“Ini kunci mobil, Tuan.” Budi menyerahkan kunci dengan kedua tangan, wajahnya penuh hormat. “Terima kasih banyak, Pak Budi. Sekali lagi maaf sudah merepotkan,” ucap Saka sambil menerima kunci itu dengan sopan. Budi menggeleng ringan, senyumnya hangat. “Tidak merepotkan sama sekali, Tuan. Saya justru senang bisa membantu setiap kali Tuan ada di rumah danau.” Saka ikut tersenyum tipis. “Saya akan segera pulang. Kalau nanti saya ke sini lagi, saya akan mengabari Pak Budi.” “Baik, Tuan.” Budi mengangguk mantap, tetap dengan senyum yang tulus. Saka kemudian menoleh ke arah sofa. Di sana Nadia duduk diam, tangannya bertaut di pangkuan. “Jes, aku ke toilet sebentar ya. Setelah itu kita langsung pulang,” katanya sambil melangkah ringan. Nadia hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Saka pun be

