Hanya Dua Kali

1878 Kata

Tanpa menoleh ke arah Saka, Nadia menjawab panggilan itu dengan suara terbata, “Ha… halo?” Nada bicaranya terdengar bergetar, seakan baru saja melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Suara dari seberang terdengar jelas—Rani. “Nyonya, Nyonya ada di mana? Bibi khawatir pada Nyonya yang belum pulang sampai sekarang, padahal Nyonya mengatakan tadi pagi kalau Nyonya hanya pergi sebentar…” Nadia menelan ludah, berusaha menstabilkan napasnya. Jantungnya masih berdegup kencang. “Aku baik-baik saja, Bi,” jawabnya cepat, tanpa sempat memikirkan nada suaranya yang terdengar janggal. Ia melirik sekilas ke arah Saka. Pria itu kini duduk tegak, mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi kikuk. Tatapan mereka sempat beradu sepersekian detik, namun Nadia buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya semakin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN