POV SADEWA Restoran itu terlalu mewah untuk orang dari kalangan keluarga sederhana sepertiku. Lampu gantung kristal menjuntai dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya hangat ke dinding marmer. Musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan, bercampur aroma anggur dan steak panggang yang menggoda. Aku bahkan refleks melirik ke bawah, untuk memastikan sepatuku bersih, karena lantainya mengilap seperti kaca. “Sel, kita beneran makan di sini?” tanyaku pelan. Selina, yang berdiri di sebelahku tersenyum bangga. “Iya dong! Tempat ini adalah restoran yang paling romantis yang ada di kota ini. Kan waktu di depan stasiun aku udah bilang ke Mas kalau aku udah reservasi tempat.” “Aku nggak nyangka kalau kamu reservasi di tempat super mewah seperti ini, Sel.” Aku menghela napas panjang. "Jujur

