaki kecilnya ke arah motor Tristan dan menunggu pria itu duduk di motornya. Setelah itu ia didudukkan di depan di mana Dion bisa berpegangan pada stang motor. "Mama, Dion pergi, Ma!" teriak bocah itu dengan riang sambil melambaikan tangan. Terlihat sekali Dion sangat suka berada bersama Tristan. Berbeda sekali saat Dion bersama ayah kandungnya. Agam yang sering pulang malam, hanya mengecek keberadaan Dion di rumah. Bahkan menyentuhnya pun sangat jarang. Menggendongnya saja bisa dihitung dengan jari. Karena itu Dion dan Agam tak pernah begitu dekat. Tidak seperti Tristan dan Dion yang begitu nyaman bersama. Namun, Lina masih khawa

