"Ran, nanti malam kita kirim tahlil buat Bintara, ya? Kita undang bapak-bapak komplek," ucap Erna. Maharani menyipitkan mata. Saat ini, dua wanita itu sedang berada di kamar Bintara. Aroma dan kenangan Bintara yang tersimpan di setiap sudut kamar itu, setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa rindu di hati keduanya. "Ma ... Mama yakin?" tanya Maharani ragu. Erna yang mengerti maksud dari Maharani itu mengangguk. "Bukannya Mama pesimis, tapi kamu sendiri pasti paham dengan kondisi yang terjadi. Mama juga sangat berharap Bintara masih hidup, tapi tetap saja kita harus melihat kenyataan." Erna menjeda ucapannya. Pandangannya lurus ke depan, tak ada yang menarik perhatiannya, dia hanya membayangkan sosok Bintara di sana. "Kita buat acara tahlil untuk dia. Jika dia memang masih hidup, sem

