26

1094 Kata
Tempat yang dijadikan tempat perkumpulan para pemburu penyihir telah ditemukan. Baik Erlend, Cody dan para Saudari telah melewati portal dan sampai di tempat tersebut. Mereka berjalan beberapa langkah sudah menemukan sebuah markas besar di balik rerimbunan semak belukar yang tingginya di atas tinggi badan orang dewasa. Di situlah saat ini Laura berada, tidak sadarkan diri, di dalam salah satu ruangan. Tidak ada yang menyangka bahwa para penyihir akan datang langsung ke markas. Bukan hanya para Saudari, banyak penyihir lain yang juga berdatangan, bahkan burung gagak pun mendekat dan bertengger di atas dahan-dahan pohon. Mereka adalah reaper yang sengaja menjadi mata bagi Death alias dewa Thanatos dalam melihat pertempuran ini. Pertempuran yang tak bisa dihindari. Para penyihir telah mengepung markas, dan mereka semua langsung menyerbu dengan arahan dari salah seorang Saudari. Serangan tak terduga ini menyebabkan para pemburu penyihir banyak yang berhamburan, sebagian lagi menyerang balik— tapi kala jumlah. Pada dasarnya mereka memang kuat dan bisa melakukan mantera suci seperti halnya para malaikat, hanya saja mereka terdesak sehingga perlawanan mereka sia-sia. Kebanyakan para pemburu penyihir yang ada di markas ini lima pria berusia antara empat puluh sampai empat puluh tahunan. Iya, kebetulan memang hanya ada mereka yang berjaga di dalam markas. Kaum muda biasanya pergi berkeliling untuk mencari informasi atau berburu makhluk seperti iblis atau penyihir, kembali jika ada pertemuan saja. Tidak ada yang menyangka kalau hari ini akan ada pertempuran semacam ini. Mantera kegelapan terus dilontarkan para penyihir. Kabut hitam, kilatan kelabu, semuanya saling melayang di udara, menyerang satu per satu pria dari pihak musuh. Salah seorang penyihir bahwa berhasil meretakkan bangunan besar tengah hutan ini dengan sebuah mantera. Semua kegilaan ini diperparah dengan Erlend yang ikut bertempur. Dia membuat gemuruh di tanah dan langit. Semuanya bergetar karena kemampuan dewanya. Dia membantu para penyihir dalam merusak bangunan markas agar menetralkan mantera suci yang menghalangi pihak luar masuk. Setelah berhasil melakukan hal tersebut, Erlend dengan tombak dwisula di tangan, berlari masuk ke dalam markas tersebut dengan leluasa. Para penyihir sengaja menyibukkan setiap para pemburu yang tersisa demi membiarkan Erlend untuk masuk. Di belakang Erlend, Cody juga tetap setia mengikuti langkahnya. Pemuda inilah yang menyihir setiap penjaga yang masih bertahan di dalam markas. Cody sangat ahli membuat orang tertidur dengan sihir, itulah yang dia lakukan. Setelah menemukan tempat yang dirasakan ada hawa keberadaan penyihir hebat, Erlend mendobrak pintu kamar tersebut, lalu berteriak memanggil, “LAURA!” Terlihat di dalam kamar, Laura masih tergeletak di atas karpet lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri. Tampaknya para pemburu masih belum menggali informasi apapun dari gadis tersebut. Terbukti, Laura terlihat masih seperti saat baru keluar dari kamarnya di kediaman Hades. Cody pun juga tahu tidak ada guna-guna yang ditanamkan pada diri Laura sehingga dia menyimpulkan bahwa para pemburu masih belum mengetahui bagaimana cara membangkitkan sisi penyihir dari Laura. Erlend mendekati Laura, lalu memeriksa kondisi kesadaran gadis itu. “Laura? Laura? Kau tidak apa-apa? Buka matamu.” Setelah merasa Laura masih hidup dan bernapas, dia mulai lega. “Laura—« “Kita harus segera membawanya pergi dari sini selama mereka masih menyibukkan para pemburu itu. Aku merasakan kekuatan besar kemari,” kata Cody melihat ke setiap dinding putih yang ada di sekitar mereka. Dia bisa mendengar ada getaran di sekitar— ada hawa suci yang sangat kuat juga mendekat. “Aku juga merasakannya.” Erlend kemudian menggendong Laura di depan. Lalu, bersiul seperti biasa. Kemanapun dia berada, di beda dimensi sekalipun, kendaraannya akan selalu hadir tepat waktu. Suara ringkikan kuda terdengar. Tak punya waktu lagi, Erlend mendekati salah satu tembok, lalu menendangnya sekuat tenaga sampai hancur. Dia keluar dari tempat ini melalui lubang tersebut. Iya, tembok itu langsung mengarah ke samping bangunan yang sangat rimbun dan penuh pepohonan. Banyak mayat para pemburu dan penyihir yang tampak bergelimpangan di atas tanah. Pertempuran mulai di pusatkan di depan markas. Cody berkata, “aku akan memperingatkan mereka semua. Kami akan kabur bersama, kau dan Laura sebaiknya pergi saja dahulu.” “Iya. Hati-hati.” Erlend melihat Cody. Pertama kalinya dia mengatakan hal yang bermakna mencemaskan seseorang. Dia merasa kalau Cody memnag bertujuan baik, maka dari itu dia mulai mengkhawatirkannya. Setelah berpisah, Erlend dan Laura menaiki kereta kuda tersebut, kemudian masuk ke dalam hutan dalam hitungan detik. Erlend sengaja memilih rute yang berbeda dari hawa keberadaan mantera suci. Dia tidak memiliki keinginan bertarung sekarang karena kondisi Laura belum stabil dan tidak jelas. Padahal biasanya pemuda ini akan selalu berada di garis depan, takkan meninggalkan pertempuran sekalipun ada orang kuat yang datang. Dia tidak pernah merasakan takut. Sayangnya, saat ini entah mengapa dia merasakan takut dan gelisah. Gadis yang pernah dia cium ini masih tak mau membuka matanya. Apakah efek guna-gunanya masih ada? Ataukah ini hanya efek sihir atau sesuatu yang dilakukan oleh para pemburu penyihir dalam menculik Laura? Sepanjang perjalanan, Erlend diliputi kecemasan hingga pada akhirnya berhasil keluar dari hutan misterius itu. Bersama kereta kudanya, dia melenggang bebas di jalanan pinggir kota ini yang memang tidak ramai, tapi tetap ada warga yang berlalu lalang di sekitar area pertokoan. Anehnya, tak satupun orang yang melihat keberadaan kereta tersebut. Iya, itu karena memang kendaraan dewa dunia bawah memang sangat istimewa. Erlend sudah memanterai agar tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Orang yang bisa melihatnya hanyalah penyihir, mereka yang akan mati, reaper, dewa lain, dan beberapa iblis yang memang kuat. Jadi, tidak heran kalau sebagian orang terlihat menoleh ketika kereta lewat. Hal itu karena mereka melihatnya, tapi pura-pura untuk tidak melihat. Dunia dewa memang dunia yang sangat dijauhi oleh penyihir. Mereka lebih baik menghindari pertikaian dengan dewa. Tapi, iblis selalu tertarik pada dewa, walaupun hingga sekarang tidak ada yang berani memulai pertempuran. Sebagian lagi ada burung gagak yang jelas adalah reaper suruhan Dewa Thanatos tampak berterbangan di atas langit. Mereka dengan setia mengikuti kemanapun kereta kuda dewa membawa Erlend dan Laura. Semuanya memang hanya diperintahkan untuk mengawasi mereka berdua. Erlend sempat mendongak. Langit yang tadinya cerah mendadak kelabu lagi. Fenomena alam yang tidak jelas ini semakin membuatnya bingung. Tapi, yang pasti dia tahu kalau para burung gagak yang mengikutinya tidak ada yang memiliki niat buruk. “Thanatos—” Erlend melihat para reaper yang melihatnya dari mata-mata para burung gagak. “Kenapa kau tidak mengunjungiku?” Suara Erlend lirih, memang tidak untuk didengarkan siapapun, kecuali Thanatos. Iya, dewa kematian ini bisa mendengarnya dengan jelas, sekalipun saat ini dewa yang berperawakan seperti pria paruh baya berambut hitam ini masih duduk di kursi singgasana ruang tahta. Pria ini tampak menghela napas panjang, lalu berdiri serta melihat keluar jendela tinggi yang hampir mengintari seluruh ruangan. “Iya, aku akan berkunjung,” katanya sembari berjalan menuju keluar ruangan tersebut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN