PART 19 BERSAMA KAK VIAN

1554 Kata
Happy reading Malam telah tiba. Di ruang inap Raina sedang ada teman temannya yang membuat suasana ruangan itu menjadi lebih ramai. "Na kok tumben lo tumbang biasanya baku hantam paling depan"ucap Ona. "Entah,gue juga gak tau kenapa ya"ucap Raina lalu mengangkat jari nya seperti berpikir. Kelakuan Raina menyambut tawa orang orang di dalam kelas. "Anggap aja gue kehabisan bensin jadi mogok di tengah jalan"lanjut Raina lagi. Cklekk Mereka semua pun menoleh ke asal suara,suara pintu terbuka yang membuat mereka terkejut.Bukan,bukan suara pintunya tapi orang yang membuka pintunya. "Loh pak,kok ada disini?ini guru baru itu bukan sih?"tanya Gara. "I-iya kayaknya tapi kok penampilannya beda"balas Gita cengo. "Ekhmm"dehem Vian. Ya,Vian tiba tiba memasuki kamar inap milik adiknya itu dan ternyata di sana ada teman teman Raina yang merupakan anak didiknya juga. "Dia adik saya"ucap Vian memecah kebingungan. "WHATTT"teriak mereka terkejut yang membuat Raina juga ikut terlonjak kaget. "Kecil kan suara kalian"tegur Vian tegas. "Hehehe sorry pak reflek tadi tu"ucap Hengki dengan cengirannya. Vian mendekat ke arah brankar Raina,setelah itu mencium kedua pipi dan kening raina membuat teman temannya baper melihatnya. "Gue baper masak"gumam Ona dkk. Disaat semua orang baper melihat kedekatan adik dan kakak di depannya itu,tidak dengan Ale yang menahan cemburu melihatnya. Tatapannya berbeda batin Ale tersenyum kecut melihat tatapan gurunya yang juga kakak dari Raina. "Ada yang panas nih"sindir Gara. "Bener lo ada yang panas,ac nya di besarin dong biar sejuk gitu"ucap Hengki terkekeh. "Apanya yang panas?"tanya Raina bingung "Kepala dan hatinya"ucap Gita terkekeh melihat ketidakpekaan temannya itu. "Kamu makan dulu ya,kakak suapin"ucap Vian tiba tiba. "No,gak mau kak. Itu bubur. Raina gak suka bubur apalagi bubur rumah sakit"tolak Raina memelas. "Makan sayang"ucap Vian lembut sambil menatap mata indah milik Raina. Entah kenapa Raina merasakan jantungnya berdetak kencang saat di tatap kakak sepupunya seperti itu. "Biar gue yang suapin bang"ucap Revan dan Rehan kompak. "Gue aja"ucap Revan "Gue"jawab Rehan "Gue lebih tua dari lo,jadi nurut kata gue"ucap Revan "Sok tua lo"ucap Rehan sinis "Udah gue aja" ucap Geri tiba-tiba. "GAK LO JUGA!!"jawab si kembar kesal membuat yang lain tertawa kecil melihat tingkah mereka. Vian pun tak ambil pusing,dia memiliki ide agar Raina mau makan disuapinnya. "Kakak bakal ajak jalan jalan kalau kamu udah sembuh,kemana pun"bisik Vian. Raina yang mendapat iming iming jalan jalan pun berpikir lalu menggeleng membuat vian bingung. "Why?kenapa gak mau?"tanya Vian pelan. "Aku mau makan kalau kakak beliin aku banyak dessert dan segala macam makanan,gimana?"ucap Raina. "Deal"jawab Vian terkekeh gemas. "Kalian bicara apa?"tanya Revan. "KEPOO"ucap Raina terkekeh Malam pun mulai larut tapi Raina masih belum bisa memejamkan matanya. "Kak"panggil Raina seraya mendongak menatap kakaknya yang asik mengelus kepalanya. "Hm?"dehem Vian. "Gak bisa tidur,pengen pulang"ucap Raina. "Besok ya sayang sekarang istirahat dulu"suruh Vian. "Besok?,kak bisa bisa raina mati kebosanan disini"ucap Raina reflek. "Jaga bicaranya"ucap Vian tegas dan datar membuat Raina mengerjapkan mata polos lalu menyengir. "Maaf kak gak sengaja"ucap Raina. Vian hanya diam menatap Raina membuat Raina merasa bersalah. "Kak,raina minta maaf"ucap Raina mengeluarkan puppy eyes andalannya "Jangan di ulang,kakak gak suka kamu bicara gitu,paham sayang?"ucap Vian. "Iya kakakku yang ganteng"ucap Raina sambil memeluk tubuh kekar kakaknya tanpa ia tau Vian sedang menahan detak jantung yang menggila. "Tidur ya sekarang"suruh Vian. "Lihat tu abang kamu udah pada tidur nanti mereka kebangun gara gara kamu gak tidur gimana?"lanjut Vian. "Huhh oke tidur"ucap Raina. Setelah beberapa menit akhirnya Vian bisa membuat Raina tertidur pulas.Dia menatap muka polos yang sedang tidur dengan damainya,lalu mencium sudut bibir adiknya itu. "Good night baby"gumam Vian sebelum ikut masuk kealam mimpinya. Dilain tempat ada satu keluarga yang sedang berkumpul membicarakan kembali anak mereka yang selama ini berada di luar negeri.Kepulangan dia bukan tanpa alasan tapi karena ingin mengambil apa yang menjadi miliknya. "Ini terlalu cepat mas,dia masih kecil bahkan belum ada 17 tahun"ucap sang wanita. "Tenang lah aku akan mencoba bicara dengannya. Aku yakin dia akan mengerti"ucap laki laki yang dipanggil mas tadi. "Apakah mereka akan bisa bersama?sedangkan dia tau kalau itu kakaknya,aku takutnya dia suka dengan laki laki lain dan itu membuat anakku marah"ucap wanita satu lagi. "Kita pasrahkan semua pada Tuhan. Hanya takdir yang bisa menyatukan atau tidak. Biarkan waktu yang menjawab"ucap laki laki yang terlihat lebih berumur dari yang lain. "Baiklah"jawab mereka. Pagi pun tiba,Raina sudah bangun dari sejam yang lalu karena dirinya sangat berantusias untuk pulang dan kembali ke keluarganya. "Ayo abang,Raina mau pulang"ucap Raina merengek kepada Revan yang masih asik menggodanya. "Cium dulu baru kita pulang"jawab Revan membuat Rehan dan Vian menggeleng melihat tingkah saudara mereka yang satu itu. "Gak mau abang gak mandi nanti Raina ketularan baunya"ucap Raina sambil menutup matanya. "Kok yang ditutup matanya"bingung Revan. "Eh kesalahan teknis bang"ucap Raina menutup mulutnya membuat si kembar dan Vian terkekeh melihatnya. "Adek siapa si ini gemes banget"ucap Revan mencubit pipi cubby Raina. "Abang siapa si ini jelek banget"ucap Raina terkekeh membuat Revan dan Rehan menatapnya jail. "Hehe pics bang becanda kok. Abang Raina mah ganteng,ayam tetangga mah lewat"ucap Raina. "Lah anjir kita disamain ayam"ucap Rehan melirik Revan. "Tapi lo lebih mirip deh han kalau di lihat lihat"ucap Revan berlagak memikir. "Mirip matamu,kalau mirip berarti lo juga dugong jangan lupakan kita kembar"ucap Rehan tak terima "Diam kalian,berisik"ucap Vian yang mulai jengah. Vian pun mendekati brankar raina. "Udah siap pulang?"tanya Vian lembut "Udah kak,ayo pulang"ucap Raina antusias "Yaudah ayo"ucap Vian dan dengan mudahnya dia menggendong tubuh Raina ala koala yang membuat Raina terpekik kaget. "Kak"ucap Raina terkejut. "Kenapa?"tanya Vian. "Kaget ih"ucap Raina menabok pelan lengan vian membuat vian dan si kembar terkekeh melihat raut muka Raina. Selama di perjalanan Raina hanya diam dan bersandar pada d**a bidang milik vian. "Wangi. Raina suka bau maskulinnya"gumam Raina yang masih bisa di dengar Vian. "Suka?kalau gitu kakak gak akan ganti ganti maskulinnya"ucap Vian mengecup sayang kening Raina membuat Raina tanpa sadar memejamkan matanya dan tersenyum. "Kak"panggil Raina sambil mendongak menatap kakaknya itu. "Hm?"dehem Vian yang masih asik bermain dengan rambut panjang milik adiknya. "Kenapa kakak berbeda?"tanya Raina membuat Vian berdebar debar. "b-berbeda?"tanya vian bingung. "Entahlah"jawab Raina lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Vian. Ada saatnya kau akan tau semuanya sayang batin Vian. Sesampainya mereka di mansion keluarga Kavindra,Raina lari memasuki mansion itu membuat para abangnya terkejut melihatnya. "Jangan lari"tegur mereka namun tak didengarkan oleh Raina. "Dasar nakal"ucap si kembar terkekeh sedangkan Vian menggeleng kepalanya maklum. "Mommy,mama,daddy,papa,opa,oma Raina pulang"ucap Raina setelah bertemu dengan keluarganya. "Hati hati sayang jangan lari lari dong kalau jatuh gimana"ucap mommy lembut. "Maaf mom,habisnya Raina kangen kalian"ucap Raina dengan cengiran polosnya. Setelah acara melepas kangen,Raina membuka kulkas,niatnya ingin mengambil s**u cokelat kesukaannya tapi matanya lebih berbinar saat melihat banyak dessert yang menggugas selera. "Wahhh dessert,pasti ini dari kak Vian nyam nyam"ucap Raina dengan mata berbinarnya. Tanpa Raina sadari banyak keluarga yang melihat kelakuan menggemaskannya itu. "Lihat anakmu,seperti mendapatkan apa saja sampai berbinar gitu"ucap daddy terkekeh. "Anakmu juga mas"ucap mommy. "Anak kalian kan kalian yang buat"ucap Revan dengan tampang sok polos. "Diam lo"ucap Rehan menjitak kepala Revan "Awss kan bener"ucap Revan tak terima. Tiba tiba maid datang menemui mereka. "Permisi tuan,nyonya di depan ada yang mencari non Raina,katanya ada urusan dengan non Raina"ucap maid. "Siapa?"tanya Fasya dan Vian kompak. "Saya kurang tau tuan,beliau tidak mau mengatakan namanya"ucap maid itu lagi. "Biar aku yang menemuinya"ucap Vian datar. Vian pun menemui tamu itu.Saat melihat siapa tamu itu pun dirinya menggenggam tangannya erat ia sudah berpikir yang tidak tidak. "Ekhmm"dehem Vian sedikit keras. Laki laki itu pun menoleh dan melihat Vian dengan muka datarnya. "Siapa?"tanya Vian. "Bukan siapa siapa kak,dia kakak aku dari Amerika"ucap Raina yang tiba tiba datang dari belakang. Tadi dirinya sempat membaca pesan di ponselnya dan cepat cepat menuju pintu utama sebelum Orang yang di tuju mengatakan sesuatu. "Bener?"tanya Vian curiga pasalnya muka raina sedikit cemas. "Iya kak,bang Eza bener kan?"tanya Raina memberi sinyal untuk Eza agar mengangguk "Iya,saya abang raina dari Amerika"ucap Eza dengan nada ramahnya "Kak Raina ada urusan sebentar sama bang Eza. Boleh Raina keluar sebentar?"tanya Raina. "Gak"ucap Vian datar. "Ayolah kak,cuma sebentar"ucap Raina mengeluarkan puppy eyesnya. "Oke,tapi jam sembilan sudah sampai mansion lagi.Paham?"ucap Vian menatap lembut Raina. "Siap kak"ucap Raina mencium pipi Vian dengan sedikit berjinjit membuat Vian diam membeku di tempat "Byee kak,assalamualaikum"pamit Raina. "Waalaikumsalam"balas Vian tersenyum kecil. "Diam lah"gumam Vian memegang jantungnya yang berdetak kencang. Sekarang Raina berada di kafe terdekat di sekitar mansionnya.Eza datang menemui Raina bukan tanpa alasan namun ada sesuatu yang harus Raina selesaikan. "Bagaimana bisa bang?Raina selalu memantaunya tapi kenapa masih bisa kecolongan bahkan abang, Raina percayakan untuk menjaga perusahaanku"ucap Raina dengan nada dinginnya. "Abang yang salah dek maafin abang. Abang gak bisa menjaga kepercayaan kamu. Tapi abang janji abang akan cari pelakunya dan memasukkannya ke tempat yang sesungguhnya"ucap Eza dengan aura dinginnya. "Buktikan. Jangan buat Raina kecewa lagi bang"ucap Raina yang mulai melembut. "Lalu gimana dengan perusahaan di Kanada?semua baik baik saja?"tanya Raina lagi. "Perusahaan disana berkembang sangat baik. Bahkan kita memenangkan tender terbesar"ucap Eza. "Suruh bang Rey yang memegang perusahaan di Kanada untuk menambah gaji karyawan bang"ucap Raina tersenyum. "Apa tidak akan merugi?kita sudah memberi gaji dengan nominal yang tidak seperti biasanya dek"ucap Eza. "Percayap. Perusahaan akan semakin berkembang. Anggap saja itu bonus kerja keras mereka dan kejujuran mereka. Kau tau kan bang Raina suka dengan kejujuran"ucap Raina tersenyum tipis. "Lalu kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka siapa dirimu sebenarnya?"tanya Eza membuat raina tersenyum kecil "Bukan tidak,tapi belum waktunya bang"ucap Raina membuat Eza paham. "Yaudah ayo pulang,abang antar"ucap Eza
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN