Happy reading-!!
Teman teman Raina dan ketiga kakaknya sekarang sudah berada di depan ruang ICU. Mereka sangat khawatir dengan keadaan adik kecil mereka.
"Van,lu udah kabari orang rumah?"tanya Ona.
"Belum"jawab Revan seadanya.
"Gue udah kabari orang rumah,mereka sedang menuju kesini"ucap Rehan datar.
Dan Geri?dia hanya diam menatap kosong kedepan.Sebobrok b****k nya dia,jika ini menyangkut keselamatan keluarganya terlebih adik perempuan kesayangannya dia akan menjadi seseorang yang dingin dan lebih kejam dari yang lain.
"Gue akan cari dalang dari semua ini"ucap Geri dengan tatapan penuh balas dendamnya.
"Kita ikut"ucap teman teman Raina kompak.
Geri hanya diam dan menganggukan kepalanya pertanda setuju.
"Boy,apa yang terjadi? Kenapa putri daddy bisa seperti ini?"tanya daddy yang baru datang dan tak lama dari itu mommy pun juga datang dengan muka yang panik.
"Dimana dia?kenapa bisa begini kalian kemana aja hah"marah mommy.
Mommy Bella memang bukan seseorang yang mudah menangis namun tak ada seorang ibu yang tidak menghawatirkan anaknya bukan?
"Maaf mom"jawab ketiga abang Raina.
"Tenanglah bell,anak kita pasti kuat"ucap daddy menenangkan.
"Kau tau kan mas,aku masih trauma tentang kejadian itu. Aku gak mau kehilangan Raina untuk kedua kalinya"ucap mommy lirih dan mencoba menahan emosinya namun akhirnya air mata itu tak dapat di bendung lagi.
"Siapa pelakunya?"tanya Fasya kepada adik adiknya.
"Kita belum mencari tau bang,karena saat itu Raina ada di toilet"jawab Rehan.
"Di toilet"gumam mommy tak menyangka.
"Jangan lepaskan mereka boy,kalian tau apa yang harus kalian lakukan bukan?"tanya daddy dengan smirk andalannya.
"Tentu dad"jawab ke empat abang Raina.
"Kalian pulang saja. Kalian bisa istirahat nanti kalau Raina sudah sadar boleh kesini lagi"ucap mommy kepada teman teman Raina.
"Tapi tan kita ingin lihat Raina sampai sadar"ucap Gara.
"Kalian masih ada jam pelajaran kan? Sekarang kembali ke sekolah ya,om yakin kalian juga bisa menemukan pelakunya"ucap daddy.
"Baik om"jawab mereka kompak.
Mommy tidak sengaja melihat Ale yang hanya diam dan menatap kosong ruang ICU. Dirinya tersenyum tipis karena ia melihat tatapan berbeda dari pemuda itu pada putri kesayangannya,namun apakah takdir akan menyatukan mereka?
Semoga ada jalan terbaik batin mommy menatap Ale dengan tatapan tak terbaca.
"Kalian juga kembali ke sekolah boy"suruh daddy tak mau di bantah.
"Iya dad"jawab ketiga abang Raina.
Abang dan teman teman Raina akhirnya pun pamit dan kembali ke sekolah,bukan untuk meneruskan pelajarannya namun mereka akan mencari dalang dari semua ini.
"Awas aja kalau perempuan pelakunya gue letusin tu gunungnya tapi kalau laki biar para boy yang lakuin deh"ucap Cika terkekeh.
"Anjir pikiran gue traveloka"ucap Ona.
"Cik,pikiran lo ya gila aja gunung mana yang mau lu letusin"ucap Gita terkekeh.
"Ada lah,habisnya gue pengen hancurin muka mereka,seenak jidatnya mereka nyakitin adik gue,mau mati ternyata"ucap Cika menggebu gebu.
"Gila gila gila"ucap Gita dan Ona terkekeh.
Skip
Saat ini mommy,daddy,dan Fasya sedang menunggu dokter yang menangani Raina.
Cklekk
"Dengan keluarga pasien?"tanya dokter itu.
"Kita dok"jawab mommy.
"Bagaimana keadaan putri saya?"tanya daddy.
"Keadaan pasien mulai membaik. Pendarahan di kepalanya juga sudah berhenti, tapi itu menyebabkan gumpalan di kepalanya yang akan menyebabkan rasa pusing dan sakit yang tiba tiba menyerang"ucap dokter.
"Sampai berapa lama dok?"tanya mommy yang sebenarnya merasa teriris mendengar keadaan putrinya.
"Tidak akan lama,yang penting pengobatan tetap berjalan lancar,saya harap kejadian ini jangan sampai terulang atau akan lebih fatal akibatnya"ucap dokter itu.
"Baik dok"ucap daddy.
"Kalau gitu saya akan memindahkan pasien ke ruang inap"ucap dokter.
"Berikan fasilitas yang terbaik untuk adik saya"ucap Fasya tak terbantahkan.
"Baik tuan"ucap dokter itu.
"Bagaimana keadaan cucu ku?"tanya opa dan oma dan diikuti mama dan papa yang baru datang dengan muka yang terlihat sangat panik.
"Kata dokter baik baik saja,tapi ada gumpalan darah di kepalanya yang akan membuat Raina merasa pusing dan sakit"ucap daddy
"Apa akan lama?"tanya oma khawatir.
"Tidak,yang penting pengobatan lancar ma"ucap mommy.
"Siapa pelakunya?siapa yang berani menyakiti keponakan ku"tanya papa dengan aura yang berbeda.
"Tenanglah suamiku,kita akan mencari tahunya"ucap mama menenangkan suaminya.
"Kalau kejadian ini terulang,aku tak segan segan membawa Raina jauh dari kalian"ucap opa tajam.
"Jangan pernah jauhkan dia dari diriku lagi"ucap seseorang di belakang mereka.
"Vian"gumam mereka.
"Kau sudah pulang nak? Kenapa tidak mengabari kami?"tanya mama dan memeluk anaknya itu.
"Vian akan pulang ke mansion nanti ma,di mana adikku?"tanya Vian.
Siapa Vian? Vian adalah anak angkat pertama dari mama dan papa yang berarti kakak sepupu dari Raina.Vian atau Jovian Allaver Kavindra adalah seorang guru di sekolah milik keluarganya. Masih ingat dengan guru baru itu?ya dia adalah Vian.Makannya si kembar biasa saja saat tau siapa guru baru mereka itu.Hanya Raina yang belum mengetahuinya.
"Ada di ruangannya,kau jagalah dia dulu kita akan menyusul"ucap daddy yang di angguki Vian.
Vian pun melangkah ke arah ruang adiknya,ya memang saat ini masih menjadi adiknya entah kedepannya saat semua sudah tau dengan kebenaran yang ada di keluarga ini.
Dengan perlahan dirinya membuka pintu dan jalan mendekari brankar Raina.Vian menatap dalam putri tidur di depannya ini.
"Bangun sayang. Kakak di sini. Kamu belum sempat berkenalan dengan ku bukan? Bangunlah"ucap Vian pelan setelah itu Vian mencium sudut bibir milik Raina dan tersenyum manis.
Cklekk
"Belum sadar?"tanya Fasya.
"Belum"jawab Vian singkat.
Fasya hanya diam dan mengamati adik kesayangannya itu.Dirinya sangat marah dan ingin membunuh seseorang yang telah menyakiti adiknya ini.
"Biar abang yang akan membalaskan rasa sakit mu dek"gumam Fasya mengelus lembut kepala Raina.
"Shh mommy daddy"ringis Raina namun matanya asih terpejam.
"Sayang kau sudah sadar,bangun dek ini abang"ucap Fasya.
Dengan perlahan tapi pasti akhirnya Raina membuka mata indahnya itu.
"A-abang aku dimana?"tanya Raina.
"Di rumah sakit. Kamu sangat nakal sayang"ucap Fasya terkekeh kecil.
"Raina gak papa bang"ucap Raina namun tidak dengan kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
"Sakit?"tanya Vian lembut.
"Lah bapak kenapa disini?"tanya Raina terkejut dengan nada yang masih terdengar lemas.
"Sayang kamu udah sadar nak"ucap mommy senang.
"Mommy,daddy,opa,oma,mama,papa"ucap Raina senang dan jangan lupa kekehann lucu dari mulutnya.
"Peluk"ucap Raina cemberut.
"Gemes banget si"ucap mama terkekeh melihat tingkah keponakannya.
"Iya sini mommy peluk"ucap mommy lalu memeluk putrinya itu.
"Gak mau peluk daddy ni?"tanya daddy.
"Mau dong. Raina mau di peluk kalian semua"ucap Raina dengan cengiran polosnya membuat mereka tertawa.
Setelah acara berpelukan, Raina kembali menatap seseorang di sebelahnya. Entah kenapa berada di dekat gurunya itu membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Apalagi saat melihat tatapan dalam yang di berikan gurunya itu padanya membuat hatinya menghangat.
"Mom, guru Raina kok ada disini? dia lagi jenguk Raina ya? berarti bawa buah tangan dong kok gak ada mom"bisik Raina sanbil melihat adakah kantong makanan di dekatnya.
Mommy nya itu terkekeh mendengar ucapan polos dari putrinya.
"Sayang,dia itu kakak sepupu kamu namanya Jovian Allaver Kavindra. Kamu panggil bang Vian ya"ucap mommy.
"No,panggil aku kak Vian.Hanya aku yang boleh di panggil kakak oleh mu"ucap Vian tersenyum manis membuat Raina melongo.
"Ganteng banget"gumam Raina tanpa sadar namun masih bisa di dengar mereka semua.
Tanpa Raina sadari,mereka tersenyum penuh arti melihat kedekatan Raina dan Vian.Hanya mereka dan Vian yang tau arti dari senyuman itu.