“Jadi… kau melakukan itu semua?” tanya Nadia perlahan, suaranya hampir berbisik. Ia menatap pria di hadapannya dengan pandangan tak percaya. “Ya, aku melakukan semua itu,” jawab Saka tenang, senyum tipis muncul di wajahnya seolah semua yang ia ceritakan tadi bukan sesuatu yang besar. Tangannya dengan santai mengangkat cangkir kopi, menyesap sedikit, lalu menaruhnya kembali dengan elegan. Nadia menghela napas panjang, menatap cangkir tehnya yang sudah mulai dingin. “Aku senang karena akhirnya aku bercerai darinya,” katanya lirih, “tapi aku juga takut.” “Takut?” ulang Saka, dahinya sedikit berkerut. “Apa yang dia katakan padamu sampai kau takut seperti itu?” Nadia menggeleng pelan, bibirnya menipis. “Dia tidak mengatakan apa pun, tapi aku takut, Saka.” Nadanya mulai bergetar halus. “Tapi

