Theodor memasuki rumah dengan langkah cepat, suara sepatunya beradu keras dengan lantai marmer, menandakan betapa tidak sabarnya ia. Beberapa pelayan yang dilewatinya langsung menundukkan kepala, menunjukkan sikap hormat, namun Theodor terus berjalan, mengacuhkan mereka semua. Begitu melewati ruang tengah, tanpa menoleh sedikit pun, ia langsung bersuara lantang, “Jessica!” Suaranya menggema ke seluruh ruangan, membuat suasana yang sebelumnya tenang berubah jadi tegang. Rani, yang sedang menata vas bunga di atas meja tersentak mendengar panggilan itu. Wajahnya langsung memucat, karena sudah lama ia tahu—setiap kali Theodor memanggil nyonya-nya dengan nada seperti itu, biasanya akan ada pertengkaran besar yang terjadi. Dengan langkah cepat, Rani menghampiri Theodor. “Ada apa, Tuan? Kena

