Suasana di dalam mobil sedan mewah itu terasa jauh lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang berembus pelan. Kalandra duduk di kursi kemudi, mencengkeram setir dengan jemari yang memutih, matanya lurus menatap jalanan Jakarta yang mulai lengang. Elara menyandarkan punggung pada kursi kulit yang kaku, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar memburu di tengah keheningan mencekam. Aroma parfum Kalandra yang tajam biasanya memberikan rasa aman, malam ini wangi itu justru terasa seperti jerat yang mencekik lehernya. Setiap lampu jalan yang mereka lewati memberikan kilasan cahaya pada wajah Kalandra yang mengeras seperti pahatan batu. Elara bisa merasakan amarah yang tertahan di balik rahang tunangannya yang terkatup rapat sejak mereka meninggalkan kediaman Maheswari. Ia tidak bera

